Catatan Dari Hati

NARSIS (15) : JARAK RINDU

Pada akhirnya, katamu, cinta akan berhenti pada sebuah titik stagnan. Diam. Walau semua semesta bersekutu menggerakkannya. Sekuat mungkin. Cinta akan beredar pada tepian takdirnya. Pada sesuatu yang telah begitu kuat menautkan segalanya dalam harmoni di bentangan lanskap tak bertepi. Pada tempat ia berada seharusnya, sebagaimana mestinya.

Dan seperti inilah, ucapmu lagi, yang terjadi padaku. Karena kamu. Menghentikan waktu dengan pesonamu. Menghalau galau dengan aura yang penuh daya pukau. Kamu lalu menatapku lekat. Telaga jernih di bola matamu menenggelamku seketika dalam sensasi yang tak terkatakan.

Aku tersenyum rikuh.

Kadang-kadang kamu terlalu mendramatisir sesuatu. Terlebih segala hal yang terkait dengan diriku. Tapi tak apa. Aku suka itu. Kepolosanmu. Kejujuranmu. Kelugasanmu memaknai hubungan kita selama ini.

Di Hongkong International Airport saat melepasku pulang kamu berbicara tentang jarak rindu. Sebuah definisi yang menurutmu adalah ketika rindu menjadi luluh sepanjang bentangan ruang dan waktu sesaat setelah perpisahan yang menyesakkan terjadi.

Dimana serpihannya menjadi jejak cahaya yang terpatri indah di larik bianglala. Menjadi “kompas” untuk menunjukkan jalan pulang. Menujumu.

Dan jaraknya menjadi tak berarti ketika rindu mengiris nurani. Tiap sayat luka yang terjadi adalah bagian dari kenikmatan mengenangmu. Mengingat segala yang indah dan pernah terjadi bersamamu. Memahami bahwa, pertemuan kembali bersamamu, disuatu saat, entah kapan, adalah niscaya.

Aku menggigit bibir. Kata-katamu persis seperti yang pernah kamu ungkapkan kepadaku dua tahun silam. Impianmu menjadi kenyataan pada akhirnya, meski tak lama.

Saat menyeruput teh di cafe tak jauh dari gerbang keberangkatan pesawatku, kamu terlihat mencoba mengulur lebih lama pertemuan singkat kita. Aroma khas teh yang lembut, kamu hirup pelan lalu meminumnya dengan “takzim”. Anggun. Juga mengesankan.

“Kamu menyesali pertemuan kita kali ini?” tanyaku hati-hati.

Suara hiruk pikuk penumpang lalu lalang sepanjang selasar terminal, derit suara roda koper yang ditarik, pengumuman keberangkatan yang bergema lantang, seakan menelan suaraku. Tapi kamu paham. Seperti bisa membaca gerak bibirku.

“Tak ada yang harus disesali, saat jarak rindu itu kita bentangkan kembali. Seperti dulu. Menjelang kita berpisah, di kota kecil kita,”sahutmu parau.

Kamu lalu membuka tas dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Aku mendadak bisa mengenalinya dari tempatku duduk. Tulisan tanganku sendiri. Surat yang kuberikan padanya sebelum berangkat ke  Hongkong,

“Aku masih menyimpan ini, surat dan puisimu yang selalu kubaca. Bahkan sudah hapal di tiap baitnya,” katamu sembari mengangsurkan surat itu padaku. Aku lalu membacanya kembali. Meresapi maknanya, yang menohok, hingga ke ulu hati.

Senyap yang menggantung pada kelam kota kecil kita

Adalah desah nafas rindu yang kita tiupkan perlahan

pada langit, bulan separuh purnama, rerumputan pekarangan dan

desir angin yang mengalir lembut menerpa

pipimu yang telah basah oleh airmata

“Kesepian yang menyesakkan, ” katamu pilu.

Jawaban atas segala pertanyaanmu tak jua ditemukan

bagaikan kumbang merahasiakan makna dengungnya pada putik bunga,

Semua yang ada tak akan menjelaskan apapun

termasuk kehadiran kita di kota ini

tempat kita menganyam angan dan harapan

Kenangan itu akan kita kekalkan, mengukirnya di jagad hati dan

merangkai segala impian absurd seraya mengucap lirih namamu, namaku,

Dalam keheningan yang menikam

Di Kota kecil kita..

