Catatan Dari Hati

Rakernas Nindya Karya di Yogyakarta yang Mengesankan dan Mengejutkan (Bagian 2)

Cuaca cerah menyambut kami, peserta Rakernas PT Nindya Karya yang akan mengikuti kegiatan Lava Tour Merapi, Minggu (25/1). Seusai sarapan di resto Samazana lantai Lobby Hotel Royal Ambarukmo, kami segera naik bis dan bergerak menuju lokasi kegiatan yang menempuh waktu sekitar satu jam dari hotel.

Tiba di lokasi kegiatan, setelah beristirahat sejenak dengan menyantap cemilan jajanan pasar dan teh manis, kami semua segera menempati jeep masing-masing bersiap mengikuti petualangan sensasional di area Lava Tour Merapi.

Lava Tour Merapi bermula pasca erupsi besar 2010 di Gunung Merapi, ketika warga setempat mengembangkan wisata berbasis edukasi bencana dan pemulihan ekonomi. Jalur-jalur yang terdampak aliran lava, awan panas, dan lahar kemudian dijadikan rute wisata dengan pemandu lokal yang juga saksi peristiwa erupsi.

Aktivitasnya dilakukan menggunakan jeep 4×4, menyusuri kawasan bekas erupsi seperti Bunker Kaliadem, Museum Sisa Hartaku, dan alur sungai lahar. Selain petualangan off-road, wisatawan mendapat penjelasan tentang sejarah letusan, mitigasi bencana, dan kehidupan masyarakat lereng Merapi—menjadikannya perpaduan antara adrenalin, edukasi, dan wisata budaya.

Saya menempati kursi paling depan di Jeep berwarna ungu bersama pak Yoyok, pak Setyawan dan pak Samuel yang menempati tempat duduk belakang. Saya sudah tidak sabar merasakan sensasi petualangan menyusuri lokasi bekas erupsi Merapi.

Perjalanan berlangsung seru dan menyenangkan. Kami melewati jalan-jalan berbatu dan “dihajar” dengan mulus oleh jeep yang dikemudikan dengan piawai oleh pemandu kami.

Kami mampir berfoto dan meneriakkan yel-yel baru tagline Nindya Karya “Leading to Excellence” dengan penuh semangat di pemberhentian pertama Bunker Kaliadem.

Bunker Kaliadem adalah bangunan perlindungan darurat yang terletak di lereng selatan Gunung Merapi, kawasan Kaliadem, Sleman.

Bunker ini dibangun sebagai tempat berlindung sementara bagi warga dan petugas pemantau saat terjadi erupsi Merapi. Namun pada erupsi besar tahun 2010, bunker tersebut diterjang awan panas (wedhus gembel) bersuhu sangat tinggi.

Peristiwa ini menyebabkan dua relawan yang berlindung di dalamnya meninggal dunia, sehingga bunker menjadi simbol kuat keganasan Merapi dan keterbatasan manusia menghadapi bencana alam.

Saat ini, bunker tidak lagi digunakan sebagai tempat evakuasi, melainkan menjadi situs edukasi dan wisata sejarah bencana. Pengunjung datang untuk belajar tentang vulkanologi, mitigasi bencana, sekaligus mengenang tragedi erupsi Merapi. Bunker ini juga menjadi salah satu titik populer dalam wisata lava tour Merapi.

Singkatnya, Bunker Kaliadem adalah pengingat sunyi: upaya manusia untuk bertahan, pelajaran penting mitigasi bencana, dan memorial atas dahsyatnya alam.

Dari Bunker Kaliadem, kami bergerak menuju Monumen Sisa Hartaku.

Museum Sisa Hartaku adalah museum rakyat yang lahir dari tragedi erupsi besar Gunung Merapi tahun 2010. Museum ini didirikan oleh warga terdampak di Dusun Kaliadem, Sleman, sebagai cara sederhana namun kuat untuk menyimpan memori bencana sekaligus menjadi sarana edukasi.

Isi museum ini adalah barang-barang sisa erupsi—seperti peralatan rumah tangga meleleh, sepeda motor hangus, tulang ternak, hingga jam dinding yang berhenti tepat saat awan panas menerjang. Nama “Sisa Hartaku” mencerminkan realitas pahit warga: harta benda hilang, namun kenangan, pelajaran, dan ketangguhan tetap tersisa.

Singkatnya, museum ini bukan sekadar tempat pameran, melainkan pengingat akan dahsyatnya alam, pentingnya kesiapsiagaan bencana, dan keteguhan manusia dalam bangkit dari kehilangan.

Dari tempat ini kami kemudian bergerak ke lokasi Batu Alien.

Museum Batu Alien Merapi adalah museum kecil sekaligus objek wisata edukatif yang berada di kawasan Kinahrejo, Sleman, di lereng Gunung Merapi.

Museum ini lahir sebagai respons atas erupsi besar Gunung Merapi tahun 2010, salah satu letusan terdahsyat dalam sejarah Merapi modern.

Secara singkat, batu alien adalah bongkahan batu besar hasil lontaran erupsi Merapi 2010 yang bentuknya unik—dari sudut tertentu tampak menyerupai wajah manusia—sehingga oleh warga setempat dijuluki “alien”. Batu ini kemudian dijadikan simbol untuk menceritakan kedahsyatan letusan Merapi.

Dari Batu Alien, kami akhirnya mengikuti “acara puncak” dari Lava Tour kali ini. Sebelum ke lokasi kami diminta untuk mengenakan jas hujan untuk melindungi terjangan air saat mengikuti prosesi terakhir Lava Tour ini.

Jeep yang kami tumpangi dengan kecepatan tinggi turun menyusuri sungai dangkal dibawah sebuah jembatan. Sungguh menyenangkan merasakan sensasi ketika jeep kami menerjang air bahkan beberapa kali membasahi jeep kawan-kawan yang berada di dekat kami. Teriakan-teriakan bergema seru sepanjang kami melewati area yang memang sudah disiapkan sebagai penutup yang manis dan monumental kegiatan Lava Tour itu.

Jeep-jeep dari rombongan Rakernas Nindya Karya menderu garang, bergoyang-goyang dan meliuk-liuk melewati kubangan air di sungai tersebut. Saya begitu menikmati pengalaman yang baru pertama kali saya alami ini.

Setelah 3 kali berputar di area, kami kembali ke Joglo Athlya tempat kami sebelumnya berkumpul dan makan siang disana kemudian balik ke hotel Royal Ambarukmo.

Sore harinya, kami bergerak menuju ke resto Kinara Kinari di kompleks Candi Prambanan untuk mengikuti acara Gala Dinner bersama seluruh peserta Rakernas Nindya Karya. Sebelum acara saya menyempatkan diri berfoto dengan latar belakang Candi Prambanan.

Acara Gala Dinner berlangsung sangat mengesankan, apalagi ada sendratari Ramayana  yang sungguh eksotis dan dipentaskan secara memukau di hadapan kami beserta hiburan band yang impresif.

Sendratari Ramayana di kompleks Candi Prambanan adalah pertunjukan seni kolosal yang mengisahkan epos Ramayana melalui perpaduan tari Jawa klasik, musik gamelan, dan drama visual—tanpa dialog lisan.

Cerita berfokus pada perjalanan cinta Rama dan Shinta, penculikan Shinta oleh Rahwana, hingga pertempuran akbar yang dibantu Hanoman dan pasukan kera.

Keistimewaannya terletak pada panggung terbuka dengan latar siluet megah Candi Prambanan, terutama saat pementasan malam hari yang dramatis dengan tata cahaya artistik.

Sendratari ini mulai rutin dipentaskan sejak dekade 1960-an, dan kini dikenal secara internasional sebagai Ramayana Ballet Prambanan—ikon wisata budaya yang menegaskan kekayaan tradisi Jawa sekaligus daya tarik warisan dunia.

Pukul 22.30 malam rangkaian acara Rakernas selesai. Para peserta kembali ke hotel untuk beristirahat dan keesokan paginya kembali ke Jakarta dengan kereta api Taksaka pukul 07.30 pagi dari stasiun Tugu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *