(Narsis) : Langit yang Sama, Doa yang Satu
Rendra selalu percaya bahwa ada momen dalam hidup seseorang — satu momen tunggal yang rapuh seperti embun di ujung daun — di mana seluruh alam semesta seperti menahan napas bersama. […]
» Read moreMeretas Harapan, Merawat Kewarasan
Rendra selalu percaya bahwa ada momen dalam hidup seseorang — satu momen tunggal yang rapuh seperti embun di ujung daun — di mana seluruh alam semesta seperti menahan napas bersama. […]
» Read moreIa selalu duduk di bangku paling ujung taman itu, tepat di bawah pohon flamboyan yang bunganya gugur seperti hujan kecil berwarna merah. Setiap sore, pada jam yang hampir sama, ia […]
» Read morei senja yang jatuh perlahan, ketika cahaya matahari mengendap di sela dedaunan dan azan magrib menggema dari kejauhan, aku kembali mengingat namamu: Adinda. Namamu tak pernah keras di kepalaku. Ia […]
» Read morealam itu kota terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu-lampu jalan memantul di aspal basah, menciptakan bayangan panjang seperti kenangan yang tak mau pergi. Di kamar sempitnya, Arga duduk di tepi […]
» Read morei bangku kayu yang catnya mulai mengelupas, Dara menunggu hujan selesai. Senja merambat pelan di balik kaca halte, menorehkan warna jingga yang rapuh, seperti hatinya. Di tangannya, ponsel bergetar pelan. […]
» Read moreDi ujung senja yang menguning, aku berdiri di peron kecil stasiun yang tak pernah benar-benar ramai. Angin mengusik rambutku, seperti ingin menahan langkah yang sejak tadi kupaksa agar tak goyah. […]
» Read moreHujan gerimis membasahi kota tua itu saat Arman memarkir mobilnya di depan kedai kopi langganannya. Sudah lima belas tahun ia tidak kembali ke tempat ini , kota kecil tempat ia pernah […]
» Read moreHujan baru saja berhenti ketika Sari tiba di halaman sekolah lamanya. Rumput masih basah, tanah mengeluarkan aroma yang akrab: aroma masa kecil yang sudah lama tidak ia sentuh. Ia datang […]
» Read moretasiun kereta itu hampir kosong ketika Dimas duduk di bangku kayu yang cat birunya sudah mengelupas. Pukul sebelas malam, hanya lampu kuning redup yang menemaninya. Gitar tua dalam tas punggungnya […]
» Read moreMalam turun dengan perlahan, seperti seseorang yang tak ingin membangunkan kenangan lama. Di tepi sawah yang mulai menguning, Saka berdiri memandangi langit. Rembulan menggantung sendu di atas pohon randu tua : […]
» Read morei sebuah kota kecil yang selalu diselimuti embun pagi, tinggal seorang gadis bernama Aluna. Ia dikenal ramah, namun sejak beberapa bulan terakhir, langkahnya terasa berat. Orang-orang menduga ia hanya lelah. […]
» Read moreAndi selalu percaya bahwa waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan. Ia berjalan maju tanpa menoleh, tanpa peduli siapa yang tertinggal. Namun sore itu, ketika langit berwarna jingga muda dan […]
» Read moreHujan November selalu membawa kenangan. Sally berdiri di tepi jendela apartemennya yang kecil, memandang kota yang berkilauan basah di bawah lampu-lampu jalan. Lima tahun sudah berlalu, tapi kadang rasanya seperti […]
» Read moreujan deras mengguyur kota Medan sore itu. Di balik jendela kamarnya yang berkabut, Dira menatap kosong ke arah rumah seberang. Rumah itu gelap, seperti biasa. Sudah tiga tahun Daniel pindah […]
» Read moreujan gerimis membasahi dermaga tua itu, seperti air mata langit yang tak kunjung berhenti. Ardi berdiri di ujung pelabuhan, menatap kapal-kapal yang berlabuh dengan tatapan kosong. Angin laut membawa aroma […]
» Read moreLangit senja menggantung lesu di atas kota yang mulai lelah. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, membentuk jejak cahaya yang samar. Di bawahnya, seorang pemuda berjaket lusuh berdiri diam di […]
» Read more