Catatan Dari Hati

FLASH FICTION : SEPERTI JANJIMU

Seperti Janjimu

Kita akan bertemu pada suatu tempat, seperti biasa, tanpa seorang pun yang tahu, bahkan suamimu sekalipun. Kita akan melepas rindu satu sama lain dan bercerita tentang banyak hal. Apa saja. Termasuk kelucuan Dita anakmu yang tak henti-hentinya membuatmu kewalahan pada aksi kocaknya yang atraktif. Kita akan tertawa lepas dan menganggap berkah hidup yang kita alami, sejatinya memang untuk kita. Bukan milik siapapun.

Seperti Janjimu

Kita akan selalu mengisahkan segenap perasaan dan keresahan yang kita alami pada kehidupan kita masing-masing. Kita berbagi beban dan menumbuhkan simpati satu sama lain. Tanpa Jarak.

Seperti Janjimu

Kebersamaan yang kita miliki tak terlerai. Tak terpisahkan hingga kapanpun.Siapapun tak bisa mencegahnya.

Bahkan suamimu dan suamiku sekalipun ! 

Related Posts
Flash Fiction : Kursi Kosong
Di kafe tempat biasa mereka duduk, Arga memesan dua kopi. Seperti dulu. "Yang satu buat siapa?" tanya barista keheranan. "Kenangan," jawab Arga singkat, lalu duduk di kursi sudut. Kursi di depannya kosong, seperti sudah ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: TAKDIR TAK TERLERAI
Hening. Sunyi. Di ujung telepon aku hanya mendengar helaan nafasnya yang berat. "Jadi beneran mbak tidak marah?", terdengar suara adikku bergetar. "Lho, kenapa harus marah?", sergahku gusar "Karena Titin melangkahi mbak, menikah lebih dulu,"sahutnya ...
Posting Terkait
FLASH FICTION : DALAM PENANTIAN
Baginya menanti adalah niscaya. Karena hidup itu sendiri adalah bagian dari sebuah proses menunggu. Begitu asumsi yang terbangun pada benak wanita yang berdiri tegak kaku di pinggir pantai dengan rambut tergerai ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: SETAN KREDIT
Aku menyeringai puas. Bangga. Sebagai Debt Collector yang disegani dan ditakuti, membuat debitur bertekuk lutut tanpa daya dan akhirnya terpaksa membayar utangnya merupakan sebuah prestasi tersendiri buatku. Sang debitur, lelaki tua dengan ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: PELET
Hancur!. Hatiku betul-betul hancur kali ini. Berantakan! Semua anganku untuk bersanding dengannya, gadis cantik tetanggaku yang menjadi bunga tidurku dari malam ke malam, lenyap tak bersisa. Semua gara-gara pelet itu. Aku ingat bulan ...
Posting Terkait
Flash Fiction : Jendela yang Selalu Terbuka
Setiap malam, Randy duduk di jendela rumahnya, menatap jalan. Ibunya bilang itu kebiasaan bodoh—menunggu orang yang tak akan kembali. Ayahnya pergi tujuh bulan lalu. Bukan karena perang atau kecelakaan, tapi karena kelelahan. ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: HATI-HATI DI JALAN
Menjelang berpisah, perempuan itu, yang sudah memiliki hatiku sepenuhnya, tersenyum samar. Pandangannya tajam namun mesra. "Kamu tetap sayang aku kan'?", tanyanya manja. Disentuhnya daguku pelan. Aku tersenyum. "Jawab dong, jangan hanya senyum doang",rengeknya. "Tentu ...
Posting Terkait
Flash Fiction: Dalam Diam, Aku Merindumu
Nada berjalan menyusuri jalan setapak di belakang rumah. Tempat itu saksi diam hubungan mereka. Dulu, tangan Reno selalu menggenggam tangannya, membisikkan rencana masa depan. Kini, yang tersisa hanya desau angin ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: BUKAN JODOH
Berkali kali lelaki itu merutuki kebodohannya. Mengabaikan perasaannya paling dalam kepada perempuan sederhana namun rupawan yang dia sukai, hanya demi harga diri sebagai lelaki kaya, tampan dan terkenal--lalu kemudian, ketika semua ...
Posting Terkait
FLASH FICTION : BALADA SI KUCING BUTUT
Dari balik jendela yang buram aku menyaksikan sosoknya menari riang diiringi lagu hip-hop yang menghentak dari CD Player dikamar. Poni rambutnya bergoyang-goyang lucu dan mulutnya bersenandung riang mengikuti irama lagu. ...
Posting Terkait
FLASH FICTION : ROBOT
Seperti yang pernah saya lakukan diblog lama, saya akan menayangkan karya flash-fiction saya diblog ini secara teratur, paling tidak minimal 2 minggu sekali. Contoh koleksi flash-fiction lama saya bisa anda lihat ...
Posting Terkait
Flash Fiction : Kursi Sebelah Kanan
Restoran itu masih sama. Dinding bata merah, lampu gantung kuning redup, dan pelayan tua yang hafal pesanannya—nasi goreng pedas tanpa kecap. Tapi ada yang tak lagi sama: kursi sebelah kanan kosong. Dulu, ...
Posting Terkait
FLASH FICTION : TAHI LALAT RANO KARNO
Istriku uring-uringan dan mendadak membenciku dua hari terakhir ini. "Aku benci tahi lalatmu. Tahi lalat Rano Karnomu itu!" cetusnya kesal. "Pokoknya, jangan dekat-dekat! Aku benciii! Benciii! Pergi sanaa!", serunya lagi, lebih galak. Aku ...
Posting Terkait
Flash Fiction: Mas Kawin
Seusai resepsi yang riuh, rumah kontrakan kecil itu sunyi. Nadira menatap kotak kayu di pangkuannya—mas kawin dari Reza: satu buku tulis, berisi 30 halaman tulisan tangan. “Aku tahu kamu nggak suka ...
Posting Terkait
FLASH FICTION: AYAHKU, IDOLAKU
Bangga rasanya menjadi anak seorang dukun terkenal di seantero kota. Dengan segala kharisma dan karunia yang dimilikinya, ayah memiliki segalanya: rumah mewah, mobil mentereng dan tentu saja uang berlimpah hasil ...
Posting Terkait
BERPACULAH ! MENGGAPAI KEMENANGAN !
Keterangan foto: Menggigit Buntut, karya Andy Surya Laksana, Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia elaki itu menatap nanar dua sapi yang berada di hadapannya. Matahari siang menjelang petang terik membakar arena pertandingan. ...
Posting Terkait
Flash Fiction : Kursi Kosong
FLASH FICTION: TAKDIR TAK TERLERAI
FLASH FICTION : DALAM PENANTIAN
FLASH FICTION: SETAN KREDIT
FLASH FICTION: PELET
Flash Fiction : Jendela yang Selalu Terbuka
FLASH FICTION: HATI-HATI DI JALAN
Flash Fiction: Dalam Diam, Aku Merindumu
FLASH FICTION: BUKAN JODOH
FLASH FICTION : BALADA SI KUCING BUTUT
FLASH FICTION : ROBOT
Flash Fiction : Kursi Sebelah Kanan
FLASH FICTION : TAHI LALAT RANO KARNO
Flash Fiction: Mas Kawin
FLASH FICTION: AYAHKU, IDOLAKU
BERPACULAH ! MENGGAPAI KEMENANGAN !

5 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *