Minyak, Kekuasaan, dan Kerentanan: Pelajaran Venezuela untuk Keamanan Energi Indonesia
Dalam beberapa hari terakhir, dunia terguncang oleh peristiwa yang tampaknya berasal dari novel geopolitik namun kini nyata terjadi: penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, oleh pasukan Amerika Serikat dalam operasi militer langsung di ibu kota Caracas pada 3 Januari 2026
Presiden Nicolás Maduro dan istrinya Cilia Flores ditangkap dalam apa yang disebut Presiden Trump sebagai “operasi berskala besar” yang melibatkan serangan udara, pasukan khusus Delta Force, dan Tim Penyelamatan Sandera FBI.
Ledakan-ledakan menggelegar di kompleks militer Fuerte Tiuna, api membubung tinggi menembus langit malam, sementara dunia terbangun dengan berita yang mengubah lanskap geopolitik Amerika Latin selamanya.
Ini bukan sekadar penangkapan seorang pemimpin yang dituduh terlibat konspirasi narkoterorisme dengan dakwaan perdagangan kokain dan persekongkolan dengan kartel narkoba Meksiko serta kelompok bersenjata Kolombia.
Ini adalah kisah tentang ambisi, sumber daya, dan bagaimana nasib sebuah negara kaya minyak dapat mempengaruhi kehidupan jutaan orang di belahan dunia lain, termasuk Indonesia. Di balik kepulan asap dan reruntuhan beton Caracas, tersimpan cadangan minyak terbesar di dunia—303 miliar barel—yang kini menjadi rebutan kepentingan global.
Venezuela memiliki ironi yang menyakitkan: negara dengan cadangan minyak terbanyak di planet ini, mengalahkan bahkan Arab Saudi, namun produksinya telah runtuh dari 3,5 juta barel per hari pada tahun 1970-an menjadi hanya sekitar 1 juta barel per hari pada 2025.
Infrastruktur minyak mereka hancur, pipa-pipa yang berusia lebih dari 50 tahun bocor di mana-mana, dan kilang-kilang tua berdiri seperti monumen kemiskinan di tengah kekayaan yang terpendam.
Presiden Trump dengan tegas menyatakan Amerika Serikat akan “menjalankan negara” Venezuela untuk sementara waktu dan mengundang perusahaan-perusahaan minyak raksasa Amerika untuk membangun kembali infrastruktur yang telah rusak parah, dengan investasi mencapai miliaran dolar.
Namun apa dampaknya bagi dunia, khususnya bagi Indonesia? Untuk memahaminya, kita harus melihat sifat minyak Venezuela itu sendiri. Minyak yang mereka miliki adalah jenis minyak berat dan asam yang sulit diolah, membutuhkan kilang khusus dan teknologi tinggi.
Minyak ini biasanya diolah menjadi solar dan bahan bakar jet, dua produk yang sangat vital bagi industri transportasi global. Ketika pasokan Venezuela terganggu, harga produk-produk ini cenderung naik karena sulit digantikan dengan minyak jenis lain. Para ahli energi dari Kpler memperingatkan bahwa minyak berat Venezuela tidak mudah digantikan oleh jenis minyak yang lebih ringan, dan penggantinya cenderung lebih mahal, memberikan tekanan kenaikan pada harga produk olahan.
Indonesia, sebagai negara dengan konsumsi energi yang terus meningkat, berada di persimpangan yang rentan. Data dari Badan Informasi Energi Amerika Serikat menunjukkan Indonesia mengonsumsi 1,7 juta barel per hari pada 2024, namun hanya memproduksi sekitar 608.100 barel per hari.
Kesenjangan ini ditutup dengan impor produk minyak olahan yang mencapai 791.000 barel per hari pada 2024, dengan bensin menyumbang hampir setengah dari total impor tersebut. Nigeria, yang tadinya memasok 25 persen dari impor minyak mentah Indonesia, mengalami penurunan produksi, dan sebagian kekosongannya diisi oleh Gabon.
Ketergantungan Indonesia pada impor produk olahan terutama dari Singapura, yang merupakan pusat penyulingan terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas lebih dari 1,5 juta barel per hari, menjadikan negara ini sangat rentan terhadap guncangan pasokan global.
Implikasi bagi rantai pasok nasional Indonesia sangat serius. Pertamina, perusahaan minyak milik negara, mengoperasikan delapan kilang dengan total kapasitas 1,2 juta barel per hari, namun tingkat pemanfaatan kilang hanya sekitar 79 persen pada 2024.
Lebih buruk lagi, fasilitas-fasilitas Pertamina telah mengalami serangkaian kebakaran dalam beberapa tahun terakhir—dari kilang Dumai di Riau pada Oktober 2025, kilang Cilacap pada Februari 2025, kilang Balongan di Indramayu pada Maret 2021, hingga depot bahan bakar Plumpang di Jakarta pada Maret 2023 yang menewaskan setidaknya 14 orang. Infrastruktur yang rapuh ini membuat Indonesia sangat bergantung pada impor, terutama ketika terjadi gangguan pasokan di pasar global.
Krisis Venezuela menciptakan efek domino yang rumit. China, yang membeli sekitar 80 persen ekspor minyak Venezuela dengan diskon besar karena risiko geopolitik, kini harus mencari sumber alternatif. Ini akan meningkatkan persaingan untuk pasokan minyak berat di pasar Asia, memaksa harga naik.
Bagi Indonesia, yang sudah menghadapi subsidi energi yang membengkak, mencapai 2,8 persen dari produk domestik bruto atau setara 551,2 triliun rupiah pada 2022—kenaikan harga minyak dunia akan semakin membebani anggaran negara.
Pada Oktober 2025, Shell melaporkan bahwa stok bahan bakarnya akan habis dalam beberapa hari, dengan BP diperkirakan menyusul pada akhir bulan tersebut, menunjukkan betapa rapuhnya keamanan energi negara ini.
Namun tidak semua berita buruk. Pasar minyak global saat ini mengalami kelebihan pasokan. Badan Energi Internasional memperkirakan pasokan minyak dunia akan melebihi permintaan sebesar 3,8 juta barel per hari pada 2026, yang akan menjadi kelebihan pasokan terbesar yang pernah tercatat.
OPEC+ telah meningkatkan produksi setelah bertahun-tahun melakukan pemotongan, sementara Amerika Serikat memproduksi pada tingkat rekor lebih dari 13,8 juta barel per hari. Situasi ini memberikan bantalan terhadap guncangan pasokan Venezuela.
Para analis seperti Arne Lohmann Rasmussen dari Global Risk Management memperkirakan harga minyak mentah Brent hanya akan naik sekitar 1 hingga 2 dolar per barel ketika pasar dibuka, atau bahkan lebih sedikit, karena Venezuela saat ini hanya menyumbang kurang dari 1 persen dari produksi minyak global.
Jangka panjangnya bergantung pada bagaimana situasi politik Venezuela berkembang. Jika negara itu stabil dengan cepat dan sanksi dicabut, investasi asing dapat kembali, dan produksi minyak Venezuela bisa meningkat mendekati 2 juta barel per hari dalam satu hingga dua tahun menurut Wood Mackenzie.
Ini akan memberikan tekanan ke bawah pada harga minyak, menguntungkan negara-negara importir seperti Indonesia. Namun jika Venezuela jatuh ke dalam kekacauan seperti Libya pasca-Gaddafi, dengan berbagai faksi bersaing untuk kekuasaan dan ketidakstabilan yang berkepanjangan, pasokan minyak akan terus terganggu, memberikan dukungan kenaikan pada harga global.
Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez menuntut bukti bahwa Maduro dan istrinya masih hidup, sementara oposisi yang terpecah-pecah, dengan Edmundo González yang mengklaim sebagai presiden terpilih yang sah dan María Corina Machado sebagai pemimpin oposisi penerima Nobel Perdamaian, menciptakan ketidakpastian politik yang mendalam.
Bagi Indonesia, solusinya terletak pada tiga pilar strategis. Pertama, mempercepat pembangunan kilang minyak baru dan rehabilitasi infrastruktur yang ada. Proyek perluasan kilang Cilacap dari 348.000 barel per hari menjadi 370.000 barel per hari telah ditunda hingga 2027, namun penundaan seperti ini tidak lagi dapat diterima.
Indonesia perlu memastikan fasilitas penyulingannya dapat memenuhi setidaknya 70-80 persen kebutuhan domestik untuk mengurangi ketergantungan pada impor produk olahan. Keamanan infrastruktur juga harus menjadi prioritas utama setelah serangkaian kebakaran yang memalukan.
Kedua, diversifikasi sumber impor dan memperkuat hubungan dengan pemasok yang dapat diandalkan. Indonesia telah mempertimbangkan untuk memulai impor gas alam cair dari Amerika Serikat mulai kuartal ketiga atau keempat 2025, sebagai bagian dari strategi perdagangan menanggapi kebijakan tarif Presiden Trump.
Dengan kekurangan sekitar 50 kargo gas alam cair untuk 2025, Indonesia perlu mengamankan pasokan dari berbagai sumber: Amerika Serikat, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin, untuk menghindari ketergantungan berlebihan pada satu atau dua pemasok.
Posisi Indonesia sebagai anggota baru BRICS membuka akses ke minyak Rusia dengan harga diskon, seperti yang telah dimanfaatkan India dan China, namun tanpa kapasitas penyulingan domestik yang memadai, peluang ini sia-sia.
Ketiga, mempercepat pengembangan cadangan minyak dan gas domestik yang belum dimanfaatkan. Blok Masela di Maluku, yang dioperasikan oleh Inpex dari Jepang, memiliki potensi gas alam cair yang sangat besar untuk memperkuat pasokan domestik dan meningkatkan ekspor.
Proyek ini juga menawarkan ruang untuk kerja sama dengan Australia, yang memiliki keahlian dalam penangkapan dan penyimpanan karbon. Sementara itu, Blok Natuna yang kaya gas dapat menjadi proyek andalan melalui kemitraan dengan China, yang membawa teknologi dan pembiayaan.
Pengembangan penuh blok-blok ini dapat membantu Indonesia beralih dari importir produk olahan menjadi negara dengan basis energi domestik yang jauh lebih kuat dan daya tawar regional yang lebih baik.
Target SKK Migas untuk mencapai 1 juta barel per hari minyak dan 12 miliar kaki kubik per hari gas pada 2030 ambisius tetapi dapat dicapai dengan investasi yang tepat, teknologi pemulihan minyak yang ditingkatkan untuk ladang-ladang tua, dan insentif yang menarik bagi kontraktor.
Lapangan-lapangan di Sumatra Selatan yang menyediakan sekitar 25 persen minyak mentah nasional menggunakan teknologi drainase gravitasi dengan bantuan uap untuk memperpanjang umur ladang yang mulai berproduksi sejak 1960-an, meningkatkan faktor pemulihan hingga 40 persen. Pendekatan serupa perlu diterapkan di seluruh nusantara.
Namun di balik semua angka, target, dan strategi, ada dimensi manusiawi yang tidak boleh dilupakan. Rakyat Venezuela yang telah menderita di bawah pemerintahan otoriter, dengan inflasi yang merajalela, kelaparan, dan gelombang pengungsi yang membanjiri negara-negara tetangga, kini menghadapi ketidakpastian baru.
Ribuan warga Venezuela di Miami turun ke jalan-jalan Doral pada Sabtu pagi, merayakan tindakan militer Amerika Serikat dengan meneriakkan “Libertad”, kebebasan, sambil menyanyikan lagu kebangsaan Amerika Serikat dan Venezuela. Bagi mereka, ini adalah momen yang telah mereka tunggu selama beberapa dekade. Namun sejarah intervensi Amerika Serikat di Amerika Latin dan Timur Tengah memberikan pelajaran yang menyakitkan: transisi pemerintahan sulit, dan jalan menuju stabilitas sering kali berliku dan berdarah.
