Catatan Dari Hati

Ketika Algoritma Menjadi Hakim: Mencari Keadilan di Tengah Tumpukan Data

“Jika sebuah hukum gagal menegakkan keadilan, maka ia menjadi bendungan berbahaya yang menghalangi arus kemajuan sosial.”Martin Luther King Jr.

Sesuatu yang mengganggu sedang mengubah cara kita bekerja hari ini. Bayangkan seorang pengantar makanan yang berlari di bawah terik matahari Jakarta, keringat membasahi kemejanya, napasnya tersengal-sengal mengejar waktu yang dihitung dalam hitungan detik oleh sebuah mesin yang tak pernah ia lihat wajahnya.

Setiap langkahnya dipantau, setiap belokannya dicatat, setiap detik keterlambatannya menjadi angka yang akan menentukan apakah besok ia masih bisa bekerja atau tidak. Ia bukan lagi manusia dengan nama, ia menjadi titik data yang bergerak di layar, dinilai bukan oleh manusia, tetapi oleh algoritma yang tak pernah merasakan lelah, lapar, atau takut.

Inilah realitas kerja di era digital yang kita jalani sekarang. Di seluruh dunia, sekitar 154 juta hingga 435 juta pekerja kini terlibat dalam ekonomi gig online, mewakili antara 4,4 hingga 12,5 persen dari tenaga kerja global.

Di Amerika Serikat saja, lebih dari 72,9 juta orang bekerja secara independen, dengan sekitar 36 persen dari seluruh tenaga kerja terlibat dalam pekerjaan lepas.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik; mereka adalah ayah yang mencoba menghidupi keluarganya, mahasiswa yang membayar biaya kuliahnya, ibu tunggal yang berjuang memberi makan anak-anaknya.

Mereka semua kini hidup di bawah pandangan tanpa henti dari sistem digital yang mengklaim demi efisiensi, tetapi seringkali mengorbankan kemanusiaan.

Ekonomi gig sendiri merujuk pada sistem kerja di mana orang tidak lagi terikat pada pekerjaan tetap dengan satu pemberi kerja, melainkan mengambil pekerjaan jangka pendek, proyek lepas, atau tugas berbasis kontrak melalui platform digital.

Mereka adalah pengemudi ojek daring, pengantar makanan, pekerja lepas yang mengerjakan desain grafis dari rumah, programmer yang menyelesaikan proyek untuk klien di benua lain, hingga konsultan yang berpindah dari satu tugas ke tugas lainnya.

Inti dari ekonomi gig adalah fleksibilitas: kebebasan memilih kapan bekerja, di mana bekerja, dan untuk siapa bekerja.

Namun di balik janji kebebasan ini, tersembunyi sistem kontrol baru yang jauh lebih canggih dan meresap: algoritma yang memantau setiap gerakan, menilai setiap kinerja, dan menentukan nasib pekerja tanpa sentuhan manusiawi.

Fenomena ini memiliki nama: manajemen algoritmik. Penelitian terkini menunjukkan bahwa 42,3 persen pekerja di Uni Eropa terpengaruh oleh manajemen algoritmik, dengan variasi dari 27 persen di Yunani hingga 70 persen di Denmark.

Ini bukan lagi hanya tentang platform seperti Uber atau Gojek, tetapi telah merambah ke gudang-gudang logistik, pusat panggilan pelanggan, bahkan rumah sakit.

Di mana-mana, kecerdasan buatan kini membuat keputusan tentang siapa yang mendapat pekerjaan, siapa yang dievaluasi baik, dan siapa yang dipecat , seringkali tanpa penjelasan yang memadai kepada manusia yang terdampak.

Yang paling memprihatinkan adalah bagaimana sistem ini mengubah martabat kerja menjadi sekedar angka produktivitas. Studi dari Joint Research Centre Eropa menemukan bahwa bentuk paling umum dari manajemen algoritmik adalah pemantauan waktu kerja secara digital, meskipun pemantauan fisik pekerja atau pemantauan aktivitas mereka juga cukup lazim di berbagai sektor.

