Archive for the ‘Narsis’ Category

NARSIS (12) : BALADA LELAKI PETANG TEMARAM DAN PEREMPUAN KILAU REMBULAN

Posted 30 Jun 2010 — by amriltg
Category Narsis

Ia, lelaki yang berdiri pada petang temaram selalu membasuh setiap waktu yang berlalu bergegas dengan rindu yang basah pada perempuan kilau rembulan, jauh disana. Ditorehkannya noktah-noktah kangen itu pada setiap tepian senja yang jatuh, setiap hari, dengan sebuah harapan sederhana : agar senja yang membawa lengket rindunya tadi akan menyapa rembulan yang sebentar lagi akan timbul dan bertahta di rangka langit. Bahwa pada cahaya yang dipantulkannya kembali ke mata sejuk perempuan kilau rembulan yang kerapkali menunggunya di beranda, menanti keajaiban apakah lelaki petang temaram akan turun, menjemputnya bersama lelehan senja menoreh cakrawala.

Sebuah “cara” bertemu yang aneh. Namun, begitulah adanya.

Rindu dan jarak, kerapkali menciptakan keanehan pada mereka berdua. Bahwa rindu pada akhirnya bisa melipat jarak, pada titik terdekat antara mereka. Bahwa jarak tak ubahnya hanya sebuah helaan nafas yang kuat menarik segenap semesta rindu yang terhampar luas dan membuat keduanya larut pada ekstase yang mungkin tak pernah bisa dipahami, kapan mulai dan selesainya. Semuanya begitu lekas dan menyisakan rasa di sudut batin.

Lelaki petang temaram kembali membaca puisi yang ditulisnya:

Kita tak akan pernah bisa menyepuh ulang segala impian

dan kenangan yang meranggas perlahan di ringkih hati

lalu menyemai harap, segalanya akan kembali seperti semula

“Karena apa yang tertinggal,” katamu,”seperti sisa jejak kaki

di bibir pantai yang lenyap terhapus hempasan ombak”

Kita hanya akan bisa bersenandung merepih pilu

Dan membuat segenap angan terbang liar mencabik cakrawala

seraya menyimpan segala asa dan rindu

pada diam,

pada keheningan

pada lagu lama yang kita lantunkan

dan bergema lirih hingga ke sudut sepi sanubari

“Karena apa yang kini ada”, ucapmu lagi,”Adalah tempat dimana

angin segala musim bertiup dan arus semua sungai bermuara yang kerap

membuat kita gamang pada pilihan : meniti samar masa depan ataukah

menggenggam nostalgia dan ikut karam bersamanya”

Bagai gelombang, waktu menggilas apapun tanpa peduli.

Kebahagiaan dan kesedihan sekaligus adalah buihnya. Mengapung-apung pada permukaan laut kehidupan, lalu kemudian lenyap ditelan gelombang waktu lalu berganti dengan buih-buih yang baru.

Betapapun itu, waktu boleh saja terus berubah, sejarah boleh jadi memangsa dirinya sendiri dan cinta, barangkali, hanyalah sepenggal ide keliru dari sebuah peradaban yang kian renta. Tapi tetap saja ada yang tak bisa berubah : atas nama kenangan beserta segala hal yang indah dan pahit yang telah dilalui, selalu saja ada ruang luntuknya. Dimana ia, lelaki petang temaram, melafalkan pelan namanya, sang perempuan kilau rembulan.

Dalam sesak rindu menikam dada. Pada pilu mencabik hati.

Dengan jemari gemetar, ia menekan tombol “SEND” untuk mengirim puisinya pada perempuan kilau rembulan.

Semua ini jadi jawaban terbaik atas segala pertanyaan naif yang kerap timbul dalam hatinya.

****

Menangani kesendirian, bagaimanapun, selalu melelahkan.

Dan perempuan kilau rembulan itu menyadari, pada sepi, pada kesendirian yang meresahkan itu, kerinduannya pada lelaki petang temaram kian menjadi. Menyakitkan. Tapi juga melenakan. Membuat ia selalu berusaha menikmatinya dari detik ke detik dengan ratap tertahan dan harapan yang menggantung sia-sia

Semuanya memang tak sama lagi, gumam perempuan itu dengan bibir bergetar. Takdir untuknya telah ditetapkan, dan ia, tak akan pernah bisa menepis, mengabaikan atau bahkan lari jauh dari kenyataan getir yang cepat atau lambat, suka maupun tidak, kelak akan ia hadapi.

Ia lalu membaca ulang puisi yang baru saja ditulisnya. Matanya mendadak menghangat saat bait demi bait puisi itu ditelusurinya.

Haruskah geliat rindu yang kau simpan

pada getar dawai hati, bening kilau embun dan segaris cahaya pagi

membuatmu mesti berhenti pada sebuah titik yang kau namakan

tepian sebuah perjalanan panjang?

Kegetiran ini, katamu, melelahkan

dan membuatmu

kerap terkulai tanpa daya menggapai asa di lereng langit

yang telah beku dicekam gigil kangen lalu luruh satu-satu

serupa hujan membasahi belantara tak berujung

Memori yang telah kita pahat rapi pada dinding kenangan

adalah rumah tempat kita pulang dan berteduh dari reruntuhan musim,

kisah cinta yang absurd juga wadah atas segala kegagahan kita

untuk tetap bertahan dari bentangan jarak dan waktu

Pada akhirnya, hasrat itu akan kita titipkan bersama pada bentang bianglala

lantas menikmatinya, seraya berucap lirih:

“Jejak itu akan ada disana, dalam keindahan dan kepahitan, dalam kehilangan dan keberadaan,

dalam rindu yang menjelma

menjadi remah-remah berpendar terang yang jatuh sepanjang perjalanan”

Perempuan kilau Rembulan menghela nafas panjang.

Aku toh tak selalu harus berada pada kemungkinan-kemungkinan tak membahagiakan, gumamnya perih.

Bagaimanapun hidup mesti dimaknai sebagai jalinan sinergis dan harmonis antara baik dan buruk, bahagia dan tak bahagia, menang dan kalah. Selalu akan ada kemungkinan mengalami kebahagiaan, juga sebaliknya. Dan kemungkinan yang terjadi — baik itu bahagia maupun tidak — akan menghadirkan serta membukakan pilihan-pilihan kemungkinan baru yang kelak pun akan segera ditentukan . Bila kemudian pilihan itu akan mengantarkannya kepada kemungkinan yang tidak membahagiakan, maka ia tak perlu risau, siapa tahu pada pilihan kemungkinan berikutnya justru hidup bahagia yang akan diraih. Dan memang demikianlah hidup mesti dijalani, juga disyukuri. Barangkali memang, kesedihan ini adalah sebuah jalan berliku menuju kesenangan. Ia akan menikmati proses itu, sebagaimana ia menikmati segala kenangan indah bersama lelaki petang temaram.

Sekali lagi, Perempuan Kilau Rembulan menghela nafas panjang seraya menekan tombol “SEND” untuk membalas email puisi untuk Lelaki Petang Temaram lalu bergumam pelan:

Dia harus pulang pada istrinya, sebagaimana aku harus kembali pada malam yang akan mendekapku erat dalam kehangatan tak bertepi,

NARSIS (11) : KINANTI MENANTI JANJI

Posted 12 Dec 2009 — by amriltg
Category Narsis

Rintik gerimis senja selalu membawa lamunanku padamu. Ketika irisan-irisan air itu jatuh dari langit, kau akan senantiasa memandangnya takjub dari balik buram kaca jendela. Menikmatinya. Meresapinya. Tak berkedip.

“Menikmati gerimis senja pada latar senja yang luruh menjelang malam bagai membaca puisimu yang indah dengan pelan dan bibir bergetar. Rasanya melayang. Seperti kupu-kupu bersayap elok yang terbang melintasi beranda, ranting pepohonan, bubungan rumah hingga menuju angkasa. Bebas. Tanpa sedikitpun cemas. Ini akan menjadi salah satu hal indah yang akan selalu kukenang tentangmu,” katamu lirih lantas memaku pandangmu pada mataku yang mendadak rikuh tersipu.

Kamu selalu begitu pandai membuatku merasa berharga.

Senja luruh perlahan bersama gerimis disebuah café, tempat kita biasa bertemu, membincangkan banyak hal. Terutama tentang kita dan hanya kita.

Akupun kembali memilih duduk pada tempat favorit kita dulu, dipojok kiri café dengan kaca jendela berbingkai lebar disisinya. Aku ingat dulu kamu ngotot memilih tempat itu dan kita sempat berdebat panjang.

“Orang-orang yang berlalu lalang di sisi café tempat kita duduk membuatku malu. Kita pindah aja deh, ditengah-tengah atau ditempat yang tak ada jendela lebar disisinya,” tukasku kesal.

Kamu menghela nafas panjang dan menatapku tajam.

“Ini tempat yang paling strategis buat kita Tak peduli apa kata orang. Kenapa mesti malu? Aku menyukai tempat dimana kita bisa menikmati pancaran matahari senja turun perlahan melewati gedung-gedung pencakar langit dengan gurat cahaya merah jingga berpendar-pendar, meresapi warna-warni larik pelangi dibatas cakrawala, memandang percik gerimis yang menetes lembut di permukaan kacanya atau setidaknya menatap pantulan samar wajahmu yang bersembunyi malu-malu disudut sofa ,” katamu meyakinkanku. Ada kilat jenaka kulihat dimatamu saat melontarkan kalimat terakhir.

Tak lama kemudian kamu menggenggam erat tanganku dan berkata, “Yakinlah, aku janji, ini adalah tempat terbaik buat kita. Seperti aku, kamu pasti akan menyukainya”.
Aku tersenyum dan mengangguk. Kamu selalu mampu meyakinkanku bahwa akan selalu menepati setiap janji yang telah diucapkan. Buktinya, tempat ini justru menjadi tempat favoritku, ketika berkunjung kembali ke café tersebut.

Seperti hari ini, senja ini, 1 tahun setelah kamu menyampaikan janji itu.

“1 Tahun lagi, aku akan pulang dan datang menemuimu kembali, disini, di waktu dan tempat yang sama, pokoknya jangan sampai lupa” katamu setahun silam sebelum pergi pada hari, waktu dan tempat yang sama dengan hari ini. .

Dan begitulah, entah kekuatan apa yang menggerakkanku datang disini.

Sebuah waktu yang sesungguhnya sudah sangat aku nantikan sesaat setelah kamu pergi. Aku menandai hari demi hari di kalender mejaku dengan rasa rindu meluap-luap. Membayangkanmu datang menjemputku bak Pangeran menjemput sang puteri menunggang kuda sembrani bersayap cemerlang.

Menunggu saat ini tiba, sungguh sebuah siksaan berat bagiku, terlebih ketika kamu sama sekali tidak memberitahuku kemana akan pergi.

“Kamu akan tahu, nanti setelah aku pulang,” katamu misterius.

Aku menghirup coklat hangat yang aku pesan, sembari menikmati rintik gerimis berderai diseberang jendela kaca. Lalu lintas kendaraan diluar berjalan pelan,sementara di atas trotar sejumlah orang berjalan bergegas menghindari hujan deras yang sebentar lagi diperkirakan akan tiba.

Aku melirik jam. Sebentar lagi, tepatnya, setengah jam lagi kamu akan tiba, menunaikan janji. Rasanya tak sabar menantikannya.

Lamunanku kembali hinggap disuatu petang di pinggir pantai Losari. Kita berdua duduk di pinggiran tembok pantai sembari menyantap hidangan Pisang Eppe’ yang nikmat.

“Kamu tahu, kenapa kita mesti duduk menghadap kedepan, kearah hiruk pikuk arus lalulintas kendaraan yang melewati jalan Penghibur dihadapan Pantai Losari ?” tanyamu tiba-tiba.

Aku mendelik bingung dan menghentikan sejenak kunyahan pisang eppe’ dimulut.
‘Rasanya lebih asyik menatap kedepan menikmati riuh rendah kendaraan yang ramai melewati kawasan ini, kita jadi tidak merasa sendiri” ucapku asal-asalan.
Kamu terkekeh pelan.

“Karena kita adalah keindahan, dan itu harus kita tunjukkan pada mereka,” katamu spontan, penuh keyakinan.

Aku tertawa. “Kita berarti narsis dong!”.

Kamu tersenyum.

“Sekarang, mari kita berbalik, menghadap kearah laut yang ada dibelakang kita,” katamu lembut. Dan kita lalu merubah posisi duduk dengan berbalik sesuai perintahmu. Kebingungan kembali merayapi hatiku.

“Sekarang, kamu coba rasakan apa bedanya dengan yang tadi?” tanyamu lagiAku angkat bahu. Masih belum mengerti.

“Kita telah menjadi bagian dari keindahan semesta, keindahan laut, keindahan pantai Losari, keindahan yang lebih besar,” ujarmu seraya memaku pandang kearah batas cakrawala dimana mentari mulai beranjak ke peraduan. Aku terpaku.

“Dan Kinanti,” lanjutmu lagi,”kita sebut saja mereka, yang ada dibelakang kita itu sebagai para pencari keindahan”.

Aku trenyuh saat kamu kemudian meraih pundakku lalu membaringkan kepalaku dengan lembut ke bahumu. Gelap mulai merata, malam sudah tiba.

Kamu benar-benar begitu pandai membuatku merasa berharga. Menjadi bagian dari keindahan semesta adalah sebuah analogi yang unik dan menggetarkan untuk memaknai hubungan kita selama ini. Aku ingat, malam itu aku membuat puisi tentang Pantai Losari

Kaki langit tempat segala harapan kita berlabuh

Serta kepak camar menyapa cakrawala

Adalah muara segala impian yang telah kita rajut rapi

Bersama desir rindu dan riak semangat

Membangun rumah bersahaja tempat kita senantiasa pulang

Dan pantai Losari tempat kita berpijak kini

Adalah saksi segala keindahan, segala janji yang ditunaikan

Bahwa cinta yang didada kita,

akan selalu ada, tak akan pernah tiada


“Aku bawa puisimu ini ya, untuk mengingatkanku, aku punya rumah untuk pulang disini, pada hatimu,” katamu dengan bibir bergetar saat perpisahan itu tiba. Aku menggigit bibir dan berusaha melepasmu, setegar mungkin. Satu tahun lagi, rasanya seperti seabad bagiku, tanpamu.

“Maaf, mbak Kinanti?” sebuah suara tiba-tiba menyapaku dari arah belakang dan spontan membuyarkan lamunanku. Aku menoleh. Seorang lelaki tegap dengan kumis melintang telah berdiri dihadapanku.

“Saya Budi, teman Andika,” seraya mengulurkan tangannya. “Dia banyak cerita tentangmu”.
Kecemasan tiba-tiba menggayuti hatiku.

“Ada apa dengan Andika, dimana dia?” tukasku tak sabar.Budi menghela nafas panjang. Seperti ada beban berat yang susah diungkapkan.

“Andika mengalami kecelakaan saat kami melakukan ekspedisi perahu cadik melintasi Samudera Pasific. Sesaat sebelum meninggal, ia menitipkan sesuatu padaku. Sebuah surat dan ini, sebuah kotak kecil merah berisi cincin, yang rencananya akan ia sematkan pada jarimu, sesuai janjinya, hari ini,” ujar Budi terbata-bata.

Air mataku jatuh. Kesedihanku datang menyeruak.

Aku memandang kearah jendela kaca disamping tempat kami biasa duduk. Hujan deras sudah turun menggantikan gerimis. Aku berusaha mencari pantulan wajah Andika di kaca yang kian buram itu. Berharap ia ada disana, menyematkan cincin itu pada jariku secara langsung, hari ini.

Dadaku disesaki keharuan mendalam. Ia menunaikan janjinya. Selalu, seperti biasa.

Dan kini, Andika telah menjadi bagian dari sebuah keindahan samudera, keindahan semesta, keindahan besar dan sejati yang selalu terpatri dalam hatiku..

Catatan:

Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian cerita NARSIS alias Narasi Romantis saya. Bisa dibaca beberapa diantaranya disini

NARSIS (10) : KESEMPATAN KEDUA

Posted 10 Nov 2009 — by amriltg
Category Narsis

My Momma always said:

Life was like a box of chocholates

You never know

What you’re gonna get

-Tom Hanks, Forrest Gump,1994

Saskia tersenyum tipis setelah membaca sekilas potongan kutipan ungkapan yang ditulis diatas sebuah “post-it” warna kuning disamping komputer Ria.

“Artinya dalem kan’?” ujar Ria seperti menebak arah fikiran kawan dekatnya itu.

Saskia mengangguk.

“Kamu koq sempat-sempatnya nulis dan pasang ungkapan konyol kayak gitu sih ? Di samping komputer lagi. Norak banget deh!” komentarnya lugas.

Ria terkekeh pelan.

“Lucu sekaligus mencerahkan, Sas. Membacanya tiap hari, membuatku untuk senantiasa merenung bahwa, dalam hidup ini apa yang kita jalani belum tentu sama dengan apa yang kita inginkan. Seperti sekotak cokelat,” sahut Ria seraya menepuk pundak Saskia.

“Yaa..paling tidak,”lanjutnya, “aku mesti berusaha agar apa yang aku capai dalam menjalani kehidupan cukup sesuai dengan apa yang aku inginkan. Meski tidak persis-persis amat. Yang penting ada usaha ke arah sana. Dan itu, you know, membahagiakan”.

Saskia manggut-manggut mafhum. Ria meraih kursi dan mempersilahkan Saskia duduk disana. Ia sendiri memilih duduk dipinggir meja kerjanya tepat disamping kursi tersebut.

“Duduklah, say. Aku tahu kamu sedang ada masalah. Wajahmu terlihat begitu kusut, tidak seperti Saskia yang aku kenal dulu. Coba katakan mudah-mudahan aku bisa bantu,” kata Ria lembut.

Saskia mendesah dan segera duduk di kursi yang disodorkan sahabat baiknya itu..

“So, what’s your problem my dear ?” tanya Ria penasaran. Ia menatap lekat mata Saskia penuh selidik.

“Apa pendapatmu tentang kesempatan kedua?” Saskia balik bertanya. Ria tergagap bingung.

“Maksudmu?”

“Begini aja deh. Aku buat lebih simpel. Andaikata, suatu ketika seseorang dari masa lalu, yang pernah menjalin kasih cinta denganmu namun keberadaannya sudah kamu lupakan saat ini, tiba-tiba datang padamu, memohon kesempatan kedua untuk bersamamu lagi, apa yang kamu lakukan ?” ujar Saskia.

Ria tercenung sejenak lalu kembali menatap tajam Saskia ibarat Detektif Partikelir yang mencoba membongkar sebuah misteri pembunuhan.

“Apakah hal itu terjadi padamu,Sas?”

“Heh!, jawab dulu doong, koq malah nanya?” protes Saskia geli.

“Oke. Menurutku begini,” jawab Ria hati-hati. “Untuk memberi kesempatan kedua, yang pertama aku lakukan adalah harus tahu apa latar belakang, motivasi, serta seberapa tulus dan serius ia mengajukan penawaran itu. Kalau sekedar gombal, sorry aja yee..there’s no second chance for him,” lanjutnya bersemangat.

“Lantas bagaimana cara kamu menakar keseriusan dan ketulusannya?”, tanya Saskia lagi seraya memperbaiki letak duduknya.

“Hmmm..itu perlu proses, Sas. Setelah sekian lama waktu berlalu, masa’ dengan serta merta aku mengabulkan keinginannya untuk bersama lagi, memberinya kesempatan kedua begitu cepat. Tidak segampang itu. Apalagi mungkin pada saat yang sama aku sudah memendam rapat-rapat kenangan bersamanya dulu dan memulai hubungan yang baru dengan seseorang. Bukankah ini malah bikin makin runyam?. Makanya, menurutku, untuk menakar ketulusan dan keseriusannya, dia perlu diuji”.

“Diuji?”

“Ya. Diuji. Semakin besar keinginannya untuk memohon kesempatan kedua, maka semakin besar pula tingkat ujian yang diberikan”.

“Tega amat sih kamu?. Koq bukan malah sebaliknya?”

“Mesti begitu jalannya, Sas. Menurutku, kita akan mengerti dalamnya sebuah ketulusan hati adalah ketika yang bersangkutan berhasil melalui tantangan paling berat yang kita berikan. Bentuk dan parameter pengujiannya ditentukan dari diri kita sendiri termasuk untuk menentukan apakah ia lulus dari ujian yang kita berikan” sahut Ria diplomatis.

Saskia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Kamu udah seperti seorang psikolog handal yang memberi ceramah seorang psikopat kambuhan”, ucapnya spontan.

Ria tertawa lepas.

“Sas, harga sebuah ketulusan itu mahal. Sangat mahal malah. Persoalannya, kita terkadang terbuai dan akhirnya tertipu pada ketulusan yang semu. Ini berbahaya. Terlebih ketika kita mencoba membangun kembali puing-puing komitmen yang pernah hancur dimasa lalu. Menjadi sia-sialah adanya. Kesempatan kedua itu ibarat keping mata uang dengan dua sisi berbeda. Ia bisa menjelma menjadi bumerang yang mematikan atau sebaliknya menjadi cahaya kebahagiaan,” tutur Ria.

Saskia menggigit bibir dan mencerna kalimat demi kalimat Ria dengan seksama.

“Tapi perlu kamu tahu Sas, aku senantiasa memegang prinsip, tidak akan memberikan kesempatan kedua pada lelaki yang telah menyia-nyiakanku, menelantarkanku dan membuatku menderita. Tak akan. Aku lebih baik membuka lembaran baru kehidupan dan berusaha untuk tidak mengulangi kebodohan dimasa lalu. Tak ada kesempatan kedua dalam kamusku,” ucap Ria tegar.

“Meski lelaki yang kamu maksud tadi sudah mengungkapkan penyesalan, menyampaikan maaf dan berjanji tidak akan mengulang kesalahan serupa dimasa datang?. Kamu koq jadi kejam begitu sih?”tanya Saskia heran.

Ria terkekeh. Ia meraih tangan sahabatnya dan menggenggamnya erat-erat. Mengalirkan keyakinan. Juga kekuatan.

“Sas, seperti ungkapan Forrest Gump di “post-it” ku, kehidupan yang kita jalani terkadang tidak persis sama seperti yang kita inginkan. Namun itu tidak berarti kita menyerah pada keadaan. Maksudku begini, ketika ada kesempatan untuk mengelak dari ketidakberuntungan dan nasib buruk di masa lalu, why not?. Toh dunia telah menawarkan begitu banyak pilihan. Juga kemungkinan. Dan kita, pada saatnya harus siap menghadapi resiko atas pilihan yang kita buat dan kemungkinan yang menyertainya,” ujar Ria setengah berbisik.

Saskia mendengarkan penuh minat.

“Jadi soal kesempatan kedua itu, my dear Saskia,” tambah Ria seraya mempererat genggamannya,”kembali ke setiap pribadi masing-masing orang untuk menerimanya atau tidak. Itupun sebuah pilihan yang berisiko, sama ketika aku menentukan untuk tidak akan memberikan kesempatan kedua bagi lelaki yang telah membuat hatiku luka berdarah-darah. Jika kamu menentukan pilihan yang berbeda denganku. That’s fine. Itu adalah hak setiap individu. Siapa tahu justru itu jalan terbaik dan membuat hidupmu jauh lebih bermakna. Namun aku hanya mengingatkan, be careful, watch up your step!,” sambung Ria menyambut kontak mata takjub dari Saskia.

“Tak kusangka kamu punya perspektif secerdas ini, Ria,” goda Saskia seraya mencubit gemas pipi tembem kawan dekatnya itu.

“Ngawuuurr..aku memang udah cerdas dari sononya koq!” balas Ria sambil meleletkan lidah.

Mereka tertawa berderai.

“Nah, Sas. Tell me. Apakah perumpamaan yang kamu ceritakan tadi, sama seperti yang terjadi padamu sekarang ?” tanya Ria setelah tawa mereka mereda.

Saskia menghela nafas panjang. Terasa ada beban berat menghimpit dadanya. Ria menatap prihatin sahabat dekatnya itu terlebih saat melihat pelupuk mata Saskia mulai basah oleh airmata.

“It’s OK, say. Kalau berat kamu ungkapkan padaku, no problem. Aku akan selalu memastikan ada disampingmu, untuk mendengarmu dan membagi bebanmu padaku. Any time,” hibur Ria sambil menyeka air mata di pipi Saskia dengan punggung tangannya.

“Thanks, Ria,” ucap Saskia lirih. “Aku balik dulu ke meja kerjaku ya,” lanjutnya sambil beranjak dari kursi.

Ria mengangguk dan mengambil selembar tisu dari dekat mejanya lalu menyerahkannya ke Saskia.

“Sas,” panggil Ria pelan.

“Ya?” tanya Saskia yang baru saja akan meninggalkan meja kubikal Ria.

“Be Strong!” ujar Ria sambil mengepalkan tinjunya ke udara dan memamerkan senyum manisnya.

Saskia balas tersenyum. “Pasti!” sahutnya mantap.

-***-

Saskia tersenyum tipis. Keputusan sudah ditetapkan. Hidup ini memang seperti sekotak coklat, kamu tak akan pernah tahu apa yang kelak akan kamu dapatkan, gumam gadis manis itu lirih, mengulang ungkapan Tom Hanks pada “post-it” Ria.

Diliriknya lagi monitor komputer dihadapannya. Kepuasan menggayuti batinnya.

Ada email buat “seseorang” di file “Sent Item”-nya. Ia baru saja mengirimkan email penting pada lelaki itu. Sebuah Puisi:


Adakah kerlip bintang di langit

dan spektrum cahayanya yang berkilau

menerangi jernih bola matamu

adalah tanda

harapan masih terbersit disana?

Setelah luka kehilangan itu perlahan pudar jejaknya

dan kita kembali mengais-ngais remah-remah kenangan

yang tersisa

lalu menyatukannya kembali di kanvas hati

“Rindu selalu bisa melenyapkan jarak, juga pilu,” katamu pelan

Kita lantas merayakan kesempatan itu

dengan menatap langit malam bersama

mengamati setiap pijar noktah bintang

yang pendarnya membasuh lembut perih batin

dari dua tempat yang berbeda

hingga rintih ratap

lenyap mengendap

Pada akhirnya, memang,

kita tak bisa memutar waktu kembali

pada titik dimana kita menginginkannya

dan ketika bentang jarak antara kita

kian jauh menggapai cakrawala

kuhayati setiap pancaran bening nuansamu

bagai mendekapmu erat

dalam mimpi yang tak berkesudahan

NARSIS (9) : UNTUK PEREMPUAN BERMAHLIGAI REMBULAN

Posted 30 Sep 2009 — by amriltg
Category Narsis


Hai Perempuan Bermahligai Rembulan,

Apa kabarmu? 

Cuaca di awal bulan Oktober ini sungguh sangat tak terduga. Seharusnya–menurut ramalan meteorologi– hujan akan turun membasahi bumi, dan awal bencana banjir akan tiba. Tapi ternyata tidak. Mentari masih bersinar cerah, tak ada satupun mendung kelam menggelayut di langit.

“Ini efek pemanasan global,” begitu katamu. Selalu, seperti berapologi sekaligus menunjukkan pengetahuanmu yang luas tentang deviasi cuaca akibat gejala ini. Dan aku, juga selalu, akan mengangguk-angguk perlahan sambil tetap menatap takjub binar matamu yang mengerjap indah. 

“Ini,”lanjutmu lagi,”membuat iklim di berbagai belahan dunia, susah ditebak, sulit diprediksi, kapan mulai atau berakhirnya”.

“Ya,” sergahku tiba-tiba. “Seperti kamu, juga susah diprediksi, sebuah dampak buruk dari efek pemanasan global. Kadang-kadang terik menyengat lalu tiba-tiba dingin menggetarkan. Sungguh menyebalkan, juga sangat menggemaskan. Sejak kapan sih kamu mulai “berkoalisi” dengan “efek pemanasan global” itu?”

Kamu tertawa geli, menunjukkan barisan rapi gigimu yang mendadak menjelma seperti terali yang memenjarakanku dibalik pesona kilaunya.

Read More

NARSIS (8) : TENTANG DIA, YANG PERGI MEMBAWA KELAM DIHATINYA

Posted 21 Jul 2009 — by amriltg
Category Narsis

Catatan Pengantar:

Dua tahun lalu, saya pernah menulis ide cerita untuk skenario Sinetron Televisi bernuansa islami, Maha Kasih 2 berjudul “Kisah Seorang Penyiar dan Gadis Patah Hati”. Sinetron tersebut kemudian ditayangkan di RCTI poda tanggal 17 Maret 2007 dibintangi oleh Ihsan Idol, Chacha Frederica dan Lucky Alamsyah. Saya mencoba mengadaptasi ulang ide cerita tersebut lalu menggabungkannya bersama sepenggal kisah yang pernah saya tulis untuk Cerfet (Cerita Estafet) Komunitas Blogfam berjudul “Bayang Hitam” kedalam Narsis edisi kedelapan dibawah ini. Selamat membaca..

———————————


“Ini untuk dia, yang pergi membawa kelam dihatinya,” suara perempuan itu bergetar di ujung telepon. Aku menggigit bibir seraya menatap Sonny, sang operator lagu pasanganku, yang balas menatapku dengan senyum maklum. Seperti biasa. Setiap kali perempuan itu menelepon.

“Tolong Mas, putarkan saja kembali lagu itu. Aku ingin mengenang sosok yang pernah lekat dibatin itu kembali, selalu,  lewat radio ini, sama dengan yang sudah aku lakukan pada malam kemarin, juga malam-malam sebelumnya”, lanjut perempuan tersebut dengan suara lirih. Isak tangis terdengar diantara kalimat-kalimatnya.

Aku menghela nafas panjang. 

Rasa kesal dan juga kasihan bercampur aduk jadi satu dalam batin. Untuk kesekian kalinya, dia merahasiakan siapa gerangan lelaki yang setiap malam ia bingkiskan lagu “Soledad” yang didendangkan begitu melankolis oleh kelompok vokal Westlife tersebut. Dan perempuan itu, setiap malam selama dua minggu terakhir ini (kecuali malam senin) saat acara “Midnight Song” diudarakan pasti menelepon pada suatu waktu selama acara itu berlangsung dan senantiasa meminta lagu yang sama.  

Read More

NARSIS (7) : BIARKAN AKU MENCINTAIMU DALAM SUNYI

Posted 09 Jun 2009 — by amriltg
Category Narsis

Catatan Pengantar:

Narsis kali ini saya angkat dari Cerpen saya yang dimuat (sekaligus menjadi judul utama kumpulan cerpen Blogfam yang diterbitkan Gradien Mediatama tahun 2006 dalam judul “Biarkan Aku Mencintaimu Dalam Sunyi – Email terbuka seorang selingkuhan”).

Dengan sedikit penyuntingan seperlunya, saya tayangkan kembali disini.

Selamat Membaca

—————————-

KEKASIHKU, jika engkau membaca e-mail ini, cobalah untuk mulai belajar melupakanku. Aku tahu kenyataan itu memang pahit dan berat buatmu, terlebih lagi buatku.

Masih teringat jelas dalam benakku saat pertama kita bertemu, pada sebuah akhir pekan yang basah diguyur hujan seharian, dalam café yang temaram diiringi tembang jazz melankolis. Kamu datang kearahku dangan pesona kemilau kelelakianmu yang segera memporak-porandakan hatiku seketika dalam hitungan detik. Aku tak sempat berkata apapun, saat dengan sopan dan bersahaja, kamu mengajakku melantai.

Tanganmu yang kekar memegang lembut bahuku dan harum nafasmu menggetarkan seluruh urat dalam tubuhku yang dahaga oleh cinta, saat kita berdansa dalam remang lampu café yang romantis. Hatiku tak mampu memungkiri bahwa, aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama. “Jadilah kekasih rahasiaku,” katamu di ambang pintu apartemen saat mengantarku pulang pada malam berkesan itu. Kamu lantas mencium dahiku dengan lembut, tanpa perlu menunggu persetujuanku lebih dulu. Jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya.

Sebuah fenomena yang tak pernah aku rasakan dari lelaki manapun yang pernah singgah dalam relung hatiku selama ini. Aku tak punya kekuatan apapun untuk menolak permintaanmu meski aku tahu sesungguhnya kamu telah memiliki keluarga yang dengan cemas menunggumu dirumah. Aku begitu terlena olehmu dan gelora gairah purba yang tiba-tiba muncul dalam diriku telah menghempaskan kita berdua dalam lautan petualangan cinta tak bertepi.

Read More

NARSIS (6) : TENTANG CINTA, PADA TIADA

Posted 27 May 2009 — by amriltg
Category Narsis

Dia, yang menurutmu tak pernah bisa kamu mengerti, adalah dia yang kamu cinta.


“Jadi apakah itu berarti, kamu membencinya?” tanyaku penuh selidik suatu ketika.


“Ya, aku menyukai dan membencinya sekaligus, dalam sebuah paket tak terpisahkan. Dan itu, kamu tahu, sangat menyakitkan” jawabmu lirih.


Aku terkekeh. Kamu mendelik tak suka.


Bagiku, ini aneh dan lucu.


Separuh dari dirimu menginginkannya : datang membawa binar cinta dari kerjap matanya, yang membuatmu ingin terdampar dan luluh pada muara hatinya. Lalu kamu membayangkan kalau saja di suatu titik kekuatan kosmik mampu stagnan, kamu tanpa sedikitpun keraguan akan memilih walau hanya satu detik sekalipun bersamanya. Membekukan waktu, menyesap segala keberadaannya sembari mengingat setiap langkah terkecil perjalanan kenangan indah kalian, mengabadikannya di kanvas hati lalu mengabaikan segenap hal lain yang datang pada detik berikutnya. Dia adalah segalanya bagimu. Karena kamu mencintainya.


Separuh dari dirimu yang lain justru berusaha membencinya. Menyesali segala kebodohannya telah jatuh hati padamu, perempuan sederhana yang bahkan tak pernah sekalipun bermimpi menjadi Cinderella . Memaki segala keikhlafan (juga kenekadan) lelaki itu telah gigih mencarimu hingga ke batas dunia sekalipun hanya ingin melihat matamu, yang konon menyimpan pijar lembut cahaya bulan disana. Kamu membencinya, karena lelaki itu telah berhasil memporak porandakan hatimu dengan bait bait puisi indah, yang kemudian didepan mataku kamu membakarnya, membiarkan asapnya memasuki kelopak matamu yang telah basah oleh airmata, bahkan sebelum kamu memantik korek api.


“Dia Lelaki Bodoh! Untuk apa dia mesti terus mengejarku menawarkan ketulusan cintanya, padahal dia tahu, aku sudah bertunangan?” jeritmu putus asa.


“Iya, bertunangan dengan lelaki yang tidak kau cintai, pilihan orangtuamu?Begitu?”, sahutku tajam.


Kamu menatapku garang.

Read More

NARSIS (5) : TAKDIR CINTA

Posted 19 Apr 2009 — by amriltg
Category Narsis

Pengantar:

Narsis kali ini saya persembahkan untuk sahabat saya Daeng Toto yang sangat menyukai lagu yang didendangkan oleh Rossa, Takdir Cinta Daeng Toto bahkan memasang lagu ini sebagai theme song di blog MP-nya yang baru dibuat 2 minggu lalu itu. Daeng Toto sendiri adalah kawan seperjuangan saya satu angkatan ketika masih menjadi mahasiswa di Jurusan Teknik Mesin Unhas Makassar dan pernah menjadi rekan sekantor saya di sebuah pabrik di kawasan industri Pulogadung sekitar tahun 1995-1996.

So, this story dedicated for you, my friend!

Selamat menikmati ..

——————-

Perempuan Wangi Bunga itu mengerjapkan mata, ia lalu membaca kembali baris-baris kalimat pada emailnya yang sudah siap dikirim ditemani lantunan lagu “Takdir Cinta” yang dinyanyikan oleh Rossa. Hatinya mendadak bimbang. Juga pedih.

Daeng Bening Langit yang baik,

Kahlil Gibran pernah berkata, Keindahan adalah kehidupan itu sendiri. Keindahan adalah keabadian yang termangu dihadapan cermin. Dan kita, sejatinya adalah keabadian itu, kitalah cermin itu.

Pernahkah Daeng merasakan keindahan yang demikian sejuk dan memukau sampai Daeng rasanya ingin menangis? Merasakan keindahan seperti itu menggedor-gedor dinding kesadaran paling dalam.Membuat kita terbuai, melayang dan masuk kedalam aura dan kesyahduan yang dihadirkannya. Tak terasa airmata menetes ketika rasa itu merayap perlahan, membelai hati. Tak terlerai.

Mengenangmu, Daeng, adalah salah satu hal yang kerap membuatku tak kuasa menahan tangis. Menghayati segala keindahan yang pernah kita alami bersama tak urung membuat kesedihanku terbit. Dan sungguh, menyesap aliran cinta yang datang darimu, dari hadirmu, dari matamu, dari lembut katamu, dari candamu, dari tawamu, membuatku damai, bahagia dan berharga Kamulah keindahan sejati itu.

Menyusuri kembali jejak-jejak yang pernah kita torehkan bertahun-tahun silam acapkali membuat dadaku disesaki keharuan.

Masih ingat ketika suatu hari kita menikmati senja di Pantai Losari, Daeng?

“Pernahkah kamu berfikir untuk berusaha menepis takdir? “, tanyamu pelan. Kata-katamu mengapung diudara, lalu hilang bersama desir lembut angin laut.

“Apa maksud Daeng?” tanyaku penasaran

Kamu lalu menghela nafas panjang seperti mengangkat sebuah beban berat menghimpit dada.

“Sebuah takdir yang bisa jadi tak pernah kita harapkan, yang membuat kita tak bahagia, yang membuat kita mesti menerimanya meski sekuat apapun kita mencegahnya datang, yang mungkin membuat kita menyesal berkepanjangan dan ingin kembali mengulang masa lalu ketika takdir tersebut belum tiba, lalu membuka lembaran hidup baru sesuai ekspektasi kita. Apakah menurutmu akan ada cara untuk menghalaunya atau, setidaknya menghindar, menjauh sampai ia tak bisa menjangkau kita?” sahutmu seperti tidak mengabaikan pertanyaanku. Read More

NARSIS (4) : M.F.E.O

Posted 07 Apr 2009 — by amriltg
Category Narsis

M.F.E.O

4 huruf tersebut selalu tertera di akhir email lelaki itu.

Juga ketika mereka mengakhiri percakapan chatting didunia maya.

Made For Each Other, bisik lirih perempuan hening malam sembari menyunggingkan senyum. Matanya menerawang menatap langit langit kamar dan mengenang bagaimana pertama kali kalimat tersebut mewarnai harinya.

“Pernah nonton film Sleepless in Seattle belum?” kata lelaki bermata lembut itu seraya menatap manik manik matanya dengan tatap mesra. Mereka berdua tengah menikmati senja yang indah dan eksotis di pinggir pantai

Perempuan hening malam itu mengangguk. “Film yang komedi romantis yang dibintangi oleh Meg Ryan dan Tom Hanks itu kan’?” sahutnya cepat.

Lelaki itu tersenyum.

“Kamu tahu pada bagian mana dari film itu yang membuatku terkesan?”

Perempuan hening malam merenung sejenak, mencoba menggali kenangannya pada film yang ditayangkan pertama kali tahun 1993 ini.

“Adegan ketika Samuel bertemu pertama kali dengan Annie yang diperankan oleh Meg Ryan. Itu adegan yang sangat berkesan, terutama ketika si Tom Hanks terpana menyaksikan Annie melintas anggun didepannya,” tebak Perempuan hening malam dengan mata berbinar.

“M.F.E.O” ucap lelaki bermata lembut sembari mengeja satu satu keempat huruf itu dengan hati-hati.

“Apa itu?” tukas perempuan hening malam

Lelaki itu terkekeh pelan.

“Kamu berarti tidak menyimak dengan baik film itu, kayaknya justru terlalu mengagumi ketampanan Tom Hanks deh,” godanya dengan kilat mata jenaka.

Read More

NARSIS (3) : PEREMPUAN YANG MENGHILANG DI BALIK HUJAN

Posted 26 Mar 2009 — by amriltg
Category Narsis

Lelaki itu menghirup cappuccinonya.

Menyesap segala rasa yang menyertai dengan perih menusuk dada.

Ia lalu melirik jam tangannya. Sudah 2 jam lebih dia di Cafe tersebut. Sambil menghela nafas panjang ia melihat ke arah luar melalui jendela berbingkai lebar disampingnya. Gerimis menyiram bumi. Irisan-irisan tipis air itu menerpa kaca yang membuatnya buram.

Juga membuat wajahnya kian muram.

Ini adalah cangkir ketiga.cappuccinonya. Untung saja ia ditemani laptop pribadinya yang dapat digunakan untuk menjelajah dunia maya dengan akses wi-fi di cafe tersebut.

Menunggu memang sebuah pekerjaan yang membosankan, namun baginya, menanti perempuan bermata kejora, selalu menimbulkan sensasi tersendiri dan membuat waktu selalu akan menjadi lebih bersahabat. Selama apapun itu.

Namun tak urung, setelah 2 jam berlalu dan tenggorokannya mulai terasa pahit setelah menelan dua cangkir gelas cappuccino, membuatnya sedikit senewen. Tapi tak apa, ia berusaha berdamai dengan diri sendiri. Demi perempuan yang menyimpan bintang kejora dimatanya itu, selalu saja ada pengecualian dan maaf tak bertepi.

Ia ingat, secara tak terduga, perempuan yang pernah menyimpan separuh hatinya dimasa lalu itu datang menyapanya lewat email 4 bulan silam.

“Gembira rasanya menemukanmu kembali lewat Facebook, lelaki pencumbu malam. Apa kabarmu?”

Masih selalu terngiang dibenaknya kalimat di email pertama perempuan itu yang seketika membuat jantungnya seakan meloncat keluar. Ia begitu bahagia dan tak menyangka, dunia maya mempertemukan mereka secara tak terduga.

Dan setelah itu, interaksi diantara mereka kembali terjalin setelah hampir 15 tahun berlalu. Mereka bercerita, tertawa dan saling berbagi rasa melalui komunikasi lewat internet.

Read More