Category Archives: Resensi

Minggu (18/12), bersama istri tercinta, saya berkesempatan menonton film Mission Impossible IV (Ghost Protocol) di Studio 1 Blitz Megaplex Pacific Place. Hari itu, kedua anak kami sedang mengikuti outing ke Kidzania bersama teman-teman kursus Bahasa Inggris mereka. Selesai acara outing tersebut, rencananya kami berdua langsung menjemput Rizky dan Alya di Kidzania yang berada satu lantai dengan Blitz Megaplex.

Setelah membeli tiket masuk, kami lalu menuju ke Studio-1. Pemutaran film dimulai pukul 12.00 siang.

Setelah menonton 3 episode film Mission Impossible (disingkat dengan MI saja), saya  memiliki ekspektasi tinggi terhadap episode keempat ini,terutama pada nuansa ketegangan dan konflik yang senantiasa menjadi ciri utama film-film MI.

Dibuka dengan adegan kejar-kejaran antara Agen Trevor Hanaway (Josh Holloway) dengan sejumlah lelaki yang membuntutinya diatas atas sebuah gedung di Budapest, seketika memberikan kesan yang “menjanjikan” akan hadirnya adegan-adegan menegangkan yang akan memacu adrenalin penonton. Hanaway yang ketika itu membawa sejumlah dokumen penting yang ternyata adalah kode peluncuran rudal nuklir Rusia, dihentikan langkahnya oleh Sabine Moreau (Léa Seydoux), pembunuh bayaran yang selalu minta dibayar dengan berlian. Piranti canggih Hanaway sempat merekam wajah Sabine sebelum ia kemudian menemui ajalnya.

Adegan kemudian berpindah ke sebuah penjara di Moscow. Sang Jagoan, Ethan Hunt (Tom Cruise) tengah ditahan di penjara itu karena sebuah kasus. Benji Dunn (Simon Pegg) mitra Ethan bersama Agen Jane Carter (Paula Patton) berusaha membebaskan dengan melakukan penyusupan digital ke dalam sistem keamanan penjara. Usaha mereka berhasil, Ethan berhasil lolos dan mereka mendapatkan tugas untuk mendapatkan kembali dokumen penting tersebut sekaligus memburu sang dalang, Cobalt.

Read More…

Judul Buku : Cintaku Lewat Kripik Balado
Penulis : Linda Djalil
Prolog : Putu Wijaya
Epilog : Jodhi Yudono
Penerbit : Penerbit Buku Kompas , Juni 2011
Halaman : xii + 244 Halaman
Ukuran : 14 cm x 21 cm
ISBN : 978-979-709-577-2

Saya senantiasa menjadi penggemar karya-karya puisi mbak Linda Djalil di Kompasiana. Sebagai sesama penikmat dan pembuat puisi, kerapkali mantan wartawati senior Majalah Tempo yang lahir di Jakarta 23 Juni 1958 ini menandai saya dalam tautan menuju posting terbarunya lewat Facebook. Saya pun dengan antusias meng-klik tautan tersebut untuk segera membaca lalu mengomentari karya-karya tulisannya yang lugas, renyah dan penuh daya pukau tersendiri. Demikian pula sebaliknya, sayapun kerapkali menandai nama beliau di Facebook setiap kali membuat posting puisi baru di blog. Bahagia sekali rasanya jika mbak Linda melakukan kunjungan balik dan meninggalkan jejak komentar disana.

Dalam beberapa kali kesempatan kopdar Kompasiana saya selalu menjumpai sosok wanita yang ramah, rendah hati dan murah senyum ini. Hal yang senantiasa saya kenang adalah sapaan hangatnya : “Apa kabar Tukang Odong-odong? Kapan buat puisi lagi?”. Kami lalu tertawa renyah karena “Tukang Odong-Odong” merupakan julukan khas beliau kepada saya sejak saya memasang foto profil di Facebook mengendarai odong-odong bersama putri bungsu saya, Alya, beberapa waktu silam.

Read More…

ADELEInilah aksi “Tomb Rider” ala Perancis di awal abad 20-an! Demikian kesan saya seusai menonton “The Extraordinary Adventures of Adèle Blanc-Sec” (selanjutnya disingkat menjadi “Adèle”) akhir pekan lalu.

Film ini diadaptasi dari serial komik Perancis bertajuk sama karya Jacques Tardi. Kisahnya diawali dengan menetasnya sebutir telur pterodactyl (dinosaurus yang dapat terbang) berumur 136 juta tahun di sebuah museum di kota Paris. Telur itu dapat menetas setelah “dibangunkan” oleh kemampuan telepati Profesor Esperandieu (Jacky Nercessian).

Alhasil, seisi kota Paris pun gaduh. Terlebih setelah kehadiran burung purba itu mendatangkan korban seorang mantan pejabat. Presiden Armand Fallieres (Gerard Chaillou), yang awalnya menganggap pterodactyl itu hanya bualan, ikut panik setelah melihat langsung keberadaan hewan tersebut. Dia pun langsung memerintahkan pengusutan terhadap kasus itu.

Read More…

image-4cf85ab735950-Chris-Pine-unstoppable-movie-image-1-600x518

Ada begitu banyak ekspektasi besar berada di benak saya untuk penasaran menonton film”Unstopable” ini. Selain nama besar sang sutradara Tony Scott (Top Gun, Beverly Hills Cop II, Days of Thunder,Crimson Tide, Enemy of the State), juga tentu saja nama beken Denzel Washington sang pemenang Academy Award aktor pendukung terbaik dalam film Glory (1989) dan pemeran utama terbaik dalam film Training Day (2001). Terlebih keduanya pernah bekerjasama sebelumnya pada film Crimson Tide (1995) yang luar biasa menegangkan itu.

Read More…

“Murdock, ada paket film 3D untukmu, dari Annabele Smith!,” kata seorang perawat rumah sakit jiwa di Jerman pada seorang pasien bertopi baseball yang bertampang lugu.

Lelaki yang dipanggil itu mendadak terperangah, matanya yang jenaka dan cerdas terlihat berbinar terang.  “Saatnya sudah tiba, saatnya beraksi,” mungkin itu yang terlintas difikirannya. Senyum kemenangan terlihat diwajahnya.

Dan demikianlah, selanjutnya, kita lantas disajikan adegan laga yang sungguh ciamik dan spektakuler khas ala The A Team, sebuah film serial fenomenal yang begitu beken di Indonesia di tahun 80-an.

Film ini memang merupakan “remake” dari film seri terkenal itu. Saya selalu ingat, senantiasa menunggu aksi menakjubkan dari Hannibal Smith bersama anakbuahnya yang penuh kejutan dan lucu. Pertikaian antara BA Baracus dan si sableng Murdock, gaya Playboy si tampan Face menggoda wanita atau cara Hannibal mengisap cerutu dengan senjata tersandang di bahu masih melekat dalam ingatan saya.

Ketika akhirnya saya berkesempatan menonton film ini minggu lalu ada begitu banyak ekspektasi merajai benak. Tentu saja saya berharap menemukan kembali “spirit” para pahlawan-pahlawan masa kecil saya tetap menyala dalam film yang dibintangi oleh pemain-pemain baru ini. Dan, syukurlah, saya menemukannya. Malah terasa “jauh lebih gila, dashyat dan nekad” dibanding versi Televisi-nya dulu. Tentu saja karena semuanya didukung oleh teknologi film dan animasi yang telah maju demikian pesat saat ini, yang mampu menyajikan adegan spektakuler dan kerapkali tidak masuk akal. Karakter para tokoh juga terbangun dengan baik, paling tidak, saya kembali bisa bernostalgia menyaksikan bagaimana lucu dan nekadnya Murdock mengemudikan pesawat, kemampuan BA menghajar lawan-lawannya, cara Face merayu gadis yang diincarnya atau kehebatan tim ini membuat senjata dengan peralatan seadanya . Semua tersaji lengkap.

Aksi Liam Neeson, pemenang Oscar dalam film Schindler List, sebagai Kolonel Hannibal Smith sungguh memukau. Dengan cerdik ia merancang setiap aksi timnya secara teliti dan resiko minimal. Kepemimpinannya yang berwibawa dan juga jenaka, membuatnya sangat disegani oleh jajaran anak buahnya yang eksentrik : Templeton “Face” Peck (Bradley Cooper),  Baracas BA (Quinton “Rampage” Jaquemin),  dan HM “Howling Mad” Murdock (Sharlto Copley). Hadirnya Jessica Beihl yang memerankan agen Departemen Pertahanan AS Charisa Sosa yang juga mantan pacar Face, makin “mempermanis” kehadiran 4 jawara The A-Team. Di film ini, disajikan pula kisah mengapa sampai si kekar berambut ala Mohawk, BA Baracus, takut naik pesawat serta “sejarah” awal pembentukan tim pasukan khusus ex Ranger ini.

Dikisahkan dalam film yang diproduseri oleh Ridley Scott, Tony Scott, Stephen J. Cannell ini, Hannibal Smith dkk dijebak dan akhirnya dihukum atas aksi kejahatan yang tidak mereka lakukan. Setelah melalui aksi meloloskan diri yang tak terbayangkan, mereka lalu melaksanakan pengejaran pada orang yang telah mengelabui mereka sekaligus membersihkan nama baik yang sudah terlanjur tercoreng.

Di layar perak, adegan demi adegan berlalu cepat dengan ritme yang rapi. Saya sempat berdecak kagum pada beberapa adegan spektakuler seperti aksi mereka terjun dengan tank dari pesawat Hercules dengan dihujani tembakan dari pesawat jet robot, kejar-kejaran antar helikopter yang menegangkan dan akhirnya ditutup adegan  kolosal di akhir film yang menghadirkan pertempuran dashyat di terminal peti kemas. Semua tersaji begitu mengesankan dan menegangkan. Luar biasa!.

Penasaran mau nonton? Coba saksikan dulu trailer filmnya:

Judul Buku : Gaul Jadul (Biar Memble Asal Kece)

Penulis : Q Baihaqi

Penerbit : Gagas Media

ISBN : 979-780-346-5

Jumlah halaman : viii + 280 halaman

Cetakan : Pertama, 2009

Ukuran : 13 x 19 cm

Kenangan masa kecil dan remaja saya bagai terwakili dalam buku ini. Ya, seluruh isi buku ini merangkum segala hal-hal menarik seputar nostalgia era 80-an, mulai dari serial TV (“Rumah Masa Depan”, “Little House on the Praire”, The A-Team, dll), Musik, Dunia anak-anak, film, buku dan majalah hingga slogan-slogan yang terkenal di era jadul dulu. Beberapa kali saya sempat tersenyum-senyum sendiri seraya mengenang masa remaja seusai membaca artikel dalam buku yang dibuat oleh Q.Baihaqi yang juga menggagas Blog 80-an di tahun 2005 dimana sebagian besar artikelnya diambil dari blog ini.

Saat membaca artikel tentang serial TV terkenal “The A Team” misalnya, saya mendadak terkenang bagaimana saya dulu secara narsis, genit dan atraktif meniru-niru gaya rambut Templeton”Face” Peck (diperankan oleh Dirk Benedict) yang tampan dan playboy itu. Di sore hari, menjelang serial TV ini ditayangkan, saya dan adik lelaki saya Budi sudah bersiap-siap menanti The A Team beraksi membasmi lawan dengan kocak, lucu dan tanpa pertumpahan darah dengan “kata pengantar”nya yang menggetarkan : “If you Have A Problem, And No One Else Can Help, And If You Can Find Them, Maybe You Can Hire….. The A Team !” , lalu mengalunlah “theme song”-nya yang legendaris itu (Bila anda mau dengar, silahkan download disini)

Di artikel lain yang menulis tentang buku “Lima Sekawan” karya Enid Blyton, saya terkenang dulu ketika meminjam buku-buku koleksi perempuan yang menjadi “incaran” saya sebagai pacar di masa SMP dulu. “Bayaran” atas peminjaman buku itu cukup mudah kompensasinya : “si dia” minta diajari Matematika. Sebuah bentuk kompensasi yang sangat elegan, adil dan menyenangkan, tentu saja. Tokoh-tokoh 5 sekawan termasuk ringkasan cerita beberapa serialnya juga ditampilkan dalam buku ini.

Gaya bahasa yang ringan, ngepop dan santai membuat buku ini sungguh nyaman dibaca. Beberapa ungkapan spontan tercetus dan kian menambah “greget” buku yang diterbitkan bulan Oktober 2009 itu.

Pembaca buku ini seakan-akan dibawa ke dalam nuansa romantik era 80-an. Deskripsi yang disajikan cukup detail dan dilengkapi data-data pendukung yang valid. Ulasan lengkap soal Film “Catatan si Boy” misalnya disajikan mulai dari Catatan si Boy pertama (1987) hingga Ketiga (1989) komplit dengan sejumlah hal-hal unik dan menarik seputar film yang mengangkat nama Onky Alexander dan memulai debut pertamanya berakting di film ini.