Lebih mengkhawatirkan lagi, evaluasi otomatis terhadap pekerja, meskipun kurang lazim, tetap signifikan di beberapa sektor tertentu. Bayangkan bekerja di mana setiap gerakan Anda, setiap jeda Anda, setiap detik istirahat Anda dicatat dan dinilai oleh mesin yang tidak memahami bahwa Anda mungkin perlu istirahat karena sakit, atau karena Anda baru saja menerima kabar buruk dari keluarga.

Pengawasan digital ini menciptakan lingkungan kerja yang penuh tekanan. Survei tahun 2024 menunjukkan bahwa 62 persen eksekutif mengakui perusahaan mereka menggunakan teknologi baru untuk mengumpulkan data tentang karyawan , mulai dari kualitas pekerjaan hingga keselamatan dan kesejahteraan , namun kurang dari sepertiga merasa yakin bahwa mereka menggunakan data tersebut secara bertanggung jawab.

Lebih memprihatinkan lagi, 65 persen pekerja merasa bahwa pemantauan online aktivitas mereka selama jam kerja adalah pelanggaran privasi. Angka ini bahkan lebih tinggi di kalangan generasi muda: 72 persen dari Generasi Z setuju bahwa privasi mereka dilanggar, dibandingkan dengan 60 persen dari Baby Boomers.

Dampak dari pengawasan konstan ini tidak hanya psikologis. Penelitian menunjukkan bahwa pekerja yang dikelola secara algoritmik mengalami peningkatan cedera, lebih banyak ketidakpastian kerja, lingkungan kerja yang koersif, pencurian upah rutin, dan berbagai kerugian lainnya.

Di gudang-gudang logistik, sistem pelacakan kinerja memantau tingkat pengambilan barang dan secara otomatis menandai penyimpangan. Di pusat panggilan, analisis sentimen dan alat perutean mengalokasikan kasus dan menilai nada layanan.

Sistem-sistem ini tidak hanya mengawasi; mereka membentuk cara orang bekerja dengan cara yang sering mengabaikan batas-batas manusiawi.

Namun, ada paradoks yang menyakitkan di sini. Banyak pekerja gig melaporkan bahwa mereka menikmati fleksibilitas yang diberikan oleh pekerjaan mereka. Menurut survei terkini, 75 persen pekerja lepas mengatakan mereka menikmati lebih banyak kebebasan dibandingkan dengan 61 persen pekerja tradisional.

Namun, kebebasan ini datang dengan harga yang tinggi. Hanya 40 persen pekerja ekonomi gig Amerika yang memiliki akses ke asuransi kesehatan. Lebih dari sepertiga yang melakukan pekerjaan gig mengatakan tanpa pekerjaan tersebut, mereka akan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.

Mereka yang melakukan pekerjaan platform yakni tugas jangka pendek yang diatur melalui aplikasi , melaporkan kondisi finansial terburuk, dengan kemungkinan lebih rendah untuk membayar semua tagihan mereka atau memiliki tabungan darurat tiga bulan.

Kesenjangan upah dalam ekonomi gig bahkan lebih buruk daripada di pasar kerja tradisional. Kesenjangan upah gender dalam ekonomi gig adalah 30 persen, naik dari 20 persen di pasar kerja tradisional.

Ini didorong oleh faktor-faktor seperti kualifikasi, preferensi proyek, ekspektasi tarif, dan tanggung jawab merawat yang lebih luas. Perempuan yang bekerja di platform menghadapi risiko yang lebih tinggi, termasuk kecelakaan dan kekerasan berbasis gender.

Di tengah semua ini, media sosial memainkan peran yang kompleks dan seringkali meresahkan. Platform digital tidak hanya tempat kerja dicari dan dievaluasi, tetapi juga arena di mana reputasi pekerja dibangun dan dihancurkan.

Ulasan pelanggan, penilaian bintang, komentar online , semua ini menjadi bagian dari profil digital yang mengikuti pekerja ke mana pun mereka pergi. Di Amerika Serikat, 29 persen pemberi kerja memantau penggunaan media sosial karyawan, dan banyak pekerja dipecat karena postingan media sosial mereka setiap tahunnya, bahkan ketika postingan tersebut dibuat di luar jam kerja dan tidak terkait dengan pekerjaan mereka.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana data dari media sosial dan platform digital lainnya digunakan untuk membuat profil pekerja. Sistem kecerdasan buatan dapat mengumpulkan informasi yang luas tentang perilaku pekerja, lokasi, kinerja, bahkan keadaan emosional mereka.

Data biometrik seperti detak jantung, pola tidur, atau tingkat aktivitas dapat menentukan apakah seorang pekerja cocok untuk tugas fisik, dan bahkan memprediksi sakit, kehamilan, atau permintaan cuti.

Penggunaan ini dapat dimanfaatkan oleh pemberi kerja untuk memanipulasi produktivitas pekerja atau merestrukturisasi pengaturan kerja. Sebagian besar pekerja tidak menyadari penggunaan alternatif ini, atau mungkin hanya menyetujui penggunaan aslinya.

Tantangan-tantangan ini bukan hanya masalah teknis atau ekonomis; mereka adalah pertanyaan moral dan etis yang mendasar tentang bagaimana kita menghargai kerja manusia di abad ke-21.

Ketika ekonomi gig global diproyeksikan mencapai nilai 2.178,4 miliar dolar AS pada tahun 2034, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan 15,79 persen, kita harus bertanya: untuk siapa kekayaan ini diciptakan? Apakah hanya untuk pemilik platform dan pemegang saham, atau juga untuk jutaan pekerja yang membuat sistem ini berfungsi dengan keringat dan kerja keras mereka?

Solusinya harus datang dari berbagai arah. Pertama, kita memerlukan regulasi yang lebih kuat dan lebih manusiawi. Platform Work Directive Uni Eropa mengharuskan semua negara anggota untuk mengimplementasikan kebijakan yang memberikan hak kerja penuh dan manfaat kepada jutaan pekerja gig pada 2 Desember 2026.

Ini adalah langkah penting, tetapi harus diikuti oleh penegakan yang ketat dan perlindungan nyata. Di Amerika Serikat, beberapa negara bagian mulai mempertimbangkan undang-undang yang membatasi pengawasan tempat kerja yang invasif, meskipun kemajuannya lambat dan tidak merata.

Kedua, kita memerlukan transparansi yang lebih besar dalam cara algoritma membuat keputusan. Pekerja berhak mengetahui bagaimana mereka dievaluasi, data apa yang dikumpulkan tentang mereka, dan bagaimana data tersebut digunakan.

Berbagai usulan undang-undang di Amerika Serikat bertujuan mengharuskan pemberi kerja untuk mengungkapkan informasi kepada pekerja tentang praktik pengawasan mereka, termasuk jenis data yang dikumpulkan, cara pengumpulan, dan tujuan bisnis penggunaannya. Meskipun belum sepenuhnya disahkan, undang-undang seperti ini menunjukkan arah yang benar.

Ketiga, kita perlu mendesain ulang sistem algoritmik dengan mempertimbangkan kesejahteraan pekerja sejak awal.

Penelitian dari Swedia menunjukkan bahwa dampak manajemen algoritmik terhadap kesehatan tidak secara inheren berbahaya, tetapi bergantung pada praktik organisasi dan konteks.

Ketika pekerja dilibatkan dalam teknologi manajemen algoritmik, ketika pertimbangan manajemen algoritmik diintegrasikan ke dalam manajemen keselamatan dan kesehatan kerja, dan ketika aplikasi manajemen algoritmik dirancang untuk memungkinkan kontrol pekerja, hasilnya jauh lebih baik.

Ini membuktikan bahwa teknologi itu sendiri tidak harus menjadi musuh kemanusiaan; cara kita merancang dan menerapkannya yang menentukan dampaknya.

Keempat, kita perlu memperkuat organisasi pekerja dan aksi kolektif. Platform digital telah menciptakan bentuk-bentuk baru dari solidaritas pekerja, dengan pekerja berbagi informasi tentang sistem, memberikan tips tentang cara menavigasi algoritma, dan mengorganisir diri secara kolektif untuk menegosiasikan kondisi kerja yang lebih baik melalui forum online dan jaringan peer-to-peer informal. Hak untuk berorganisasi dan berunding bersama harus diperkuat, bukan dilemahkan, di era digital.

Kelima, dan mungkin yang paling penting, kita perlu mengubah cara kita berpikir tentang nilai kerja. Pekerjaan bukan hanya tentang efisiensi dan produktivitas; ini tentang martabat manusia, tentang kontribusi bermakna kepada masyarakat, tentang kemampuan untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga dengan hormat.

Ketika 5,6 juta pekerja independen di Amerika Serikat menghasilkan lebih dari 100.000 dolar AS pada tahun 2025 , sebuah peningkatan signifikan dari tahun-tahun sebelumnya,  ini menunjukkan bahwa ekonomi gig dapat menjadi jalur karier yang layak. Tetapi untuk sebagian besar pekerja, realitasnya jauh lebih sulit.

Kita harus ingat bahwa di balik setiap titik data, di balik setiap metrik produktivitas, di balik setiap peringkat bintang, ada manusia dengan impian, kekhawatiran, keluarga, dan kehidupan yang kompleks.

Mereka adalah pengantar makanan yang berusaha meraih ujian universitas sambil bekerja, sopir yang merawat orang tua yang sakit, pembersih yang berjuang melawan diskriminasi, pekerja gudang yang tubuhnya sakit karena target yang tidak realistis. Mereka semua layak mendapatkan tidak hanya upah yang adil, tetapi juga rasa hormat, keamanan, dan pengakuan atas kemanusiaan mereka.

Perjalanan menuju keadilan di era digital tidak akan mudah. Akan ada resistensi dari perusahaan yang mengandalkan model bisnis berdasarkan eksploitasi. Akan ada argumen tentang efisiensi dan persaingan global.

Akan ada klaim bahwa perlindungan pekerja akan menghambat inovasi. Tetapi kita harus tegas: inovasi yang dibangun di atas penderitaan manusia bukanlah kemajuan sejati.

Teknologi yang menciptakan kekayaan bagi segelintir orang sambil meninggalkan jutaan dalam ketidakpastian bukanlah kesuksesan yang patut dirayakan.

Kita berdiri di persimpangan jalan. Kita dapat terus membiarkan algoritma mendefinisikan nilai manusia berdasarkan metrik yang dingin dan tidak berperasaan, atau kita dapat menuntut sistem yang menempatkan kesejahteraan manusia di pusat desain teknologis.

Kita dapat menerima dunia di mana pekerja hidup dalam ketakutan konstan akan penilaian mesin yang sewenang-wenang, atau kita dapat membangun masa depan di mana teknologi melayani kemanusiaan, bukan sebaliknya.

Pilihan ada di tangan kita, di tangan para pembuat kebijakan yang harus membuat undang-undang yang melindungi pekerja, di tangan para pemimpin perusahaan yang harus memilih keuntungan jangka panjang yang berkelanjutan daripada eksploitasi jangka pendek, di tangan para perancang teknologi yang harus mempertimbangkan dampak kemanusiaan dari kode yang mereka tulis, dan di tangan kita semua sebagai konsumen yang dapat menuntut lebih baik dari platform yang kita gunakan.

Jalan menuju keadilan panjang dan berliku, tetapi kita tidak boleh menyerah. Setiap langkah menuju perlindungan yang lebih baik, setiap undang-undang yang disahkan, setiap pekerja yang diperlakukan dengan martabat, setiap sistem yang dirancang dengan empati , semua ini adalah bagian dari perjuangan yang lebih besar untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak meninggalkan kemanusiaan kita.

Mari kita bekerja bersama untuk membangun dunia di mana setiap pekerja, terlepas dari bagaimana mereka dipekerjakan, diperlakukan dengan keadilan, rasa hormat, dan pengakuan bahwa mereka bukan hanya data, tetapi manusia yang berharga dengan hak yang tidak dapat diganggu gugat atas kehidupan yang bermartabat.

“Kita harus belajar hidup bersama sebagai saudara atau binasa bersama sebagai orang bodoh.” Martin Luther King Jr.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *