Flash Fiction: Dalam Diam, Aku Merindumu
Nada berjalan menyusuri jalan setapak di belakang rumah. Tempat itu saksi diam hubungan mereka. Dulu, tangan Reno selalu menggenggam tangannya, membisikkan rencana masa depan. Kini, yang tersisa hanya desau angin dan reranting kering.
Ia duduk di atas batu besar, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara. Tak ada pelukan, tak ada pelipur. Reno telah pergi, bukan karena meninggalkan, tapi karena maut memanggil lebih dulu.
Kecelakaan itu datang tiba-tiba, membawa separuh jiwanya.
Nada berbicara pada angin, seolah Reno masih bisa mendengar.
“Kalau waktu bisa kembali, aku akan lebih sering bilang aku sayang kamu.”
Sunyi menjawab, sepi menggema.
Tapi ia percaya, cinta yang tulus tak pernah benar-benar mati. Ia hanya berganti bentuk—menjadi doa, menjadi kenangan, menjadi bisikan rindu di tengah malam.
Dan di situ, Reno tetap hidup. Di hatinya. Selamanya.