Ulasan soal jajanan anak-anak di era 80-an juga dibahas dengan sangat menarik. mulai dari Wafer Superman (hmm..tiba-tiba jadi kangen merasakan kembali nikmatnya wafer jadul kegemaran saya ini) sampai permen Chelsea. Ada juga pembahasan soal permainan anak-anak jadul termasuk fenomena Game Watch yang begitu populer dan sangat digemari waktu itu.

Lagu-lagu populer yang dinyanyikan oleh artis-artis JK Records seperti Obbie Messakh, Dian Piesesha, Heidy Diana, Helen Sparingga, Ratih Purwasih dan lain lain juga dibahas dibuku ini. Kisah-kisah unik yang mengiringi album-album musik JK Records juga dipaparkan. Misalnya fenomena “deklamasi” Obbie Messakh ditengah-tengah lagu , Rinto Harahap dengan “Uwo..uwo..uwooo”-nya dan Pance Pondaag dengan ciri khas suara yang melengking. Juga tentu saja iming-iming hadiah kuis bagi pembeli kaset album JK Records ketika itu berupa : Mini Compo!.

Meski tidak semua kenangan 80-an tersaji lengkap dalam buku ini, namun saya melihat “puncak-puncak” legenda kejayaan era jadul 80-an terdokumentasi dengan baik. Sang penulis dengan piawai menampilkan kenangan-kenangan yang tak terlupakan dibenak saya–salah satu lelaki jadul 80-an–pada masa indah itu, dengan renyah dan memikat. Masih banyak hal yang sesungguhnya bisa dieksplorasi mengenai kenangan 80-an. Mudah-mudahan akan ada edisi lanjutan untuk buku ini.

Jadi, biar jadul dan memble, yang penting gaul dan kece… ya gak, Cing ?

Sumber foto

BUKUPANYINGKULJudul Buku : Makassar Di Panyingkul (Pilihan Kabar Orang Biasa 2006-2007)

Pengantar : Nirwan Ahmad Arsuka
Penerbit : Panyingkul, Cetakan Pertama, Juli 2007

Penyunting : Lily Yulianti Farid dan Farid Ma’ruf Ibrahim
Halaman : 366 Halaman

Bila anda hanya orang biasa, bukan wartawan atau pekerja media yang kerap berkutat-secara professional– dengan berita serta tetek bengek penayangannya, janganlah sungkan memberi kabar di Panyingkul dot com. Sebuah “sudut tak biasa” di dunia maya yang memberi bentangan ruang begitu luas bagi pewarta warga(Citizen Reporter) untuk berekspresi, berimpresi dengan segenap gairah serta beragam sentuhan emosi untuk mengabarkan banyak hal yang mungkin saja tak tersentuh bahkan malah “diabaikan” oleh Media Mainstream. Kabar yang menjadi sebuah representasi aktual atas praktek demokrasi partisipatif yang melibatkan warga biasa dengan tidak hanya bercerita dan melaporkan namun juga berbagi kesan, sekaligus berdialog secara interaktif dengan para pembaca, memanfaatkan teknologi internet. Lepas dari elitisme dan keangkuhan media mainstream yang kerap kali “terdikte” oleh “otoritas” sang pemilik media , “kecenderungan” orientasi pasar pembaca atau “sponsor” pesanan untuk pihak-pihak tertentu.

Read More…

June 2017
M T W T F S S
« Apr    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Profil di LinkedIn

Arsip

My Karaoke @ SoundCloud

Kicauanku di Twitter

Creative Commons License

Lisensi Creative Commons
ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 3.0 Tanpa Adaptasi. Silakan anda mengambil atau mengutip sebagian maupun seluruh isi blog ini asalkan jangan lupa mencantumkan sumber asli tulisannya. Terimakasih atas pengertian anda

Recent Comments

    My Instagram

    Good Reads Book Shelf

    Amril's books

    Nge-blog Dengan Hati
    3 of 5 stars
    Blogisme ala Ndoro Kakung Judul Buku : Ngeblog Dengan Hati Penulis : Wicaksono “Ndoro Kakung” Editor : Windy Ariestanty Penerbit : Gagas Media, Terbitan : Cetakan pertama, 2009 Jumlah Halaman : 142 Di ranah blog Indonesia, nama N...

    goodreads.com

    Page Rank Checker

    Free Page Rank Tool Pagerankchecker.com — Check your Pagerank Website reputation
    Alexa rank,Pagerank and website worth
    Powered by WebStatsDomain
    Blog

    Live Traffic Feed