Ketika yang Paling Lantang Bukan yang Paling Paham: Wabah Percaya Diri Semu di Ruang Digital Kita
“Akar persoalan dunia modern adalah orang bodoh begitu yakin pada dirinya, sementara orang cerdas justru penuh keraguan.”
Kalimat itu ditulis filsuf Inggris Bertrand Russell pada tahun 1933 dalam esainya The Triumph of Stupidity, jauh sebelum manusia mengenal linimasa, tombol bagikan, dan kolom komentar.
Hampir seabad kemudian, kalimat itu terasa seperti ramalan yang menemukan panggungnya: media sosial.
Enam puluh enam tahun setelah Russell menulis, dua psikolog Amerika, Justin Kruger dan David Dunning, memberi nama ilmiah pada gejala itu.
Melalui penelitian yang terbit tahun 1999 berjudul Unskilled and Unaware of It, keduanya menguji kemampuan logika, tata bahasa, dan kepekaan sosial para mahasiswa Cornell. Hasilnya mengejutkan sekaligus menyedihkan: mereka yang nilainya paling rendah justru paling percaya diri menilai kemampuannya tinggi.
Ketidakmampuan itu, tulis mereka, merampas dua hal sekaligus, yaitu kemampuan untuk benar dan kemampuan untuk menyadari bahwa dirinya keliru. Berbagai kajian lanjutan menegaskan bahwa orang yang paling minim keterampilan justru paling meleset menilai dirinya sendiri, dan gejala ini terbukti muncul di dunia bisnis, kedokteran, hingga politik.
Sejak itu, dunia mengenalnya sebagai efek Dunning-Kruger: rasa percaya diri yang membuncah justru pada mereka yang paling sedikit tahu.
Di Indonesia, gejala ini menemukan lahan yang amat subur. Data APJII mencatat pengguna internet kita menembus 229,4 juta jiwa pada 2025, atau 80,66 persen dari seluruh penduduk, dengan TikTok sebagai aplikasi terpopuler yang diakses 35,17 persen pengguna.
Sayangnya, lompatan akses itu belum diiringi lompatan kearifan. Indeks literasi digital nasional masih bertahan di kategori sedang, sementara Indeks Masyarakat Digital Indonesia 2025 baru mencapai skor 44,53 dari 100.
Artinya, ratusan juta jempol siap berkomentar, tetapi kemampuan menyaring dan menimbang informasi masih tertatih. Di sinilah efek Dunning-Kruger bekerja diam-diam: seseorang menonton satu video tiga menit tentang vaksin, ekonomi, atau geopolitik, lalu merasa cukup bekal untuk menggurui jutaan orang.
Buahnya pahit. Kementerian Komunikasi dan Digital mengidentifikasi 1.890 konten hoaks hanya dalam kurun setahun terakhir, dan menindak lebih dari 3,38 juta konten negatif di ruang digital.
Dari ribuan hoaks itu, kategori penipuan menempati urutan teratas dengan 589 kasus, disusul isu pemerintahan 341 kasus.
Setiap angka itu bukan sekadar statistik.
Di baliknya, seorang ibu kehilangan tabungan karena percaya investasi bodong yang dipromosikan akun meyakinkan. Seorang kakek menolak berobat karena termakan video kesehatan palsu. Sebuah keluarga terpecah karena beda pilihan politik yang dibakar narasi kebencian.
Tantangan ke depan kian berat karena badai ini datang bersamaan dengan mendung ekonomi. IMF memproyeksikan ekonomi dunia hanya tumbuh 3 persen pada 2026, melambat akibat konflik geopolitik dan ketidakpastian dagang, sementara Indonesia diperkirakan tumbuh sekitar 5 persen.
Bahkan Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan Indonesia menjadi 4,7 persen dalam laporan terbarunya. Ketika lapangan kerja menyempit dan harga kebutuhan merangkak, masyarakat yang cemas menjadi sasaran empuk bagi mereka yang menjual kepastian palsu: “pakar” investasi dadakan, peramal krisis, hingga penjaja skema cepat kaya. Kecemasan ekonomi dan percaya diri semu adalah pasangan paling berbahaya di ruang digital.
Di tengah lanskap itu berdirilah dua sosok yang kini ikut menentukan arah opini publik: influencer dan buzzer.
Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah influencer terbanyak kelima di dunia, sekitar 863 ribu orang, di tengah industri pemasaran influencer global yang nilainya diproyeksikan mencapai 32,55 miliar dolar AS pada 2025.
Riset impact.com dan Cube bahkan menemukan 76 persen konsumen Indonesia berbelanja karena pengaruh influencer, angka tertinggi di Asia Tenggara. Kekuatan sebesar itu adalah pedang bermata dua.
Banyak influencer tulus berbagi ilmu sesuai keahliannya, dan mereka layak diapresiasi. Namun tidak sedikit yang tergoda melompat pagar: bicara soal obat tanpa latar kedokteran, soal saham tanpa memahami risiko, soal hukum tanpa pernah membuka kitab undang-undang.
Pengikut yang jutaan sering disalahartikan sebagai keahlian, padahal popularitas dan kompetensi adalah dua hal yang berbeda. Lebih kelam lagi adalah buzzer, pasukan siar bayaran yang sengaja memperkeruh air.
Jika influencer keliru karena tidak sadar batas ilmunya, buzzer justru sadar sepenuhnya dan tetap menyebarkan bias demi bayaran. Keduanya, dengan cara berbeda, menyuburkan efek Dunning-Kruger secara massal: publik dibanjiri suara paling nyaring, bukan suara paling paham.
Lalu apa jalan keluarnya bagi Indonesia?
Pertama, literasi digital harus naik kelas dari sekadar kemampuan memakai gawai menjadi kerendahan hati intelektual, yaitu keberanian berkata “saya belum tahu” sebelum berkomentar.
Kurikulum sekolah dan program pemerintah perlu melatih anak muda memeriksa sumber, mengenali batas pengetahuannya, dan menghargai keraguan sebagai tanda kedewasaan berpikir.
Kedua, para influencer perlu didorong, lewat kode etik asosiasi kreator maupun regulasi keterbukaan iklan, untuk jujur menandai konten berbayar dan menahan diri bicara di luar bidangnya.
Ketiga, ruang bagi para ahli sesungguhnya harus diperluas: dokter, ekonom, guru, dan ilmuwan perlu difasilitasi serta dilatih berkomunikasi sederhana dan hangat agar suara mereka tidak kalah nyaring dari suara yang keliru.
Keempat, penegakan hukum terhadap jaringan buzzer penyebar hoaks mesti tegas namun tetap menjaga kebebasan berekspresi, sebagaimana prinsip yang dipegang pemerintah dalam moderasi konten.
Dan kelima, yang paling sederhana sekaligus paling sulit: kita semua perlu membiasakan jeda. Sebelum membagikan, bertanya dulu: benarkah ini, siapa sumbernya, dan pahamkah saya sepenuhnya?
Harapan itu nyata dan pantas kita rawat. Bangsa yang mampu membangun 229 juta jembatan digital tentu mampu pula membangun jembatan nalar. Setiap kali seorang anak muda memilih memeriksa fakta sebelum menekan tombol bagikan, setiap kali seorang kreator jujur mengakui batas ilmunya, di situlah peradaban digital kita bertumbuh setapak lebih tinggi.
Empat abad silam, William Shakespeare telah menuliskan penawar racun ini lewat lakon As You Like It: “The fool doth think he is wise, but the wise man knows himself to be a fool”, si bodoh mengira dirinya bijak, sedangkan orang bijak tahu bahwa dirinya bisa keliru.
Semoga di ruang digital Indonesia, semakin banyak yang memilih menjadi bijak: tidak berhenti bersuara, tetapi bersuara dengan rendah hati.