Di Indonesia, jutaan keluarga mengandalkan transportasi umum yang berjalan dengan solar, jutaan petani menggunakan mesin-mesin yang memerlukan bahan bakar, dan jutaan buruh pabrik bekerja di industri yang bergantung pada pasokan energi yang stabil.
Ketika harga bahan bakar naik, bukan hanya perusahaan-perusahaan besar yang merasakan dampaknya, tetapi ibu rumah tangga yang harus membayar lebih mahal untuk transportasi ke pasar, nelayan yang biaya melaut mereka membengkak, dan pedagang kecil yang margin keuntungannya terkikis. Keamanan energi bukan sekadar soal angka dan statistik; ini tentang martabat dan kesejahteraan rakyat.
Pemerintah Indonesia harus bertindak dengan kebijaksanaan dan keberanian. Reformasi subsidi bahan bakar, meskipun tidak populer, harus dilanjutkan dengan hati-hati sambil mengalihkan penghematan ke jalan, pelabuhan, dan proyek transportasi massal yang akan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar individu.
Investasi dalam energi terbarukan, matahari, angin, panas bumi, harus dipercepat, tidak untuk menggantikan minyak dan gas dalam semalam, tetapi untuk menciptakan portofolio energi yang lebih beragam dan tangguh.
Provinsi Riau, dengan potensi radiasi matahari yang tinggi, memiliki proyek bersama dengan Singapura yang akan memasok 1 gigawatt listrik terbarukan, menunjukkan jalan ke depan.
Kita juga harus belajar dari kesalahan Venezuela: jangan biarkan kekayaan sumber daya alam menjadi kutukan. Transparansi dalam pengelolaan sektor energi, akuntabilitas perusahaan-perusahaan negara, dan investasi berkelanjutan dalam infrastruktur adalah kunci.
Indonesia tidak boleh mengulangi nasib negara-negara yang kaya sumber daya tetapi miskin dalam pengelolaan, di mana korupsi dan mismanajemen menggerogoti potensi bangsa.
Krisis Venezuela mengajarkan kita bahwa dalam dunia yang saling terhubung, guncangan di satu benua dapat mengirimkan gelombang kejut melintasi lautan. Ledakan di Caracas bergema di Jakarta, bukan melalui suara, tetapi melalui harga bahan bakar, biaya hidup, dan keamanan energi.
Namun krisis juga membawa peluang: peluang untuk mereformasi sistem yang usang, untuk membangun ketahanan yang lebih besar, dan untuk menciptakan masa depan energi yang lebih aman bagi generasi mendatang.
Indonesia berdiri di persimpangan jalan. Dengan populasi yang terus berkembang, urbanisasi yang cepat, dan kelas menengah yang tumbuh, permintaan energi akan terus meningkat.
Pilihan yang kita buat hari ini, tentang investasi infrastruktur, diversifikasi sumber energi, pengembangan cadangan domestik, dan reformasi kebijakan, akan menentukan apakah Indonesia dapat menavigasi badai yang mengancam atau tenggelam di dalamnya.
Seperti yang diingatkan Mahatma Gandhi, “Dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, tetapi tidak cukup untuk memenuhi keserakahan satu orang pun.”
Ketika kita melihat Venezuela, negara dengan kekayaan minyak yang luar biasa namun rakyat yang menderita dalam kemiskinan, kita harus bertanya pada diri sendiri: apa yang akan kita lakukan dengan kekayaan yang Tuhan berikan kepada Indonesia?
Akankah kita mengelolanya dengan bijaksana untuk kemakmuran bersama, atau membiarkannya menjadi sumber konflik dan kesenjangan?
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan bukan hanya masa depan energi Indonesia, tetapi masa depan bangsa itu sendiri.