Category Archives: Narsis

My Momma always said:

Life was like a box of chocholates

You never know

What you’re gonna get

-Tom Hanks, Forrest Gump,1994

Saskia tersenyum tipis setelah membaca sekilas potongan kutipan ungkapan yang ditulis diatas sebuah “post-it” warna kuning disamping komputer Ria.

“Artinya dalem kan’?” ujar Ria seperti menebak arah fikiran kawan dekatnya itu.

Saskia mengangguk.

“Kamu koq sempat-sempatnya nulis dan pasang ungkapan konyol kayak gitu sih ? Di samping komputer lagi. Norak banget deh!” komentarnya lugas.

Ria terkekeh pelan.

“Lucu sekaligus mencerahkan, Sas. Membacanya tiap hari, membuatku untuk senantiasa merenung bahwa, dalam hidup ini apa yang kita jalani belum tentu sama dengan apa yang kita inginkan. Seperti sekotak cokelat,” sahut Ria seraya menepuk pundak Saskia.

“Yaa..paling tidak,”lanjutnya, “aku mesti berusaha agar apa yang aku capai dalam menjalani kehidupan cukup sesuai dengan apa yang aku inginkan. Meski tidak persis-persis amat. Yang penting ada usaha ke arah sana. Dan itu, you know, membahagiakan”.

Saskia manggut-manggut mafhum. Ria meraih kursi dan mempersilahkan Saskia duduk disana. Ia sendiri memilih duduk dipinggir meja kerjanya tepat disamping kursi tersebut.

“Duduklah, say. Aku tahu kamu sedang ada masalah. Wajahmu terlihat begitu kusut, tidak seperti Saskia yang aku kenal dulu. Coba katakan mudah-mudahan aku bisa bantu,” kata Ria lembut.

Saskia mendesah dan segera duduk di kursi yang disodorkan sahabat baiknya itu..

“So, what’s your problem my dear ?” tanya Ria penasaran. Ia menatap lekat mata Saskia penuh selidik.

“Apa pendapatmu tentang kesempatan kedua?” Saskia balik bertanya. Ria tergagap bingung.

“Maksudmu?”

“Begini aja deh. Aku buat lebih simpel. Andaikata, suatu ketika seseorang dari masa lalu, yang pernah menjalin kasih cinta denganmu namun keberadaannya sudah kamu lupakan saat ini, tiba-tiba datang padamu, memohon kesempatan kedua untuk bersamamu lagi, apa yang kamu lakukan ?” ujar Saskia.

Ria tercenung sejenak lalu kembali menatap tajam Saskia ibarat Detektif Partikelir yang mencoba membongkar sebuah misteri pembunuhan.

“Apakah hal itu terjadi padamu,Sas?”

“Heh!, jawab dulu doong, koq malah nanya?” protes Saskia geli.

“Oke. Menurutku begini,” jawab Ria hati-hati. “Untuk memberi kesempatan kedua, yang pertama aku lakukan adalah harus tahu apa latar belakang, motivasi, serta seberapa tulus dan serius ia mengajukan penawaran itu. Kalau sekedar gombal, sorry aja yee..there’s no second chance for him,” lanjutnya bersemangat.

“Lantas bagaimana cara kamu menakar keseriusan dan ketulusannya?”, tanya Saskia lagi seraya memperbaiki letak duduknya.

“Hmmm..itu perlu proses, Sas. Setelah sekian lama waktu berlalu, masa’ dengan serta merta aku mengabulkan keinginannya untuk bersama lagi, memberinya kesempatan kedua begitu cepat. Tidak segampang itu. Apalagi mungkin pada saat yang sama aku sudah memendam rapat-rapat kenangan bersamanya dulu dan memulai hubungan yang baru dengan seseorang. Bukankah ini malah bikin makin runyam?. Makanya, menurutku, untuk menakar ketulusan dan keseriusannya, dia perlu diuji”.

“Diuji?”

“Ya. Diuji. Semakin besar keinginannya untuk memohon kesempatan kedua, maka semakin besar pula tingkat ujian yang diberikan”.

“Tega amat sih kamu?. Koq bukan malah sebaliknya?”

“Mesti begitu jalannya, Sas. Menurutku, kita akan mengerti dalamnya sebuah ketulusan hati adalah ketika yang bersangkutan berhasil melalui tantangan paling berat yang kita berikan. Bentuk dan parameter pengujiannya ditentukan dari diri kita sendiri termasuk untuk menentukan apakah ia lulus dari ujian yang kita berikan” sahut Ria diplomatis.

Saskia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Kamu udah seperti seorang psikolog handal yang memberi ceramah seorang psikopat kambuhan”, ucapnya spontan.

Ria tertawa lepas.

“Sas, harga sebuah ketulusan itu mahal. Sangat mahal malah. Persoalannya, kita terkadang terbuai dan akhirnya tertipu pada ketulusan yang semu. Ini berbahaya. Terlebih ketika kita mencoba membangun kembali puing-puing komitmen yang pernah hancur dimasa lalu. Menjadi sia-sialah adanya. Kesempatan kedua itu ibarat keping mata uang dengan dua sisi berbeda. Ia bisa menjelma menjadi bumerang yang mematikan atau sebaliknya menjadi cahaya kebahagiaan,” tutur Ria.

Saskia menggigit bibir dan mencerna kalimat demi kalimat Ria dengan seksama.

“Tapi perlu kamu tahu Sas, aku senantiasa memegang prinsip, tidak akan memberikan kesempatan kedua pada lelaki yang telah menyia-nyiakanku, menelantarkanku dan membuatku menderita. Tak akan. Aku lebih baik membuka lembaran baru kehidupan dan berusaha untuk tidak mengulangi kebodohan dimasa lalu. Tak ada kesempatan kedua dalam kamusku,” ucap Ria tegar.

“Meski lelaki yang kamu maksud tadi sudah mengungkapkan penyesalan, menyampaikan maaf dan berjanji tidak akan mengulang kesalahan serupa dimasa datang?. Kamu koq jadi kejam begitu sih?”tanya Saskia heran.

Ria terkekeh. Ia meraih tangan sahabatnya dan menggenggamnya erat-erat. Mengalirkan keyakinan. Juga kekuatan.

“Sas, seperti ungkapan Forrest Gump di “post-it” ku, kehidupan yang kita jalani terkadang tidak persis sama seperti yang kita inginkan. Namun itu tidak berarti kita menyerah pada keadaan. Maksudku begini, ketika ada kesempatan untuk mengelak dari ketidakberuntungan dan nasib buruk di masa lalu, why not?. Toh dunia telah menawarkan begitu banyak pilihan. Juga kemungkinan. Dan kita, pada saatnya harus siap menghadapi resiko atas pilihan yang kita buat dan kemungkinan yang menyertainya,” ujar Ria setengah berbisik.

Saskia mendengarkan penuh minat.

“Jadi soal kesempatan kedua itu, my dear Saskia,” tambah Ria seraya mempererat genggamannya,”kembali ke setiap pribadi masing-masing orang untuk menerimanya atau tidak. Itupun sebuah pilihan yang berisiko, sama ketika aku menentukan untuk tidak akan memberikan kesempatan kedua bagi lelaki yang telah membuat hatiku luka berdarah-darah. Jika kamu menentukan pilihan yang berbeda denganku. That’s fine. Itu adalah hak setiap individu. Siapa tahu justru itu jalan terbaik dan membuat hidupmu jauh lebih bermakna. Namun aku hanya mengingatkan, be careful, watch up your step!,” sambung Ria menyambut kontak mata takjub dari Saskia.

“Tak kusangka kamu punya perspektif secerdas ini, Ria,” goda Saskia seraya mencubit gemas pipi tembem kawan dekatnya itu.

“Ngawuuurr..aku memang udah cerdas dari sononya koq!” balas Ria sambil meleletkan lidah.

Mereka tertawa berderai.

“Nah, Sas. Tell me. Apakah perumpamaan yang kamu ceritakan tadi, sama seperti yang terjadi padamu sekarang ?” tanya Ria setelah tawa mereka mereda.

Saskia menghela nafas panjang. Terasa ada beban berat menghimpit dadanya. Ria menatap prihatin sahabat dekatnya itu terlebih saat melihat pelupuk mata Saskia mulai basah oleh airmata.

“It’s OK, say. Kalau berat kamu ungkapkan padaku, no problem. Aku akan selalu memastikan ada disampingmu, untuk mendengarmu dan membagi bebanmu padaku. Any time,” hibur Ria sambil menyeka air mata di pipi Saskia dengan punggung tangannya.

“Thanks, Ria,” ucap Saskia lirih. “Aku balik dulu ke meja kerjaku ya,” lanjutnya sambil beranjak dari kursi.

Ria mengangguk dan mengambil selembar tisu dari dekat mejanya lalu menyerahkannya ke Saskia.

“Sas,” panggil Ria pelan.

“Ya?” tanya Saskia yang baru saja akan meninggalkan meja kubikal Ria.

“Be Strong!” ujar Ria sambil mengepalkan tinjunya ke udara dan memamerkan senyum manisnya.

Saskia balas tersenyum. “Pasti!” sahutnya mantap.

-***-

Saskia tersenyum tipis. Keputusan sudah ditetapkan. Hidup ini memang seperti sekotak coklat, kamu tak akan pernah tahu apa yang kelak akan kamu dapatkan, gumam gadis manis itu lirih, mengulang ungkapan Tom Hanks pada “post-it” Ria.

Diliriknya lagi monitor komputer dihadapannya. Kepuasan menggayuti batinnya.

Ada email buat “seseorang” di file “Sent Item”-nya. Ia baru saja mengirimkan email penting pada lelaki itu. Sebuah Puisi:


Adakah kerlip bintang di langit

dan spektrum cahayanya yang berkilau

menerangi jernih bola matamu

adalah tanda

harapan masih terbersit disana?

Setelah luka kehilangan itu perlahan pudar jejaknya

dan kita kembali mengais-ngais remah-remah kenangan

yang tersisa

lalu menyatukannya kembali di kanvas hati

“Rindu selalu bisa melenyapkan jarak, juga pilu,” katamu pelan

Kita lantas merayakan kesempatan itu

dengan menatap langit malam bersama

mengamati setiap pijar noktah bintang

yang pendarnya membasuh lembut perih batin

dari dua tempat yang berbeda

hingga rintih ratap

lenyap mengendap

Pada akhirnya, memang,

kita tak bisa memutar waktu kembali

pada titik dimana kita menginginkannya

dan ketika bentang jarak antara kita

kian jauh menggapai cakrawala

kuhayati setiap pancaran bening nuansamu

bagai mendekapmu erat

dalam mimpi yang tak berkesudahan

images (1)“Ini untuk dia, yang pergi membawa kelam dihatinya,” suara perempuan itu bergetar di ujung telepon. Aku menggigit bibir seraya menatap Sonny, sang operator lagu pasanganku, yang balas menatapku dengan senyum maklum. Seperti biasa. Setiap kali perempuan itu menelepon.

“Tolong Mas, putarkan saja kembali lagu itu. Aku ingin mengenang sosok yang pernah lekat dibatin itu kembali, selalu,  lewat radio ini, sama dengan yang sudah aku lakukan pada malam kemarin, juga malam-malam sebelumnya”, lanjut perempuan tersebut dengan suara lirih. Isak tangis terdengar diantara kalimat-kalimatnya.

Aku menghela nafas panjang.

Rasa kesal dan juga kasihan bercampur aduk jadi satu dalam batin. Untuk kesekian kalinya, dia merahasiakan siapa gerangan lelaki yang setiap malam ia bingkiskan lagu “Soledad” yang didendangkan begitu melankolis oleh kelompok vokal Westlife tersebut. Dan perempuan itu, setiap malam selama dua minggu terakhir ini (kecuali malam senin) saat acara “Midnight Song” diudarakan pasti menelepon pada suatu waktu selama acara itu berlangsung dan senantiasa meminta lagu yang sama.

“Tapi mbak..lagu ini sudah diputar berulang kali hampir tiap hari di stasiun radio kami atas permintaan mbak sendiri. Para pendengar kami yang lain tentu saja akan..”, mendadak kalimat saya terpotong.

“Aku tahu itu Mas,”tukas perempuan tersebut. “Namun tentu acara ini dibuat untuk mengakomodir permintaan setiap pendengar radio termasuk aku kan’? Tidak perduli seberapa sering aku memintanya dan juga lagu apa yang aku harapkan untuk diputar”

“Anda benar Mbak, tapi, beberapa pendengar kami menyampaikan keluhan atas permintaan anda yang aneh ini: meminta lagu yang sama setiap kali acara ini berlangsung dan selalu hanya untuk “dia yang pergi membawa kelam di hatinya”. Ini aneh dan tentu mengundang tanda tanya dibenak kami semua serta para pendengar setia radio “Aura FM”. Apakah anda tidak berkeberatan kiranya membagi kisah anda tentang “dia” serta hal-hal yang melatarbelakangi mengapa anda sering memesan lagu “Soledad”setiap kali  menelepon kesini?, Ya..paling tidak ini akan menjawab rasa penasaran dan meminta mbak untuk berbagi duka, siapa tahu ada yang bisa memberikan solusi terbaik “, aku mencoba menjelaskan dengan suara setenang mungkin.

Read More…

Catatan Pengantar:

Narsis kali ini saya angkat dari Cerpen saya yang dimuat (sekaligus menjadi judul utama kumpulan cerpen Blogfam yang diterbitkan Gradien Mediatama tahun 2006 dalam judul “Biarkan Aku Mencintaimu Dalam Sunyi – Email terbuka seorang selingkuhan”).

Dengan sedikit penyuntingan seperlunya, saya tayangkan kembali disini.

Selamat Membaca

—————————-

KEKASIHKU, jika engkau membaca e-mail ini, cobalah untuk mulai belajar melupakanku. Aku tahu kenyataan itu memang pahit dan berat buatmu, terlebih lagi buatku.

Masih teringat jelas dalam benakku saat pertama kita bertemu, pada sebuah akhir pekan yang basah diguyur hujan seharian, dalam café yang temaram diiringi tembang jazz melankolis. Kamu datang kearahku dangan pesona kemilau kelelakianmu yang segera memporak-porandakan hatiku seketika dalam hitungan detik. Aku tak sempat berkata apapun, saat dengan sopan dan bersahaja, kamu mengajakku melantai.

Tanganmu yang kekar memegang lembut bahuku dan harum nafasmu menggetarkan seluruh urat dalam tubuhku yang dahaga oleh cinta, saat kita berdansa dalam remang lampu café yang romantis. Hatiku tak mampu memungkiri bahwa, aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama. “Jadilah kekasih rahasiaku,” katamu di ambang pintu apartemen saat mengantarku pulang pada malam berkesan itu. Kamu lantas mencium dahiku dengan lembut, tanpa perlu menunggu persetujuanku lebih dulu. Jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya.

Sebuah fenomena yang tak pernah aku rasakan dari lelaki manapun yang pernah singgah dalam relung hatiku selama ini. Aku tak punya kekuatan apapun untuk menolak permintaanmu meski aku tahu sesungguhnya kamu telah memiliki keluarga yang dengan cemas menunggumu dirumah. Aku begitu terlena olehmu dan gelora gairah purba yang tiba-tiba muncul dalam diriku telah menghempaskan kita berdua dalam lautan petualangan cinta tak bertepi.

Read More…

takdirPengantar:

Narsis kali ini saya persembahkan untuk sahabat saya Daeng Toto yang sangat menyukai lagu yang didendangkan oleh Rossa, Takdir Cinta Daeng Toto bahkan memasang lagu ini sebagai theme song di blog MP-nya yang baru dibuat 2 minggu lalu itu. Daeng Toto sendiri adalah kawan seperjuangan saya satu angkatan ketika masih menjadi mahasiswa di Jurusan Teknik Mesin Unhas Makassar dan pernah menjadi rekan sekantor saya di sebuah pabrik di kawasan industri Pulogadung sekitar tahun 1995-1996.

So, this story dedicated for you, my friend!

Selamat menikmati ..

——————-

Perempuan Wangi Bunga itu mengerjapkan mata, ia lalu membaca kembali baris-baris kalimat pada emailnya yang sudah siap dikirim ditemani lantunan lagu “Takdir Cinta” yang dinyanyikan oleh Rossa. Hatinya mendadak bimbang. Juga pedih.

Daeng Bening Langit yang baik,

Kahlil Gibran pernah berkata, Keindahan adalah kehidupan itu sendiri. Keindahan adalah keabadian yang termangu dihadapan cermin. Dan kita, sejatinya adalah keabadian itu, kitalah cermin itu.

Pernahkah Daeng merasakan keindahan yang demikian sejuk dan memukau sampai Daeng rasanya ingin menangis? Merasakan keindahan seperti itu menggedor-gedor dinding kesadaran paling dalam.Membuat kita terbuai, melayang dan masuk kedalam aura dan kesyahduan yang dihadirkannya. Tak terasa airmata menetes ketika rasa itu merayap perlahan, membelai hati. Tak terlerai.

Mengenangmu, Daeng, adalah salah satu hal yang kerap membuatku tak kuasa menahan tangis. Menghayati segala keindahan yang pernah kita alami bersama tak urung membuat kesedihanku terbit. Dan sungguh, menyesap aliran cinta yang datang darimu, dari hadirmu, dari matamu, dari lembut katamu, dari candamu, dari tawamu, membuatku damai, bahagia dan berharga Kamulah keindahan sejati itu.

Menyusuri kembali jejak-jejak yang pernah kita torehkan bertahun-tahun silam acapkali membuat dadaku disesaki keharuan.

Masih ingat ketika suatu hari kita menikmati senja di Pantai Losari, Daeng?

“Pernahkah kamu berfikir untuk berusaha menepis takdir? “, tanyamu pelan. Kata-katamu mengapung diudara, lalu hilang bersama desir lembut angin laut.

“Apa maksud Daeng?” tanyaku penasaran

Kamu lalu menghela nafas panjang seperti mengangkat sebuah beban berat menghimpit dada.

“Sebuah takdir yang bisa jadi tak pernah kita harapkan, yang membuat kita tak bahagia, yang membuat kita mesti menerimanya meski sekuat apapun kita mencegahnya datang, yang mungkin membuat kita menyesal berkepanjangan dan ingin kembali mengulang masa lalu ketika takdir tersebut belum tiba, lalu membuka lembaran hidup baru sesuai ekspektasi kita. Apakah menurutmu akan ada cara untuk menghalaunya atau, setidaknya menghindar, menjauh sampai ia tak bisa menjangkau kita?” sahutmu seperti tidak mengabaikan pertanyaanku. Read More…

M.F.E.O

4 huruf tersebut selalu tertera di akhir email lelaki itu.

Juga ketika mereka mengakhiri percakapan chatting didunia maya.

Made For Each Other, bisik lirih perempuan hening malam sembari menyunggingkan senyum. Matanya menerawang menatap langit langit kamar dan mengenang bagaimana pertama kali kalimat tersebut mewarnai harinya.

“Pernah nonton film Sleepless in Seattle belum?” kata lelaki bermata lembut itu seraya menatap manik manik matanya dengan tatap mesra. Mereka berdua tengah menikmati senja yang indah dan eksotis di pinggir pantai

Perempuan hening malam itu mengangguk. “Film yang komedi romantis yang dibintangi oleh Meg Ryan dan Tom Hanks itu kan’?” sahutnya cepat.

Lelaki itu tersenyum.

“Kamu tahu pada bagian mana dari film itu yang membuatku terkesan?”

Perempuan hening malam merenung sejenak, mencoba menggali kenangannya pada film yang ditayangkan pertama kali tahun 1993 ini.

“Adegan ketika Samuel bertemu pertama kali dengan Annie yang diperankan oleh Meg Ryan. Itu adegan yang sangat berkesan, terutama ketika si Tom Hanks terpana menyaksikan Annie melintas anggun didepannya,” tebak Perempuan hening malam dengan mata berbinar.

“M.F.E.O” ucap lelaki bermata lembut sembari mengeja satu satu keempat huruf itu dengan hati-hati.

“Apa itu?” tukas perempuan hening malam

Lelaki itu terkekeh pelan.

“Kamu berarti tidak menyimak dengan baik film itu, kayaknya justru terlalu mengagumi ketampanan Tom Hanks deh,” godanya dengan kilat mata jenaka.

Read More…

hujan2-300x172Lelaki itu menghirup cappuccinonya.

Menyesap segala rasa yang menyertai dengan perih menusuk dada.

Ia lalu melirik jam tangannya. Sudah 2 jam lebih dia di Cafe tersebut. Sambil menghela nafas panjang ia melihat ke arah luar melalui jendela berbingkai lebar disampingnya. Gerimis menyiram bumi. Irisan-irisan tipis air itu menerpa kaca yang membuatnya buram.

Juga membuat wajahnya kian muram.

Ini adalah cangkir ketiga.cappuccinonya. Untung saja ia ditemani laptop pribadinya yang dapat digunakan untuk menjelajah dunia maya dengan akses wi-fi di cafe tersebut.

Menunggu memang sebuah pekerjaan yang membosankan, namun baginya, menanti perempuan bermata kejora, selalu menimbulkan sensasi tersendiri dan membuat waktu selalu akan menjadi lebih bersahabat. Selama apapun itu.

Namun tak urung, setelah 2 jam berlalu dan tenggorokannya mulai terasa pahit setelah menelan dua cangkir gelas cappuccino, membuatnya sedikit senewen. Tapi tak apa, ia berusaha berdamai dengan diri sendiri. Demi perempuan yang menyimpan bintang kejora dimatanya itu, selalu saja ada pengecualian dan maaf tak bertepi.

Ia ingat, secara tak terduga, perempuan yang pernah menyimpan separuh hatinya dimasa lalu itu datang menyapanya lewat email 4 bulan silam.

“Gembira rasanya menemukanmu kembali lewat Facebook, lelaki pencumbu malam. Apa kabarmu?”

Masih selalu terngiang dibenaknya kalimat di email pertama perempuan itu yang seketika membuat jantungnya seakan meloncat keluar. Ia begitu bahagia dan tak menyangka, dunia maya mempertemukan mereka secara tak terduga.

Dan setelah itu, interaksi diantara mereka kembali terjalin setelah hampir 15 tahun berlalu. Mereka bercerita, tertawa dan saling berbagi rasa melalui komunikasi lewat internet.

Read More…

imagesKonon, katamu, secara zodiak kita berjodoh.

Aku berbintang Aries, Kamu Sagitarius.

Persis seperti nama depan kita : Aku Aries dan Kamu Sagita.
Cocok. Klop. Pas.

Kamu lalu mengajukan sejumlah teori-teori ilmu astrologi yang konon kamu mengerti dan menyatakan kita memiliki perilaku yang saling melengkapi.

Menurutmu, aku orang yang “grasa-grusu” alias suka terburu-buru sementara kamu digambarkan adalah sosok yang penyabar dan teliti.

Dilain pihak kamu adalah orang yang hati-hati dan relatif lamban mengambil tindakan, sedangkan aku sosok yang penuh energi dan vitalitas melimpah serta cepat mengambil keputusan. Meski kerap kali dengan sikap keras kepala dan percaya diri berlebihan, katamu sambil tersenyum.

Kamu sangat percaya bahwa, masih menurut ilmu astrologi yang selalu kamu baca dengan tekun itu, takdir telah mempertemukan kita sebagai sepasang kekasih yang saling menggenapi. Jodoh yang tak terlerai.

Aku tertawa dan meledekmu terlalu percaya hal-hal yang musykil. Aku tahu, setelah itu kamu pasti akan merajuk manja. Cemberut dan melipat tangan lalu menoleh ke arah lain. Pura-pura tidak mempedulikanku yang berusaha merayumu dan tentu saja, berkompromi dengan membenarkan teori perjodohan berdasarkan zodiak kita itu.

Dan begitulah, seperti biasa, kita mengulang ritual pacaran malam mingguan ini secara rutin :menikmati bintang di langit.

Sebuah aktifitas yang kita sukai dan tak pernah bosan kita lakoni. Ketimbang nonton film di bioskop mendingan menonton bintang, begitu katamu selalu.’

Aku manggut-manggut membenarkan, padahal dalam hati aku berkata, aku lebih menyukai “menonton” parasmu yang cantik bersinar saat memandang bintang. Melihat kerjap matamu, serupa cahaya kejora yang terindah. Yang dekat dan tak perlu capek-capek mendongak ke atas, membuat leher jadi sakit.

Aku ingat beberapa kali cubitan mesramu mendarat dipinggang ketika aku ternyata lebih banyak menikmati kecantikan wajahmu daripada pesona cahaya “si ratu malam”.

Di teras depan rumahmu kita berdua memandang kerlap-kerlip bintang yang bercahaya indah di lanskap langit. Seperti malam itu.

Read More…

images (1)Pengantar :

Setelah Saberin (Kisah Bersambung Interaktif) saya mencoba sebuah ekspresimen penulisan lagi yang saya beri nama Narsis atau Narasi Romantis.

Tulisan Narsis berupa rangkaian prosa puitis pendek dan (diharapkan) akan membawa nuansa romantis bagi para pembacanya. Saya akan mengusahakan untuk menghadirkan Narsis setiap minggu. Dikala saya sempat dan tentu jika tak diburu tenggat. Selamat membaca.

——————————————-

Aku kembali lagi disini, perempuanku.

Pada tempat dimana semua kenangan itu pernah berasal.

Juga ketika kehilangan itu berawal.

Ada lanskap kesunyian bertahta merajam langit, saat jejak kakiku ragu terpacak. Dan kesenyapan itu kembali mengiris-ngiris hati saat menyadari kita tak melaluinya lagi bersama, seperti dulu. Aku masih merasakan wangi kibasan rambutmu usai keramas menyapa hidungku begitu dekat. Aku ingat, ketika itu, kau tersipu malu saat kukatakan dengan spontan dalam degup jantung menderu, dua helai rambutmu yang basah dan jatuh menimpa kening putihmu membuatmu bertambah cantik.

Aku sudah lama berdamai dengan kesendirian. Berlayar di samudera kesedihan serta merasakan angin buritan menampar wajahku yang sedapat mungkin mencari-cari dermaga dari balik kabut, dimana kau menungguku disana dengan segunung cemas dan rindu membuncah.

Tapi semuanya sia-sia. Seperti rasa putus asa yang menggayutiku sepanjang musim. Seperti kecewa yang luruh satu-satu bagai daun yang layu meranggas. Seperti sajak-sajak pilu yang kutulis dengan derai airmata lalu kukirim padamu bersama lampiran sepotong asa, lewat angin malam yang berdesir lembut dari jendela kamarku.

Aku memang sedikit tersesat, gamang dan mengalami disorientasi lokasi ketika tiba lagi disini. Menelisik kembali ruang-ruang rindu yang pernah kita lalui dulu, memang tak mudah, terlebih dengan hati patah. Dan aku berusaha menghadirkan sosokmu kembali , saat kita pernah menikmati senja dibalut rintik gerimis serta selarik pelangi menghias digaris batas cakrawala. Aku mengenang, pandanganmu tak pernah sekalipun lepas dari pemandangan indah itu.

Read More…

July 2017
M T W T F S S
« Jun    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Profil di LinkedIn

Arsip

My Karaoke @ SoundCloud

Kicauanku di Twitter

Creative Commons License

Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 3.0 Tanpa Adaptasi. Silakan anda mengambil atau mengutip sebagian maupun seluruh isi blog ini asalkan jangan lupa mencantumkan sumber asli tulisannya. Terimakasih atas pengertian anda

Recent Comments

    My Instagram

    Good Reads Book Shelf

    Amril's books

    Nge-blog Dengan Hati
    3 of 5 stars
    Blogisme ala Ndoro Kakung Judul Buku : Ngeblog Dengan Hati Penulis : Wicaksono “Ndoro Kakung” Editor : Windy Ariestanty Penerbit : Gagas Media, Terbitan : Cetakan pertama, 2009 Jumlah Halaman : 142 Di ranah blog Indonesia, nama N...

    goodreads.com

    Page Rank Checker

    Free Page Rank Tool Pagerankchecker.com — Check your Pagerank Website reputation
    Alexa rank,Pagerank and website worth
    Powered by WebStatsDomain
    Blog

    Live Traffic Feed