Catatan Dari Hati

(Narsis) : Hujan, Kenangan, dan Cinta yang Tak Mencari Akhir

Di bangku kayu yang catnya mulai mengelupas, Dara menunggu hujan selesai.

Senja merambat pelan di balik kaca halte, menorehkan warna jingga yang rapuh, seperti hatinya.

Di tangannya, ponsel bergetar pelan. Sebuah lagu diputar ulang, lagi dan lagi.

Bukan karena ia lupa menggantinya, melainkan karena ia ingin waktu berhenti di nada itu.

Ada cinta yang tidak pernah benar-benar berakhir, pikir Dara.

Ia hanya berubah rupa: dari rindu yang hangat menjadi sepi yang membeku.

Ia teringat hari ketika Arga pergi.

Tidak ada pertengkaran, tidak ada pintu yang dibanting.

Hanya kalimat pendek yang jatuh seperti daun terakhir di musim kemarau. Aku lelah, Dara.

Lelah yang tak sempat ia tanyakan obatnya, lelah yang tak memberinya kesempatan untuk memeluk lebih lama.

Sejak itu, Dara hidup di antara jeda.

Jeda sebelum tidur, jeda saat bangun, jeda ketika melihat cangkir kopi yang selalu dibuatkan Arga tiap pagi.

Cinta itu seolah tak punya ujung, bukan karena indah, tetapi karena ia tak tahu di mana harus menaruhnya.

Hujan mulai mereda.

Dara berdiri, melangkah keluar. Jalanan basah memantulkan lampu kota, menyerupai serpihan kenangan yang tak mau tenggelam.

Ia berjalan tanpa tujuan, membiarkan kaki menuntunnya ke taman kecil di ujung blok. Bangku yang sama, pohon flamboyan yang sama.

Di sinilah dulu Arga pernah berkata, “Kalau suatu hari kita berubah, semoga bukan jadi asing.”

Ironi sering datang terlambat.

Dara duduk.

Lagu itu kembali mengalun.

Ada lirik yang tak ia dengar, tapi ia rasakan.

Tentang bertahan meski tahu tak ada garis akhir yang menunggu.

Tentang mencintai tanpa kepastian, tentang luka yang memilih tinggal.

Seorang anak kecil berlari melewati taman, mengejar gelembung sabun yang beterbangan.

Tawa kecilnya memecah hening. Dara tersenyum tanpa sadar.

Ada sesuatu yang bergerak di dadanya, bukan rindu, melainkan pengingat.

Bahwa hidup tidak selalu menunggu jawaban; kadang ia meminta kita berjalan meski peta belum digambar.

Ia menarik napas dalam. Untuk pertama kalinya, Dara tidak melawan kenangan. Ia membiarkannya datang, duduk sebentar, lalu pamit.

Bukan karena ia berhenti mencintai, tetapi karena ia belajar mencintai dengan cara lain: tanpa menggenggam terlalu erat.

Dara membuka ponsel, menghentikan lagu. Sunyi menggantikan musik, namun tidak menakutkan.

Sunyi itu lapang.

Ia berdiri, melangkah pulang.

Setiap langkah terasa ringan, seolah ia tak lagi menyeret masa lalu, melainkan mengajaknya berjalan berdampingan, tanpa saling melukai.

Di depan pintu apartemennya, Dara berhenti.

Ia menatap bayangannya di kaca.

“Tak apa,” bisiknya pada diri sendiri. “Kalau rasanya belum selesai. Tak semua hal harus punya ujung untuk menjadi berarti.”

Lampu menyala. Pintu tertutup.

Di dalam, Dara membuat secangkir kopi, untuk dirinya sendiri.

Di luar, hujan benar-benar berhenti.

Malam membuka lembaran baru, dan Dara akhirnya percaya: ada cinta yang tak berujung bukan untuk menyakitkan, melainkan untuk mengajarkan kita bagaimana melepaskan, tanpa kehilangan diri sendiri.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *