4 Tahun Sejak Papa Berpulang : Jejak Langkah yang Tak Akan Pernah Terhapus
Di bawah langit Makassar yang senja dan lembap, empat tahun silam pada tanggal 11 Juli 2021, waktu seolah mengendap, membekukan segala detak dan denyut di dada. Ayah saya, lelaki yang selalu mencatat kenangan, Karim van Gobel, pergi dengan tenang.
Tidak ada suara gaduh, tidak ada peluk tangis yang berlarut—hanya keheningan yang perlahan berubah menjadi kepedihan abadi. Saya, anak tertua dari empat bersaudara, menjadi saksi atas kepergian lelaki yang selama ini saya kira tak akan pernah lelah, tak akan pernah hancur, dan tak akan pernah meninggalkan kami.
Ayah adalah sosok jangkung bersahaja yang tak banyak bicara, namun setiap geraknya adalah bahasa kasih yang tak terucapkan. Ia bukan lelaki yang selalu mencium kening anak-anaknya setiap pagi, tetapi setiap peluh yang menetes dari dahinya adalah doa yang dikirimnya diam-diam kepada Tuhan agar kami, anak-anaknya, bisa hidup lebih mudah darinya.
Ia lelaki yang memilih berjalan kaki daripada melihat anak-anaknya kelaparan; lelaki yang lebih sering membetulkan sepatu kami daripada membeli sepatu baru untuk dirinya sendiri.
Dalam ingatan masa kecil saya, ayah adalah tiang yang menyangga rumah kami dari ambruknya dunia.
Saya ingat waktu kami masih kecil di Bone-Bone, Palopo, ayah dengan tekun merawat tanaman di kebun belakang rumah, dan hasil panennya dijadikan ibu kami tercinta menjadi sajian makanan nikmat di meja makan ketika gaji ayah sebagai pegawai negeri Departemen Pertanian kerap telat tiba.
Ayah dengan sabar dan bertanggung jawab menjaga kami dengan tangguh di sebuah desa yang jauh dari kota besar.
Saat kembali dari kantor, ayah pulang dengan senyum yang letih tapi tulus, seolah hari yang panjang itu hanya pembuka bagi kisah-kisah kecil yang ingin ia dengarkan dari mulut anak-anaknya.
Betapa sabarnya ia menyimak celoteh kami—tentang nilai ulangan, tentang teman-teman sekolah, tentang hal-hal kecil yang bagi kami penting, dan baginya adalah bahan bakar untuk bertahan satu hari lagi.
Sebagai anak sulung, saya sering merasa menjadi tangan kanan ayah. Tapi belakangan saya sadar, lebih sering saya adalah beban tambahan yang ia tanggung dalam diam. Saya yang pertama kali sekolah, pertama kali minta sepeda, pertama kali membuatnya marah karena nilai jelekku.
Pernah suatu malam, saat listrik padam dan hujan mengguyur deras, kami berempat menggigil di ruang tengah. Ayah datang membawa satu-satunya lampu minyak yang masih menyala, menaruhnya di tengah-tengah kami, lalu membuka pelukan lebar-lebar. “Kalian tidak sendiri,” katanya, pelan. Dan pelukan itulah yang hingga kini saya rindukan dalam gelap hidupku—pelukan yang menenangkan, yang menguatkan, yang menegaskan bahwa selama ayah ada, kami aman.
Saya masih ingat betul bagaimana tangannya yang kasar namun hangat itu selalu siap mengusap air mata kami berempat ketika dunia terasa terlalu kejam untuk anak-anak kecil.
Sebagai anak sulung, saya sering menjadi saksi bagaimana Ayah berjuang keras memastikan tidak ada satu pun dari kami yang merasa kekurangan kasih sayang, meski rezeki tidak selalu melimpah.
Ayah tidak pernah mengeluh, bahkan ketika tubuhnya mulai melemah, ketika napasnya menjadi pendek dan langkahnya kian lambat.
Ia tetap ingin memaksa berjalan meski tertatih karena penyakit yang diderita, tetap ingin selalu merawat tanaman kesukaannya, tetap ingin menanyakan kabar kami satu per satu lewat telepon atau video call, meski hanya lewat sorot matanya yang mulai suram.
Ia memilih untuk tetap menjadi penopang, bahkan di hari-hari terakhirnya, ketika dunia sudah tak lagi ia genggam dengan utuh.
Kini, setiap kali saya berdiri di depan cermin, saya melihat bayangan ayah dalam garis wajahku. Dan setiap kali saya memeluk anakku, saya teringat bahwa pelukanku berasal dari pelukan yang pernah ayah berikan dulu.
Ayah tidak hanya meninggalkan nama atau kenangan—ia meninggalkan nilai-nilai, prinsip, keteguhan, dan kasih sayang yang tak mengenal syarat. “Nak,” kata ayah suatu waktu ketika menemani saya belajar dengan suara lembut, “Papa mungkin tidak bisa memberikan harta berlimpah, tapi Papa akan pastikan kalian semua punya bekal ilmu untuk mengarungi hidup.”
Kalimat itu kini terngiang di telinga saya, mengingatkan pada sosok ayah yang selalu percaya bahwa pendidikan adalah warisan terbaik yang bisa diberikan kepada anak-anaknya.