Ah aku ingat, surat itu kuserahkan padanya sesaat sebelum ia memasuki gerbang kereta yang akan membawanya ke Jakarta dari kota kecil kami.

“Jaga dirimu baik-baik, baca surat ini sesampainya kamu disana ya?,” kataku penuh rasa haru yang menyesak dada. Kamu hanya mengangguk pelan. Kristal-kristal bening mengalir melalui tebing pipimu. Aku lalu menyeka air matamu dengan punggung tangan.

“Tersenyumlah, masa depan menantimu disana,” ucapku dengan suara serak.

Pengumuman keberangkatan pesawatku membuyarkan lamunan. Sebentar lagi aku akan boarding.

“Saatnya yang kubenci ini akhirnya tiba,”keluhmu datar.

Aku lalu bangkit dan memeluknya erat-erat.

“Selamat tinggal, take care ya ?” ucapku

“Aku akan meniti jarak rindu kita, sesaat setelah kau berangkat,” katamu pilu.

Aku mengangguk pelan. “Ya, aku juga”.

Aku memeluknya kembali lebih erat. Dan lirih kudengar ditelingaku, kau membisikkan, “Sampaikan salamku pada istrimu ya?”

Catatan:

1. Narsis adalah singkatan dari Narasi Romantis dan kumpulan kisah Narsis saya sudah dibukukan melalui www.nulisbuku.com serta bisa anda pesan dengan prosedur yang saya uraikan disini

2. Foto-foto Bandara Hongkong International Airport diambil dari koleksi Foto Mas Priyadi. Thanks ya mas, fotonya keren!

 

 

 

 

