Catatan Dari Hati

Rakernas Nindya Karya di Yogyakarta yang Mengesankan dan Mengejutkan (Bagian 1)

Rombongan peserta Rakernas PT Nindya Karya tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta, pukul 13.35, Jum’at (23/1) dengan menumpang kereta api Taksaka dari Stasiun Gambir yang berangkat pukul 07.30.

Para peserta Rakernas Nindya Karya terdiri dari jajaran BOD-1 dan BOD-2 serta panitia terlihat sumringah meski saat kami tiba, gerimis tipis melanda kota Gudeg itu. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit dari stasiun Tugu, kami tiba di Hotel Royal Ambarukmo yang akan menjadi tempat kami menginap dan mengikuti Rakernas hingga Senin pekan depan.

Saya sendiri menempati kamar 524 bersama pak Yuhan Prasiswa, VP Sistem dan Administrasi, sesama kolega saya di Divisi SCM PT.Nindya Karya. Suasana kamar begitu eksotis, dengan sarat nuansa budaya khas Yogya.

Lokasi hotel ini sebenarnya berasal dari kompleks Kedhaton Ambarrukmo, yaitu sebuah pesanggrahan atau kediaman istana milik Kasultanan Yogyakarta yang dibangun pertama kali oleh Sultan Hamengku Buwono V sekitar tahun 1857–1859. Bangunan ini awalnya berfungsi sebagai tempat peristirahatan dan juga tempat menjamu tamu penting kerajaan.

Pada awal 1960-an, berdasarkan gagasan Presiden Ir. Soekarno bekerja sama dengan Sultan Hamengku Buwono IX, area ini kemudian dikembangkan menjadi hotel mewah bertaraf internasional.

Hotel dibangun di sisi timur kompleks istana dengan dukungan dana pampasan dari Jepang setelah Perang Dunia II dan mulai dibuka pada 20 Maret 1966 dengan nama Ambarrukmo Palace Hotel. Hotel ini menjadi salah satu hotel bintang lima pertama di Yogyakarta dan mencerminkan arsitektur modern era tersebut, namun tetap terintegrasi dengan elemen budaya Jawa.

Setelah beberapa dekade beroperasi dan mengalami sejumlah perubahan manajemen (termasuk sempat dikelola oleh jaringan internasional seperti Okura dan Sheraton), hotel ini sempat ditutup pada tahun 2004 untuk renovasi besar.

Kemudian, setelah renovasi selama beberapa tahun, hotel ini dibuka kembali pada September 2011 dan diberi nama Royal Ambarrukmo Yogyakarta, dengan fokus kuat pada pelestarian budaya Jawa dan warisan sejarah dalam setiap aspek pelayanan dan desainnya.

Pukul 19.00 kami berkumpul di Ballroom Kesultanan 1 lt. 2 untuk mengikuti prosesi pelantikan pejabat yang dilakukan langsung oleh Direksi PT Nindya Karya. Momen pelantikan malam itu, buat saya merupakan sebuah kejutan tersendiri karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya posisi saya sebagai Vice President Pengadaan 2 Divisi Supply Chain Management dipindahkan ke Nindya Learning Center sebagai Technical Advisor.

Meski kaget, namun saya ikhlas menerima penugasan baru itu sebagai bagian dari dinamika korporasi yang tentu akan menyesuaikan dengan setiap perubahan, seiring zaman dan waktu. Buat saya, dengan jabatan baru tersebut merupakan tantangan buat saya untuk berkarya lebih baik di medan “perjuangan” baru yang tentu tidak mudah.

Rakernas Nindya Karya

Keesokan paginya, Sabtu (24/1), kami kembali berkumpul di Ballroom lantai 8 untuk mengikuti kegiatan Rakernas yang mengusung tema “Excellent Execution Through a Focus on Quality, Safety, and Technology”.

Acara Rakernas dibuka oleh Direktur Utama PT Nindya Karya, Firmansyah yang menegaskan komitmen PT Nindya Karya dalam mendorong pelaksanaan proyek yang unggul melalui penguatan kualitas, penerapan standar keselamatan kerja, serta pemanfaatan teknologi secara berkelanjutan di seluruh lini operasional.

Selain membahas target kinerja dan strategi pencapaian perusahaan tahun 2026, Rakernas ini juga menghadirkan sharing session yang diisi oleh para pembicara kompeten di bidangnya.
Materi mengenai persaingan usaha disampaikan oleh M. Hendry Setyawan, Kepala Kantor Wilayah VII Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan Kamal Barok, Kepala Bidang Penegakan Hukum Kantor Wilayah VII Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)

Sesi kedua berupa Presentasi bertajuk “Creating Collaborative Workplace in a Leading for Excellence” dibawakan oleh Analisa Widyaningrum, M.Sc., M.Psi., Psikolog, seorang psikolog, trainer, dan konsultan yang sudah lebih dari satu dekade berkecimpung di dunia pengembangan SDM dan organisasi.

Analisa juga dikenal sebagai CEO PT APDC Indonesia serta kreator Analisa Channel di YouTube yang konsisten mengangkat isu kesehatan mental, psikologi kerja, dan pengembangan diri.

Sejak awal sesi, ia mengajak peserta untuk kembali menyadari bahwa setiap kontribusi, sekecil apa pun, adalah bentuk dedikasi nyata bagi organisasi dan bahkan bangsa, terutama saat semua dihadapkan pada target besar menuju 2026.

Menurut Analisa, menghadapi target ambisius tidak bisa hanya mengandalkan strategi dan angka. Yang jauh lebih krusial adalah membangun collaborative workplace, yaitu lingkungan kerja yang aman secara psikologis, suportif, dan memberi ruang bagi setiap orang untuk belajar dan berkolaborasi.

Ia menyoroti realita kerja lintas generasi: mulai dari Baby Boomers, Gen X, Milenial, hingga Gen Z, yang sering kali punya cara pandang dan ritme kerja berbeda. Jika tidak dikelola dengan baik, perbedaan ini bisa memicu konflik, tetapi jika disatukan dalam satu arah, justru menjadi kekuatan besar bagi organisasi.

Dalam kesempatan Rakernas tersebut, PT Nindya Karya secara resmi meluncurkan tagline baru, “Leading to Excellence”.
Tagline ini merepresentasikan semangat dan tekad perusahaan untuk terus bergerak maju menuju keunggulan berkelanjutan, baik dalam aspek operasional maupun pengembangan bisnis.
Selain peluncuran tagline, PT Nindya Karya juga memperkenalkan Aplikasi Smart Estimating Guide 2.0, sebagai penyempurnaan dari versi sebelumnya. Aplikasi ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah nyata bagi perusahaan, khususnya dalam meningkatkan akurasi perencanaan dan kualitas pengambilan keputusan bisnis.
Melalui penyelenggaraan Rakernas 2026, PT Nindya Karya menegaskan komitmennya untuk terus berinovasi dan mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam memperkuat pembangunan infrastruktur nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *