(Narsis) Sisa Hujan di Matamu
Langit sore itu tidak benar-benar gelap, tapi juga tak pernah bisa disebut terang. Abu-abu, seperti perasaan yang dipaksa diam terlalu lama. Raka berdiri di halte yang sama seperti tiga tahun […]
» Read moreMeretas Harapan, Merawat Kewarasan
Langit sore itu tidak benar-benar gelap, tapi juga tak pernah bisa disebut terang. Abu-abu, seperti perasaan yang dipaksa diam terlalu lama. Raka berdiri di halte yang sama seperti tiga tahun […]
» Read moreDi usia enam puluh tujuh tahun, Wening belajar bahwa kehilangan punya banyak wajah. Ada kehilangan yang datang seperti gempa : tiba-tiba, mengoyak segalanya, meninggalkan puing yang butuh bertahun-tahun untuk dirapikan. […]
» Read moreAda yang aneh dari cara Dara dan Langit mencintai mimpi masing-masing , mereka terhubung justru karena impian mereka saling bertolak belakang. Dara ingin tinggal. Di kota kecil ini, di antara […]
» Read moreLangit sore itu berwarna tembaga, seolah ikut menahan napas bersama Arman yang berdiri di halte tua, tempat segalanya pernah dimulai. Sudah sepuluh tahun berlalu. Sepuluh tahun sejak ia dan Sinta […]
» Read moreMereka bertemu di waktu yang tidak direncanakan dan mungkin, tidak seharusnya. Jamal mengenalnya di sebuah perpustakaan kecil di sudut kota. Hujan sore itu turun pelan, seperti sengaja memperlambat dunia. Di […]
» Read more“Cinta sejati bukan tentang siapa yang kita pilih untuk hidup bersamanya — melainkan siapa yang tidak sanggup kita bayangkan hidup tanpanya.” — Kahlil Gibran Hujan turun tanpa permisi malam itu. […]
» Read moreHujan turun perlahan sore itu, seolah langit pun ikut mengingat sesuatu yang telah lama terkubur. Di sudut sebuah stasiun tua yang nyaris terlupakan, Arman duduk sendiri, menggenggam secarik surat yang […]
» Read moreNamanya Satria. Dan ia memang lahir untuk menjadi pejalan. Orang-orang di kampungnya dulu sering berkata bahwa anak itu punya kaki yang tidak bisa diam, seperti ada angin yang selalu menarik […]
» Read moreHujan turun perlahan sore itu, seperti sengaja memberi jeda pada dunia yang terlalu sibuk berpura-pura baik-baik saja. Raka duduk di sudut kafe yang dulu sering mereka datangi—tempat yang kini terasa […]
» Read moreHujan turun pelan di luar jendela kamar Aruna, seperti sengaja menirukan isi hatinya: tidak deras, tidak pula reda. Hanya jatuh, satu-satu, seperti kenangan yang tak pernah selesai. Di atas meja […]
» Read moreMalam selalu punya caranya sendiri untuk membuat manusia merasa kecil. Arga berdiri di tepi pantai, memandangi langit yang bertabur cahaya. Sejak kecil, ia percaya bahwa setiap orang punya satu bintang […]
» Read moreMereka tidak pernah benar-benar duduk berdampingan dalam satu ruang. Tidak pernah saling menggenggam tangan di bangku taman. Tidak pernah menatap mata satu sama lain cukup lama untuk tahu warna paling […]
» Read moreuni selalu datang dengan cara yang sama: diam-diam, membawa rintik hujan yang jatuh seperti kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Aku masih ingat sore itu. Langit berwarna abu-abu, dan kamu […]
» Read morerdi menatap layar laptopnya yang redup. Jam menunjukkan pukul dua dini hari. Di sekelilingnya, tumpukan berkas proyek yang tak kunjung selesai. Telepon genggamnya bergetar, panggilan kesembilan dari kakaknya malam ini. […]
» Read moreRintik hujan mulai membasahi kaca jendela kafe ketika Arga melihatnya berdiri di depan pintu. Delapan tahun. Tepat delapan tahun sejak terakhir kali matanya menatap sosok itu: Sari, dengan rambut yang […]
» Read moreku masih menyimpan pesan terakhirmu. Bukan untuk dibaca ulang, tapi untuk mengingat bahwa pernah ada kita yang begitu yakin akan selamanya. Kita bertemu tanpa rencana. Di ruang yang sederhana, dengan […]
» Read more