Catatan Dari Hati

Flash Fiction: Seragam yang Sama

Pagi pertama sebagai istri. Intan menyeduh dua cangkir kopi di dapur sempit apartemen mereka. Aroma robusta mengisi udara, menyamarkan gugup yang belum juga hilang.

Rio keluar dari kamar mandi, rambut masih basah, mengenakan seragam dinas—warna cokelat muda yang sama dengan milik Intan.

“Masih aneh, ya,” gumam Intan sambil menyodorkan kopi. “Kita dulu partner patroli, sekarang sekamar.”

Rio tertawa pendek. “Partner seumur hidup sekarang.”

Intan tersenyum, tapi pandangannya mengambang. Ia menimbang kata-kata yang sudah terlalu lama ditahan.

“Aku ditawari tugas di Papua. Enam bulan,” katanya akhirnya.

Rio membeku. Cangkir di tangannya berhenti di udara.

“Baru sehari nikah, Tan.”

“Aku nggak nyari penempatan itu. Tapi aku juga nggak bisa tolak.”

Rio menatap istrinya. “Jadi… kamu pilih tugas atau aku?”

Intan menjawab cepat, hampir tanpa ragu: “Aku pilih jadi diriku.”

Rio tak berkata-kata. Hanya meneguk kopinya yang kini terasa pahit. Mungkin bukan karena gula yang kurang, tapi karena hari ini ia menyadari: menikah tak selalu berarti menyatu. Kadang hanya berarti belajar menerima, bahkan saat yang kau terima adalah jarak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *