Flash Fiction: Mas Kawin
Seusai resepsi yang riuh, rumah kontrakan kecil itu sunyi. Nadira menatap kotak kayu di pangkuannya—mas kawin dari Reza: satu buku tulis, berisi 30 halaman tulisan tangan.
“Aku tahu kamu nggak suka perhiasan,” kata Reza pelan. “Jadi aku tulis ini.”
Nadira membuka halaman pertama. Isinya: daftar mimpi mereka, dari punya rumah bertaman hingga jalan kaki di Kyoto.
“Kenapa semua pakai ‘kita’?” tanya Nadira.
Reza menatapnya. “Karena setelah akad, hidupmu bukan cuma milikmu.”
Hening. Nadira menutup buku itu. “Tapi bagaimana kalau suatu saat aku ingin punya mimpi yang nggak ada di buku ini?”

Reza diam. Lalu berkata, pelan, “Kita tulis halaman ke-31.”
Nadira menatap suaminya, matanya hangat, tetapi juga ragu. Cinta, ternyata, bukan tentang tahu arah yang sama—melainkan bersedia menulis ulang peta saat arah berubah.
Dan malam itu, mereka mulai babak baru, bukan dengan kepastian, tapi dengan satu pena dan dua tangan yang masih belajar menulis bersama.