(Cerpen) Pulang Dalam Dekapan Senja
Ardi menatap layar laptopnya yang redup. Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Di sekelilingnya, tumpukan berkas proyek yang tak kunjung selesai. Telepon genggamnya bergetar, panggilan kesembilan dari kakaknya malam ini.
Ia abaikan lagi.
Tiga puluh lima tahun usianya. Sepuluh tahun ia habiskan membangun karier di perusahaan multinasional ini.
Apartemen mewah, mobil tahun ini, gaji yang membuat teman-teman SMA-nya iri. Tapi mengapa dadanya terasa hampa?
Panggilan kesepuluh masuk. Kali ini ia angkat.
“Ardi… Bapak minta kamu pulang.” Suara kakaknya bergetar.
Jantung Ardi berdegup kencang. “Kenapa? Ada apa dengan Bapak?”
“Sakit, Dik. Dokter bilang… mungkin tidak lama lagi.”
Telepon itu terlepas dari genggamannya.
****
Perjalanan ke kampung halaman terasa asing. Jalanan sudah beraspal, tapi pepohonan yang dulu rindang kini banyak yang ditebang.
Ardi turun dari taksi online di depan rumah kayu sederhana yang cat hijaunya mengelupas.
Bapaknya terbaring di dipan bambu di teras. Tubuhnya tinggal tulang berbalut kulit. Tapi matanya masih tajam: mata yang dulu selalu menatap Ardi dengan bangga saat ia juara kelas, saat ia diterima kuliah di kota, saat ia dapat pekerjaan pertama.
“Bapak…” suara Ardi serak.
Bapaknya tersenyum lemah. “Akhirnya kamu pulang juga, Nak.”
Ardi berlutut di samping dipan. Tangannya gemetar menyentuh tangan bapaknya yang dingin. “Maafkan Ardi, Pak. Ardi sibuk kerja, Ardi—”
“Ssst…” Bapak mengangkat tangannya pelan, mengusap kepala Ardi seperti dulu saat ia masih kecil. “Bapak tahu. Bapak bangga sama kamu. Tapi Ardi… kamu bahagia?”
Pertanyaan itu menampar Ardi telak. Ia terdiam. Bahagia? Kapan terakhir kali ia tertawa lepas? Kapan terakhir kali ia tidur nyenyak tanpa mimpi buruk tentang deadline?
“Ardi…” Bapak melanjutkan dengan napas terputus-putus.
“Dulu Bapak juga begitu. Kerja keras, sampai lupa makan, lupa tidur. Tapi Bapak lupa yang paling penting, lupa hidup. Lupa menikmati rembulan di malam hari, lupa mendengar tangis anakmu yang butuh cerita sebelum tidur, lupa bahwa waktu… tidak pernah bisa diulang.”
Air mata Ardi menetes. “Bapak selalu ada untuk kami…”
“Karena Bapak belajar, Nak. Setelah ibumu pergi, Bapak sadar. Uang bisa dicari lagi, tapi waktu bersama orang yang kita cintai… sekali hilang, tidak akan pernah kembali.”
Malam itu, Ardi duduk di teras menemani bapaknya. Mereka berbincang tentang masa lalu, tentang saat Ardi pertama kali belajar naik sepeda dan jatuh ke sawah, tentang saat bapaknya mengajarkannya melukis di tanah dengan ranting, tentang lagu-lagu Ebiet G. Ade yang sering bapaknya nyanyikan sambil memetik gitar tua.
“Ardi masih ingat lagu ‘Sketsa Rembulan Emas’?” tanya Bapak tiba-tiba.
Ardi mengangguk. “Lagu favorit Bapak.”
“Nyanyikan untuk Bapak, Nak. Sekali lagi…”
Dengan suara bergetar, Ardi menyanyikannya. Bapaknya memejamkan mata, tersenyum damai. Di langit, rembulan purnama bersinar emas, menerangi teras rumah tua itu dengan cahaya lembut.
Bapak meninggal menjelang subuh, dalam pelukan Ardi.
***
Enam bulan kemudian, Ardi mengundurkan diri dari perusahaan. Ia pindah ke kampung, mengubah rumah bapaknya jadi tempat kursus gratis untuk anak-anak desa.
Setiap sore, teras rumah itu ramai dengan tawa anak-anak. Ardi mengajar mereka menggambar, membaca, bermimpi, tapi juga mengajar mereka hal yang paling berharga: jangan sampai terlalu sibuk mengejar mimpi hingga lupa menikmati perjalanan.
Setiap malam, Ardi duduk di teras yang sama, menatap rembulan emas yang sama.
Dan ia mendengar bisikan bapaknya di angin malam: “Sekarang kamu sudah pulang, Nak. Pulang ke dirimu sendiri.”
Ardi tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, ia merasa… pulang. Bukan hanya ke kampung halaman, tapi pulang ke kebahagiaan yang sederhana, yang selama ini ia cari di tempat yang salah.
Dan sketsa rembulan emas itu, selamanya akan mengingatkannya: bahwa hidup bukan tentang seberapa tinggi kita terbang, tapi tentang seberapa dalam kita merasakan setiap detik yang Tuhan berikan.