Bukan Sekadar Mengejar Angka: Pentingnya Collaborative Workplace di Tengah Tekanan Target 2026
Presentasi bertajuk “Creating Collaborative Workplace in a Leading for Excellence” dibawakan oleh Analisa Widyaningrum, M.Sc., M.Psi., Psikolog, seorang psikolog, trainer, dan konsultan yang sudah lebih dari satu dekade berkecimpung di dunia pengembangan SDM dan organisasi yang dibawakan dalam acara Sharing Session Rapat Kerja Nasional PT Nindya Karya di Ballroom lantai 8 Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta, Sabtu(24/1) sungguh sangat memikat.
Analisa juga dikenal sebagai CEO PT APDC Indonesia serta kreator Analisa Channel di YouTube yang konsisten mengangkat isu kesehatan mental, psikologi kerja, dan pengembangan diri.
Sejak awal sesi, ia mengajak peserta untuk kembali menyadari bahwa setiap kontribusi, sekecil apa pun, adalah bentuk dedikasi nyata bagi organisasi dan bahkan bangsa, terutama saat semua dihadapkan pada target besar menuju 2026.
Menurut Analisa, menghadapi target ambisius tidak bisa hanya mengandalkan strategi dan angka. Yang jauh lebih krusial adalah membangun collaborative workplace, yaitu lingkungan kerja yang aman secara psikologis, suportif, dan memberi ruang bagi setiap orang untuk belajar dan berkolaborasi.
Ia menyoroti realita kerja lintas generasi: mulai dari Baby Boomers, Gen X, Milenial, hingga Gen Z, yang sering kali punya cara pandang dan ritme kerja berbeda. Jika tidak dikelola dengan baik, perbedaan ini bisa memicu konflik, tetapi jika disatukan dalam satu arah, justru menjadi kekuatan besar bagi organisasi.
Analisa juga membahas bagaimana tekanan target bisa memunculkan respons psikologis yang berbeda pada setiap individu. Ada yang langsung siap bertarung, ada pula yang butuh waktu untuk beradaptasi.
Ia menjelaskan secara sederhana cara kerja otak saat menghadapi tantangan, mulai dari reaksi emosional hingga proses berpikir logis. Dengan memahami hal ini, individu diharapkan bisa lebih sadar diri, tidak reaktif, dan mampu mengambil keputusan dengan lebih tenang di tengah situasi yang penuh tuntutan.
Tak kalah penting, Analisa menekankan peran growth mindset dan kemampuan mengatur diri (self-regulation). Ia mengajak peserta untuk menggeser pola pikir dari “saya gagal” menjadi “saya belum berhasil”.
Bukan untuk menormalisasi kegagalan, tapi agar setiap tantangan bisa dilihat sebagai proses belajar. Ketahanan mental, menurutnya, bukan sesuatu yang instan, melainkan kebiasaan yang dibangun sedikit demi sedikit melalui refleksi, latihan, dan keberanian menghadapi hal sulit.
Di akhir sesi, Analisa menyampaikan pesan yang cukup membekas: kita memang tidak selalu bisa mengendalikan tantangan, kebijakan, atau situasi di sekitar kita, tetapi kita selalu punya kendali atas sikap, usaha terbaik, dan kontribusi yang kita berikan.
Kolaborasi yang hebat lahir ketika individu-individu yang kuat memilih untuk selaras, mampu mengelola dirinya, dan bergerak bersama menuju tujuan yang sama, sambil tetap berusaha bekerja dengan baik, berkembang, dan merasa bahagia dalam prosesnya.