Bahkan ketika keadaan ekonomi keluarga sedang sulit, ayah tetap menyempatkan diri menghadiri setiap acara sekolah kami, berdiri bangga di barisan belakang dengan baju yang sudah lusuh namun bersih dan rapi.
Ayah mengajarkan bahwa menjadi seorang pria sejati bukan tentang seberapa kuat kita bisa memukul, melainkan seberapa lembut kita bisa memeluk.
Bukan tentang seberapa keras kita bisa berteriak, melainkan seberapa sabar kita bisa mendengarkan. Bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa besar kita bisa memberi
Ayah sangat tekun mencatat setiap kejadian di diary-nya. Saya selalu ingat, selalu, menjelang akhir tahun, beliau meminta saya membelikan sebuah diary baru untuk catatannya di tahun depan.
Ternyata isinya tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Dalam fikiran saya, ayah menulis diary dengan uraian-uraian yang panjang, deskriptif , emosional, kadang-kadang narsis plus opini-opini singkat tentang sebuah hal, seperti layaknya gaya penulisan gadis-gadis ABG di buku hariannya. Tapi ternyata sangat berbeda.
Isi catatan harian beliau berupa tulisan-tulisan singkat yang merangkum isi kegiatan hari ini. Hanya berupa lima sampai sepuluh kalimat. Setiap peristiwa dalam hari yang sama dirangkum dalam tulisan singkat secara berurutan. Sesuai waktu kejadiannya. Saya membuka-buka lembaran sebelumnya. Dan isinya tetap sama model penulisannya.
“Papa tidak pintar menulis seperti kamu, nak. Jadi kalau kamu mengharapkan tulisan yang panjang-panjang di diary Papa, maka pasti tidak akan kamu dapatkan. Papa hanya mencatat peristiwa demi peristiwa yang terjadi setiap hari. Secara singkat tapi padat makna,” kata ayah saya menjelaskan seperti telah mengetahui apa yang tengah saya fikirkan ketika itu.
Betapapun bersahajanya ayah mencatat kejadian di buku hariannya, saya melihatnya sebagai upaya beliau mengabadikan kenangan yang telah terjadi. Secara konsisten selama bertahun-tahun. Dan kalimat-kalimat singkat yang beliau tulis di buku diary-nya mendadak menjelma menjadi sebuah interpretasi nyata di benak saya. Seperti sebuah video yang di-“rewind” ulang dan menyajikan kembali peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi.
“Beginilah salah satu cara Papa menghargai nikmat hidup yang sudah dikaruniakan Allah SWT kepada kita, Nak. Mencatatnya, sesederhana apapun. Dan menyimpannya sebagai bagian dari kenangan hidup yang tak terpisahkan juga sebagai wujud dari rasa syukur kita kepada sang pencipta karena masih diberikan nafas untuk melanjutkan hidup,” tambah ayah saya lagi. Tegar dan penuh keyakinan.
Ayah, saya masih sering bermimpi tentangmu. Kadang kita duduk di beranda, seperti dulu, hanya berdua, tanpa bicara. Angin sore datang membawa bau tanah dan suara burung.
Saya menyaksikan ayah mengisap rokok kegemarannya dengan takzim seraya bercakap kepada saya tentang hal-hal yang penting dan juga tidak penting. Kami kadang tertawa bersama atas lelucon-lelucon receh yang menggelikan.
Ayah menepuk bahu saya, lalu mengangguk pelan. Dan saya tahu, meski raganya telah tiada, cintanya tetap mengalir deras dalam darah kami. Ayah tidak pernah benar-benar pergi, karena setiap detik hidup yang kami jalani hari ini adalah hasil dari cinta yang telah beliau tanam dalam-dalam dan sirami sepanjang usia.
Hari-hari ini, saya sering membayangkan ayah masih di sana, mungkin sedang duduk di antara awan, memandang kami dengan senyum bijak yang dulu jarang beliau tunjukkan.
Mungkin ayah merasa tenang karena anak-anaknya kini berjalan di atas jalan yang telah beliau rintis dengan cucuran keringat dan doa-doa panjang di sepertiga malam.
Dalam keheningan malam-malam tanpa dirimu, ayah, saya sering membisikkan doa lirih. Bukan hanya untuk keselamatan arwahmu, tapi untuk memelukmu sekali lagi — walau hanya dalam mimpi.
Empat tahun telah berlalu, Makassar tak lagi sama tanpamu, Ayah. Tapi dalam setiap langkah yang saya ambil, dalam setiap keputusan yang saya hadapi sebagai kepala keluarga, saya akan selalu mencoba menjadi seperti dirimu: lelaki tangguh yang mencintai tanpa perlu selalu mengucap, yang melindungi dengan diam, dan yang pergi dengan segala hormat yang semesta berikan.

Kami berempat akan terus melanjutkan jejak langkahmu, menjadi manusia yang baik seperti yang selalu engkau ajarkan. Dan suatu hari nanti, ketika waktunya tiba, kita akan bertemu lagi dalam pelukan yang tidak akan pernah berakhir.
Terima kasih, Ayah. Engkau adalah rumah yang tidak pernah runtuh dalam kenangan kami.