Catatan Dari Hati

Mencintai Bayangan: Fenomena Hubungan Satu Arah di Dunia Maya

Pagi itu, Sinta berusia 22 tahun, terbangun dan hal pertama yang dilakukannya adalah membuka ponsel. Bukan untuk melihat pesan dari keluarga atau sahabatnya, melainkan untuk mengecek unggahan terbaru dari seorang influencer yang ia ikuti setiap hari. Ia tahu segala hal tentang sosok itu: mulai dari makanan kesukaannya, kebiasaan paginya, hingga kisah cintanya yang rumit.

Ia merasa mengenal sosok itu begitu dekat, seakan mereka adalah teman lama yang sudah bertahun-tahun mengenal satu sama lain. Padahal, sosok di layar itu bahkan tidak tahu Sinta ada.

Inilah realitas hubungan parasosial, sebuah fenomena yang kini menyelimuti kehidupan jutaan orang di Indonesia dan seluruh dunia. Hubungan satu arah ini tercipta ketika seseorang merasa memiliki ikatan emosional yang mendalam dengan figur publik, selebriti, influencer, atau bahkan karakter fiksi, meski tak pernah berinteraksi secara nyata.

Dalam era digital yang serba terhubung ini, kita seperti memiliki akses tanpa batas ke kehidupan orang lain. Namun, apakah kedekatan yang kita rasakan itu nyata, ataukah sekadar ilusi yang diciptakan oleh algoritma dan strategi pemasaran?

Di Indonesia, dengan 143 juta pengguna aktif media sosial pada Januari 2025, fenomena hubungan parasosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata 188 menit atau 3 jam 8 menit per hari di media sosial, menempatkan negara ini sebagai salah satu pengguna media sosial paling aktif di dunia. Dalam rentang waktu tersebut, jutaan orang membangun, merawat, dan bahkan mengidealkan hubungan imajiner dengan figur-figur yang mereka kagumi.

Indonesia dengan populasi 275 juta jiwa menjadi salah satu basis penggemar selebriti terbesar di dunia. Budaya fanatisme yang mengakar kuat membuat fenomena ini terlihat biasa, bahkan dianggap normal.

Namun, di balik kebiasaan mengikuti kehidupan idola di media sosial, tersimpan dampak psikologis yang kompleks—ada yang memperkaya kehidupan emosional, namun tak sedikit yang justru menimbulkan luka.

Hubungan parasosial pertama kali diidentifikasi oleh Richard Wohl dan Donald Horton pada 1956, jauh sebelum era media sosial. Mereka mengamati bagaimana pendengar radio merasa begitu dekat dengan penyiar, seolah-olah mereka adalah teman yang dapat dipercaya.

Kini, enam puluh sembilan tahun kemudian, fenomena itu telah berevolusi dengan cara yang tak pernah dibayangkan. Platform seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan Twitter tidak hanya memungkinkan kita melihat kehidupan selebriti dari jauh, tetapi juga menciptakan ilusi bahwa kita adalah bagian dari kehidupan mereka.

Penelitian yang dilakukan di Indonesia menunjukkan bahwa hubungan parasosial pada setiap tahapnya memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap kesejahteraan subjektif penggemar K-Pop, dengan nilai koefisien regresi 1,099 pada tahap pertama. Ini berarti, pada tingkat tertentu, hubungan parasosial dapat memberikan manfaat emosional—rasa nyaman, inspirasi, dan bahkan motivasi.

Banyak penggemar menemukan kekuatan dari kata-kata idola mereka, merasa terhibur di saat sulit, atau mendapat dorongan untuk mengejar impian. Ada yang bahkan melakukan kegiatan positif seperti aksi sosial atas nama idola mereka, seperti menanam pohon bakau atau mendonasikan untuk kegiatan amal.

Namun, seperti pisau bermata dua, hubungan parasosial juga membawa risiko yang tak bisa diabaikan. Studi yang dipublikasikan oleh Journal of Positive Psychology and Wellbeing tahun 2024 melibatkan 10 peserta berusia 18-40 tahun menunjukkan bahwa hubungan parasosial dapat memberikan pemenuhan emosional seperti pengelolaan suasana hati dan kenyamanan, namun juga dapat memicu penundaan pekerjaan, pelarian dari kenyataan, serta penurunan produktivitas. Ketika seseorang terlalu terikat pada figur publik, mereka mungkin mulai mengabaikan hubungan nyata dengan orang-orang di sekitarnya.

Ini adalah paradoks yang menyakitkan—di tengah dunia yang semakin terhubung secara digital, kita justru merasa semakin kesepian. Survei yang dilakukan menunjukkan bahwa 44 persen warga Jabodetabek mengalami kesepian, dan penelitian terhadap 437 partisipan menemukan bahwa 57 persen mengalami kesepian dalam kategori sedang dengan 73,2 persen memiliki hubungan parasosial dalam kategori sedang. Media sosial memberikan ilusi koneksi, namun interaksi digital yang penuh emoji dan komentar tidak selalu memiliki kedalaman emosional yang sesungguhnya.

Yang lebih mengkhawatirkan, menurut riset Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa tahun 2024, kesepian berkorelasi dengan meningkatnya gangguan mental di Indonesia. Setelah pemilu 2024, masyarakat yang mengalami gangguan kecemasan naik menjadi 16 persen dan depresi menjadi 17,1 persen, meningkat drastis dari data Riset Kesehatan Dasar 2018 yang hanya mencatat 9,8 persen untuk kecemasan dan 6 persen untuk depresi.

Ketika seseorang menghabiskan terlalu banyak waktu membangun hubungan imajiner dengan idola, mereka kehilangan kesempatan untuk membangun hubungan yang autentik dengan orang-orang nyata di sekitar mereka. Rasa kecewa ketika idola tidak membalas komentar, atau ketika kehidupan idola ternyata tidak sempurna seperti yang ditampilkan di media sosial, dapat menimbulkan luka emosional yang mendalam.

Lebih jauh lagi, survei Asia Care 2024 yang melibatkan lebih dari 1.000 responden Indonesia menunjukkan bahwa 56 persen khawatir mengalami stres dan burnout, 28,2 persen khawatir mengalami kecemasan, dan 24,9 persen khawatir mengalami kesepian. Tergantung pada intensitas dan durasi keterikatan, hubungan parasosial dapat berisiko menyebabkan gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan gangguan obsesif.

Ada orang yang memaksakan diri membeli produk-produk yang berkaitan dengan idola hingga mengalami kesulitan keuangan. Ada yang mengalami gangguan psikis seperti celebrity worship syndrome, di mana kekaguman berubah menjadi obsesi yang tidak sehat. Bahkan ada yang mengalami konflik dengan orang terdekat karena merasa idola mereka lebih baik daripada orang-orang di kehidupan nyata.

Di media sosial Indonesia, tidak jarang terjadi perang antar penggemar yang membela idola mereka masing-masing, hal yang tidak sehat karena hanya akan memicu budaya hujat-menghujat tak berujung.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana hubungan parasosial, ketika tidak dikelola dengan bijak, dapat berubah menjadi toxic dan merusak tidak hanya kesehatan mental individu, tetapi juga kohesi sosial yang lebih luas.

Penelitian terhadap 565 responden dalam konteks pemilihan presiden Indonesia 2024 menunjukkan bahwa pengalaman hubungan parasosial dengan figur politik di media sosial secara signifikan mempengaruhi dimensi emosional, dengan kesenangan menjadi prediktor terkuat untuk electronic word-of-mouth dan intensi memilih.

Ini membuktikan bahwa hubungan parasosial tidak hanya berdampak pada kehidupan pribadi, tetapi juga dapat mempengaruhi keputusan-keputusan penting seperti pilihan politik.

Tantangan terbesar dalam menghadapi fenomena ini adalah kesadaran. Banyak orang bahkan tidak menyadari bahwa mereka sedang terjebak dalam hubungan parasosial yang tidak sehat. Mereka terus menghabiskan waktu berjam-jam mengikuti kehidupan orang lain, membandingkan hidup mereka sendiri dengan highlight reel yang dipajang di media sosial, dan merasa tidak puas dengan apa yang mereka miliki.

Algoritma media sosial yang dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan justru memperparah situasi ini, terus menampilkan konten yang membuat kita semakin terikat pada figur-figur tertentu.

Khususnya untuk remaja Indonesia, situasinya lebih mengkhawatirkan. Hasil survei Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey pertama kali menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja atau 34,9 persen—setara dengan 15,5 juta remaja Indonesia—memiliki setidaknya satu masalah kesehatan mental, dengan kecemasan menjadi yang paling tinggi. Generasi muda ini tumbuh di era digital di mana batas antara realitas dan ilusi semakin kabur.

Solusinya bukanlah meninggalkan media sosial sama sekali, melainkan membangun kesadaran kritis tentang bagaimana kita menggunakannya. Pertama, kita perlu jujur pada diri sendiri tentang hubungan kita dengan figur publik. Apakah kekaguman kita masih dalam batas yang sehat, atau sudah berubah menjadi obsesi? Apakah kita masih mampu memprioritaskan hubungan nyata dengan orang-orang di sekitar kita?

Kedua, kita perlu menetapkan batasan waktu yang jelas dalam menggunakan media sosial. Alih-alih menghabiskan berjam-jam scrolling konten idola, gunakan waktu itu untuk berinteraksi dengan teman dan keluarga secara langsung. Hubungan yang nyata, meski kadang penuh dengan ketidaksempurnaan, jauh lebih memuaskan dibanding hubungan imajiner yang terasa sempurna namun hampa.

Ketiga, kita perlu mengembangkan literasi media yang lebih baik. Pahami bahwa apa yang kita lihat di media sosial adalah hasil kurasi yang sangat selektif. Tidak ada yang menampilkan kehidupan mereka secara utuh—yang kita lihat hanyalah momen-momen terbaik yang sengaja dipilih. Jangan bandingkan behind the scenes kehidupan kita dengan highlight reel orang lain.

Keempat, jika merasa hubungan parasosial sudah mengganggu kesehatan mental, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Psikolog dan konselor dapat membantu mengidentifikasi akar masalah dan memberikan strategi untuk mengatasinya. Di Indonesia, kesadaran akan pentingnya kesehatan mental terus meningkat, dan semakin banyak layanan yang tersedia untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Kelima, bangun kembali komunitas nyata di sekitar kita. Ikut kegiatan sosial, organisasi, atau komunitas lokal yang sesuai dengan minat kita. Hubungan yang dibangun melalui interaksi tatap muka memiliki kualitas yang berbeda—lebih bermakna, lebih otentik, dan lebih memuaskan secara emosional.

Sebagai masyarakat, kita juga perlu mendorong influencer dan figur publik untuk lebih bertanggung jawab dalam membangun hubungan dengan pengikut mereka. Transparansi tentang sifat hubungan parasosial, pengakuan akan batasan hubungan tersebut, dan dorongan untuk menjaga keseimbangan hidup dapat membantu mengurangi dampak negatif dari fenomena ini.

Platform media sosial sendiri juga memiliki tanggung jawab. Algoritma yang dirancang hanya untuk memaksimalkan engagement tanpa mempertimbangkan dampak psikologis perlu dievaluasi ulang.

Fitur-fitur yang mendorong penggunaan yang lebih sehat—seperti reminder waktu penggunaan, filter konten yang menyebabkan perbandingan sosial, atau promosi konten yang mendorong interaksi nyata—dapat menjadi bagian dari solusi.

Di akhir, hubungan parasosial bukanlah musuh yang harus dihindari sepenuhnya. Seperti banyak hal dalam hidup, yang penting adalah keseimbangan. Kita boleh mengagumi figur publik, terinspirasi oleh perjalanan mereka, atau menikmati konten yang mereka bagikan. Namun, kita juga perlu ingat bahwa kehidupan yang sesungguhnya terjadi di luar layar—dalam percakapan dengan teman di kedai kopi, dalam pelukan keluarga setelah hari yang panjang, dalam tawa bersama orang-orang yang benar-benar mengenal dan mencintai kita apa adanya.

Hubungan parasosial adalah cermin dari kerinduan kita akan koneksi, akan rasa memiliki, akan pengertian. Namun, koneksi yang sejati tidak dapat ditemukan dalam hubungan satu arah dengan orang yang tidak mengenal kita. Ia hanya dapat ditemukan dalam keberanian untuk membuka diri, untuk hadir sepenuhnya, untuk vulnerable dengan orang-orang yang benar-benar ada dalam hidup kita.

Di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang terus menggoda kita dengan janji akan kedekatan instan, mungkin kebijaksanaan terbesar yang dapat kita miliki adalah kemampuan untuk membedakan antara koneksi yang nyata dan ilusi keintiman.

Karena pada akhirnya, kehidupan yang memuaskan bukan diukur dari berapa banyak selebriti yang kita ikuti, melainkan dari seberapa dalam hubungan kita dengan orang-orang yang benar-benar peduli pada kita dan seberapa peduli kita pada mereka.

“The quality of your life is determined by the quality of your relationships.” – Tony Robbins

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *