Lebih dari Sekadar Drama Keluarga: “Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan” dan Keagungan Cinta Seorang Ibu
Pernahkah kita duduk di kursi bioskop dan tiba-tiba merasa bahwa layar lebar di depan kita sedang berbicara langsung kepada jiwa? Bukan kepada pikiran, bukan kepada nalar, melainkan kepada bagian paling dalam dari diri kita yang jarang kita sentuh, yaitu rasa rindu yang tak terucap kepada orang-orang yang paling kita sayangi.
Itulah yang dilakukan oleh film “Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan”, sebuah drama keluarga Indonesia yang tayang serentak di bioskop seluruh tanah air sejak 13 Mei 2026 dan langsung menorehkan bekas yang sulit dihapus.
Disutradarai oleh Kuntz Agus dan ditulis oleh Alim Sudio, film berdurasi 113 menit ini diproduksi oleh Rapi Films bekerja sama dengan Screenplay Films dan Vortera Studios, di bawah produser Gope T. Samtani. Dari nama-nama di balik layar itu saja, kita sudah bisa menduga bahwa ini bukan film yang dikerjakan setengah-setengah.
Dan kenyataannya memang demikian. Film ini lahir dari sebuah keberanian untuk berbicara tentang sesuatu yang sering kita hindari, yaitu kehilangan yang perlahan, yang tidak datang sekaligus, melainkan merayap diam-diam seperti air yang mengikis batu.
Kisahnya berpusat pada Kesha, seorang mahasiswi tingkat akhir sekolah film yang diperankan oleh Yasmin Napper. Kesha adalah anak sulung yang keras hati, penuh ambisi, dan sedang berada di persimpangan terbesar dalam hidupnya: menyelesaikan tugas akhir yang menjadi tiket menuju impiannya.
Namun di sisi lain, ada ibunya, Yuke Yolanda, seorang guru yang dicintai murid-muridnya, pusat kehangatan keluarganya, wanita yang selalu tahu cara membuat rumah terasa seperti rumah. Yuke diperankan oleh Lulu Tobing, aktris senior yang namanya sudah menjadi jaminan kualitas dalam dunia perfilman Indonesia selama lebih dari tiga dekade.
Lalu sesuatu terjadi pada Yuke. Ia mulai lupa. Bukan lupa yang biasa, bukan sekadar salah menaruh kunci atau tertukar nama tetangga. Yuke lupa ulang tahun pernikahan. Lupa jalan menuju sekolah yang sudah ia lalui bertahun-tahun.
Dan yang paling mengiris hati, ia mulai lupa hal-hal penting tentang anak-anaknya sendiri. Penyakit itu, yang kemudian dikonfirmasi sebagai Alzheimer, mengubah segalanya. Rumah yang tadinya penuh tawa kini menyimpan keheningan yang berat.
Di sinilah konflik sesungguhnya bermula. Bukan konflik yang dibuat-buat, bukan drama yang dipaksakan, melainkan pergumulan batin yang nyata dan dekat: haruskah Kesha melepas impiannya demi hadir untuk sang ibu sebelum ia benar-benar hilang dari ingatan ibunya sendiri? Pertanyaan itu bukan pertanyaan yang mudah dijawab, dan film ini tidak berpura-pura menyediakan jawaban yang mudah.
Ibnu Jamil tampil sebagai Aldo, sang ayah dan suami, sosok yang mencintai Yuke dengan segenap dirinya namun juga harus belajar berdiri tegak di tengah badai yang tidak ia bayangkan. Ibnu Jamil menghadirkan ketenangan yang bukan ketidakpedulian, melainkan jenis kekuatan yang diam-diam menopang semua orang di sekitarnya. Perannya terasa organik, tidak berlebihan, dan justru karena itulah ia mampu menyentuh.
Dua anak lainnya hadir melengkapi potret keluarga ini. Sofia Shireen sebagai Kenya, si anak tengah yang selalu berprestasi, dan Jordan Omar Firzanah sebagai Karlo, si bungsu.
Ketiganya bersama-sama membentuk sebuah ekosistem keluarga yang terasa nyata karena tidak sempurna, dan karena tidak sempurna itulah kita bisa melihat diri kita di dalamnya.
Yang membuat film ini luar biasa adalah cara Kuntz Agus memilih untuk tidak berteriak. Banyak film tentang penyakit dan kehilangan terjebak dalam kepanikan emosional, memaksa penonton untuk menangis dengan musik yang terlalu dramatis dan adegan yang dibuat semata-mata untuk memeras air mata.
“Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan” memilih jalan yang lebih jujur. Kamera tidak terburu-buru. Setiap momen dibiarkan bernapas. Ada adegan-adegan kecil yang tampak tidak penting tetapi meninggalkan duka yang paling dalam, seperti saat Yuke menatap foto keluarga dengan wajah yang berusaha keras mengingat, atau saat Kesha terdiam di depan pintu kamar ibunya dengan tangan yang hampir mengetuk namun pada akhirnya tidak jadi.
Penampilan Lulu Tobing adalah poros dari segalanya. Ia memainkan Yuke dengan kepekaan yang sangat halus. Kita tidak menyaksikan pertunjukan penyakit, kita menyaksikan seorang manusia yang perlahan kehilangan jangkarnya sendiri namun tetap berjuang dengan segala yang tersisa.
Ada kelembutan yang menyayat, ada momen-momen lucid yang justru terasa lebih menyedihkan daripada saat ia lupa, karena di saat-saat itulah Yuke menyadari apa yang sedang ia hilangkan. Ini adalah salah satu penampilan terbaik dalam karier Lulu Tobing yang sudah panjang dan penuh pencapaian.
Yasmin Napper, di sisi lain, membuktikan bahwa ia bukan sekadar wajah muda yang menjual popularitas. Kesha adalah karakter yang kompleks, tidak mudah dicintai di setiap momen, tapi justru itulah yang membuatnya terasa manusiawi.
Ia bisa keras, ia bisa egois, ia bisa menyesal, dan ia bisa mencintai dengan cara yang canggung tapi tulus. Yasmin menari di antara semua itu dengan keyakinan yang melampaui usianya.
Menarik pula untuk dicatat bahwa film ini terinspirasi dari lagu viral Mitty Zasia berjudul sama yang dirilis dalam album “27” pada tahun 2023. Lagu itu sendiri sudah membawa beban emosional yang besar, dan film ini mengambil nyawa dari judul tersebut lalu mengembangkannya menjadi sebuah narasi yang jauh lebih luas dan dalam. Sebuah keputusan kreatif yang berani dan terbukti berhasil.
Secara keseluruhan, film ini adalah pernyataan tentang apa yang benar-benar penting dalam hidup. Di zaman ketika semua orang berlomba mengejar pencapaian, ketika kata “produktif” telah menjadi standar moral, “Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan” datang dengan pertanyaan yang sederhana namun menghantam keras: apa gunanya semua pencapaian itu jika suatu hari orang yang paling kita sayangi tidak lagi bisa mengingat kita? Bukan sebagai tuduhan, melainkan sebagai pengingat. Sebuah tamparan lembut yang terasa seperti pelukan.
Kita boleh kehilangan banyak hal dalam perjalanan hidup ini. Kesempatan yang lewat, nilai yang tidak sempurna, mimpi yang harus disesuaikan dengan kenyataan.
Semua itu boleh hilang. Tapi jangan sampai kita yang hilang dari ingatan dan hati mereka yang paling mencintai kita, terutama ibu, sosok yang bahkan dalam kondisi terburuknya tetap berusaha mengingat nama kita dengan sisa kekuatannya.
Tontonlah film ini. Dan setelah itu, hubungi ibumu. Atau peluklah ia jika kamu beruntung masih bisa melakukannya.