Related Posts
Narsis : Senja di Pelabuhan Lama
ujan gerimis membasahi dermaga tua itu, seperti air mata langit yang tak kunjung berhenti. Ardi berdiri di ujung pelabuhan, menatap kapal-kapal yang berlabuh dengan tatapan kosong. Angin laut membawa aroma ...
Posting Terkait
NARSIS (3) : PEREMPUAN YANG MENGHILANG DI BALIK HUJAN
Lelaki itu menghirup cappuccinonya. Menyesap segala rasa yang menyertai dengan perih menusuk dada. Ia lalu melirik jam tangannya. Sudah 2 jam lebih dia di Cafe tersebut. Sambil menghela nafas panjang ia melihat ...
Posting Terkait
(Narsis) : Rembulan di Atas Pohon Randu
Malam turun dengan perlahan, seperti seseorang yang tak ingin membangunkan kenangan lama. Di tepi sawah yang mulai menguning, Saka berdiri memandangi langit. Rembulan menggantung sendu di atas pohon randu tua : pohon ...
Posting Terkait
NARSIS : Ketika Sally Memilih Sendiri
Hujan November selalu membawa kenangan. Sally berdiri di tepi jendela apartemennya yang kecil, memandang kota yang berkilauan basah di bawah lampu-lampu jalan. Lima tahun sudah berlalu, tapi kadang rasanya seperti ...
Posting Terkait
NARSIS: Diantara Dua Dunia
Langit senja menggantung lesu di atas kota yang mulai lelah. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, membentuk jejak cahaya yang samar. Di bawahnya, seorang pemuda berjaket lusuh berdiri diam di ...
Posting Terkait
NARSIS (1) : MENYAPAMU DI RUANG RINDU
Pengantar : Setelah Saberin (Kisah Bersambung Interaktif) saya mencoba sebuah ekspresimen penulisan lagi yang saya beri nama Narsis atau Narasi Romantis. Tulisan Narsis berupa rangkaian prosa puitis pendek dan (diharapkan) akan ...
Posting Terkait
NARSIS (9) : UNTUK PEREMPUAN BERMAHLIGAI REMBULAN
Hai Perempuan Bermahligai Rembulan, Apa kabarmu? Cuaca di awal bulan Oktober ini sungguh sangat tak terduga. Seharusnya--menurut ramalan meteorologi-- hujan akan turun membasahi bumi, dan awal bencana banjir akan tiba. Tapi ternyata ...
Posting Terkait
NARSIS (14) : RAHASIA KEPEDIHAN
Sebagaimana setiap cinta dimaknai, seperti itu pula dia, dengan segala pesona yang ia punya menandai setiap serpih luka jiwanya sebagai pelajaran gemilang. Bukan kutukan. Apalagi hukuman. Perih yang ada di ...
Posting Terkait
(Narsis) Sepenggal Lagu di Stasiun Tua
tasiun kereta itu hampir kosong ketika Dimas duduk di bangku kayu yang cat birunya sudah mengelupas. Pukul sebelas malam, hanya lampu kuning redup yang menemaninya. Gitar tua dalam tas punggungnya ...
Posting Terkait
(Narsis) Di Titik yang Tak Kembali
Andi selalu percaya bahwa waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan. Ia berjalan maju tanpa menoleh, tanpa peduli siapa yang tertinggal. Namun sore itu, ketika langit berwarna jingga muda dan ...
Posting Terkait
NARSIS (2) : BINTANG DI LANGIT HATI
Konon, katamu, secara zodiak kita berjodoh. Aku berbintang Aries, Kamu Sagitarius. Persis seperti nama depan kita : Aku Aries dan Kamu Sagita. Cocok. Klop. Pas. Kamu lalu mengajukan sejumlah teori-teori ilmu astrologi yang konon ...
Posting Terkait
(Narsis) Melodi Di Ujung Senja
Hujan gerimis membasahi kota tua itu saat Arman memarkir mobilnya di depan kedai kopi langganannya. Sudah lima belas tahun ia tidak kembali ke tempat ini , kota kecil tempat ia pernah menemukan ...
Posting Terkait
NARSIS (13) : ASMARA, SUATU KETIKA..
Jakarta, 2030, sebuah teras café Lelaki tua itu tersenyum samar. Dipandangnya perempuan seusia dengannya yang duduk tepat dihadapannya dengan tatap takjub. “Kamu tak banyak berubah, walau umur telah menggerogoti tubuh kita. Kamu ...
Posting Terkait
NARSIS (4) : M.F.E.O
M.F.E.O 4 huruf tersebut selalu tertera di akhir email lelaki itu. Juga ketika mereka mengakhiri percakapan chatting didunia maya. Made For Each Other, bisik lirih perempuan hening malam sembari menyunggingkan senyum. Matanya menerawang menatap ...
Posting Terkait
(Narsis) Pergi Tanpa Benci, Pulang Tanpa Janji
Di ujung senja yang menguning, aku berdiri di peron kecil stasiun yang tak pernah benar-benar ramai. Angin mengusik rambutku, seperti ingin menahan langkah yang sejak tadi kupaksa agar tak goyah. Di ...
Posting Terkait
(Narsis) : Bunga yang Tak Pernah Layu
i sebuah kota kecil yang selalu diselimuti embun pagi, tinggal seorang gadis bernama Aluna. Ia dikenal ramah, namun sejak beberapa bulan terakhir, langkahnya terasa berat. Orang-orang menduga ia hanya lelah. Mereka ...
Posting Terkait
Narsis : Senja di Pelabuhan Lama
NARSIS (3) : PEREMPUAN YANG MENGHILANG DI BALIK
(Narsis) : Rembulan di Atas Pohon Randu
NARSIS : Ketika Sally Memilih Sendiri
NARSIS: Diantara Dua Dunia
NARSIS (1) : MENYAPAMU DI RUANG RINDU
Protected: NARSIS (9) : UNTUK PEREMPUAN BERMAHLIGAI REMBULAN
NARSIS (14) : RAHASIA KEPEDIHAN
(Narsis) Sepenggal Lagu di Stasiun Tua
(Narsis) Di Titik yang Tak Kembali
NARSIS (2) : BINTANG DI LANGIT HATI
(Narsis) Melodi Di Ujung Senja
NARSIS (13) : ASMARA, SUATU KETIKA..
NARSIS (4) : M.F.E.O
(Narsis) Pergi Tanpa Benci, Pulang Tanpa Janji
(Narsis) : Bunga yang Tak Pernah Layu

4 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *